
Sely membawaku ke sebuah rumah, dari luar rumah itu nampak sepi. Mungkin yang punya rumah sedang keluar karna kami mencoba mengetuk-ngetuk pintu tapi tak ada yg merespon.Sely mencoba menghubungi yg punya rumah lewat telpon tapi ada jawaban.
"Mungkin orangnya gak ada kali Sel" ucapku
"Masa gak ada sih, orang sebelum kita berangkat dia ngabarin katanya dateng aja kerumahnya"
"Tapi dari tadi gak ada yang jawab, lampu dalamnya juga mati"
Sely mencoba mengetuk dengan keras tapi tetap tak ada jawaban, namun saat ia mencoba membuka pintu ternyata pintunya tidak di kunci.Kami saling pandang dan memutuskan menengok ke dalam.
"Permisi...... "
Ucap Selu seraya perlahan mendorong pintu, ruangannya begitu gelap sehingga kami tidak dapat melihat apa-apa.Dan Dooooorrrr tiba-tiba sebuah suara mengejutkan kami bersamaan dengan menyalanya lampu.Butuh beberapa detik bagiku agar bisa melihat dengan jelas.
"Happy birthday Sely... "
Teriak dua orang pria di hadapan kami, mereka mengenakan topi pesta dan salah satu diantara mereka memegang kue dan yang lain terompet yang terus di bunyikan.Sely tertawa senang setelah terkejut tadi dan kemudian memeluk mereka bergantian.
"Thanks kawan-kawan, aku kira kalian gak ada di rumah... dasar bikin aku kesel aja ampe kaget"
"Sory sory ini nih idenya Damar dia bilang kita bikin kejutan buat kamu, lagian gak seru donk kalau hari ultah gak ada kejutannya" ucap orang yang meniup terompet berulang-ulang.
"Iya sory, tapi kamu seneng kan udah kita kasih kejutan dan kue" jawab pula pria yg memegang kue
"Iya aku seneng... makasih"
"Ok kalau gitu ayo tiup lilin dan potong kuenya" ucapnya pria itu lagi.
"Sebentar sebelum tiup lilin dan potong kue, aku kenalin dulu temen aku Kak Mely" ucap Sely memperkenalkan ku.
Aku maju dan berjabat tangan dengan pria yg meniup terompet seraya memperkenalkan diri lagi.
"Hai, Mely"
"Hai juga,, aku Afdal dan ini Damar" jawabnya sambil memperkenalkan yg lain.
Aku hanya tersenyum pada Damar karna tidak bisa menjabat tangannya, dia pun membalas dengan senyuman pula. Sely terlihat senang setelah kami berkenalan dan ia pun segera menutup mata berdoa sebelum akhirnya meniup lilin.
__ADS_1
Satu persatu dari kami dia suapi kue ultahnya, dan kami muali bercanda menjaili Sely dengan mencoreng mukanya dengan kue, awalnya dia memasang raut wajah marah tapi lalu tertawa bahagia.
Setelah lelah bercanda kami pun duduk berkeliling menonton Sely yang sibuk membongkar kado.
"Hei gimana kalau kita buat permainan" ucap afdal memberi ide.
"Permainan apa? " tanya kami.
Afdal segera menyuruh kami membuat lingkaran lalu di simpan nya sebuah botol di tengah-tengah kami.
"truth ordare" jawab afdal
"Kita akan putar botol ini dan siapa pun yang di tunjuk oleh botol ini maka dia akan di tanya truth ordare, jika dia memilih truth maka dia harus mengakui sesuatu yang belum pernah di ketahui orang lain, dan jika dia memilih dare yang lain akan membuat permainan agar bisa menentukan siapa yang boleh memberinya tantangan" jelas afdal.
Kami mengangguk-angguk mencerna penjelasan nya agar paham dengan baik, lalu afdal mengeluarkan tiga batang kayu kecil yang salah satu di ujungnya ada tanda merah.
"Jadi jika ada yang memilih dare maka yang lain akan memilih satu batang kayu barang siapa yang mendapat tanda merah di kayunya maka dia yang berhak memberi tantangan, bagaimana? kalian setuju? "
"Setuju... " teriak kami bersemangat.
Sely yang tahu hal itu langsung muntah jijik sedang yang lain tertawa geli, dengan marah Sely mengacak-ngacak rambut Afdal dan menuduh ia sengaja membuat permainan ini agar ia mengakui semua kejahilan nya tanpa harus di hukum.
Butuh beberapa menit agar Sely tenang dan kami pun melanjutkan permainan, awalnya kami semua memilih truth sampai rasa bosan pun melanda dan saat Damar yang kena tunjuk akhirnya dia memilih dare.Dengan antsias kami segera memilih sebatang kayu dan yang mendapat tanda merah adalah Afdal.
Ia bersorak penuh kemenangan, dan Damar memasang wajah khawatir. Kami sudah tahu bahwa Afdal sangat jahil dan sekarang dia bisa memerintahkan apa pun tanpa takut di marahi atau di tentang.
"Oke, pilihan tepat kawanku dan sekarang ikuti perintah Raja... lu...... harus...... buka baju" teriak Afdal semangat.
Damar mengerang enggan tapi dia tak bisa menolak, dengan perlahan dia menyingkap baju yang ia kenakan, setiap detiknya terasa mendebarkan hingga akhirnya Damar menanggalkan pakaiannya.Otot dada yang kekar terlihat eksotis di kulit coklatnya, aku baru sadar bahwa Damar memiliki tubuh yang atletis.
Dengan sedikit malu Damar mencoba bersikap biasa saja, tapi saat sadar bahwa aku dan Sely sedang memperhatikannya wajahnya langsung merona. Kami melanjutkan permainan dan sialnya aku yang kena.
"Truth" ucapku memilih
"Ah ayolah ka masa truth terus sih dari tadi dare donk" ucap Sely memprotes
"Gak aku maunya truth"
__ADS_1
"Ayo donk Mel, masa kalah sama Damar sih, dare dong Mel" ucap pula Afdal
"Dare... dare... dare.. dare.. " teriak mereka bertiga mendemo, karna kalah jumlah akhiry aku memilih dare.
Sorak sorai penuh kemenangan membahana di ruangan, ketiga orang itu pun memulai menarik batang kayu dan anehnya Afdal mendapatkan tanda merah lagi.
"Kamu curang ya, ko dari tadi kamu terus sih yang dapet" tanyaku memprotes karna aku tahu nasibku sedang buruk
"Eh eh, jangan fitnah ya...kan kita narik di depan mata kamu"
"Tapi dari tadi kamu yang dapet tanda merah terus"
"ya berarti gue lagi beruntung"
Aku ingin membantahnya lagi tapi kehabisan kata-kata karna memang dia menarik di depan mataku.
"Ya udah, tapi jangan nyuruh yang aneh-aneh ya"
"No no no... ucapan raja harus di ikuti"
"Tapi kalau di suruh buka baju aku gak mau"
Tawa meledak seketika saat mereka mendengar protes ku, aku beringsut malu sadar bahwa aku sedang menjadi bahan tertawaan yang lain.
"Ucapan raja itu mutlak... " ejek Afdal
"Afdal aku gak mau, itu gak boleh di lakuin"
"Kak Mely kak Mely... kak afdal juga tahu kali kalau itu gak boleh di lakuin.. itu kan sama aja pelecehan" ujar Sely sambil tertawa
"Tapi Afdal nyuruh gitu sama Damar"
"Itu karna gue cowok, lagian cuma buka baju doang. Lumrah kan kalau cowok gak pake baju" terang Damar menimpali.
Pipi ku memanas saat sadar betapa bodohnya aku, apalagi Afdal yang tak melepaskan penglihatannya dariku.Rasanya wajahku sudah habis terbakar.
"Jika kamu gak mau sekarang gak masalah, aku bisa menagihnya nanti.Tapi ingat ucapan raja itu mutlak" ucap Afadal padaku.
__ADS_1