
Nadin terus saja mencoba menghubungi Mely, tapi satupun panggilan tak pernah dijawab, bahkan semua pesan yang Nadin kirimkan tak di baca.
Sampai akhirnya mereka tiba di bandara, kak Afdal segera mengecek jadwal keberangkatannya. Di saat semua orang ricuh dan bercanda, mencoba melepas kepergian kak Afdal dengan suka cita tanpa air mata Nadin masih sibuk saja dengan ponselnya.
"Ah tuh kan gara-gara kalian sih nih berangkatnya terlalu dini, jadwal berangkat gue sejaman lagi masih lama tahu" ucap Kak Afdal menuduh.
"Yaelah gapapa kali dal, lebih baik lu nunggu daripada ketinggalan pesawat" jawab kak Damar.
"Iya sih, tapi masih lama mau ngapain coba gue sejaman di bandara kan bosen"
"Gak bakal bosen, kan ada kita yang nemenin lu" ucap pula kak Deni.
"Kamu kenapa sih nad, ko dari tadi kayak yang risau gitu" tanya kak Damar pelan sadar ada yang aneh pada Nadin.
"Hah, enggak ko, enggak kenapa-kenapa" jawab Nadin kikuk.
"Serius? ekspresi kamu gak bisa bohong lho"
"Ehmmm, enggak aku cuma mikir kira-kira Mely bakal datang gak yah, padahal aku ngarepin Mely bisa hadir disini juga"
"Owh, ya positif thingking aja, mungkin Mely lagi di perjalanan nyusul kita."
Nadin tersenyum mendengar ucapan kak Damar, didalam batin ia sangat berharap bahwa Mely benar-benar akan datang.
* * *
Lanjut pada hidangan utama yang merupakan makanan sefood, Mely hanya menjawab alakadarnya dan tersenyum sesekali menanggapi setiap ucapan atau pertanyaan dari Jordan di tengah santap mereka.
Ia sudah tak betah berlama-lama duduk di hadapan Jordan, mungkin karena ia sudah terlampau muak dengan sandiwara yang selama ini dia mainkan.
"Jordan, aku sudah kenyang makan, bisakah kita melakukan hal yang lain?" tanya Mely.
"Apapun permintaan mu adalah titah bagi hamba" jawab Jordan menunduk.
Rasanya Mely pernah mendengar kalimat serupa yang di ucapakan Jordan.Benar, kini ingat saat pertama kali bertemu kak Afdal, dimana mereka memainkan permainan truth ordare dan Mely harus menerima tantangan yang di berikan kak Afdal.
Sangat jelas suara dan mimik muka kak Afdal yang menyatakan 'ucapan raja adalah mutlak'.Kak Afdal yang menjadi raja dalam sehari, menyuhnya membatu memasak karena keluarganya akan pulang.
Saat itu, setelah bertemu orangtua kak Afdal Mely baru tahu bagaimana sifatnya yang asli.Sosok Afdal yang tak pernah muncul ke permukaan di hadapan orang lain, tiba-tiba Mely ingat bahwa hari ini kak Afdal akan pergi ke Jepang dan tak akan pernah kembali.
"Mely... " panggil Jordan yang tahu menahu sudah ada di samping Mely sedari tadi.
__ADS_1
"Kamu lagi mikirin apa?" tanya Jordan sadar bahwa Mely melamun sedari tadi.
"Bukan apa-apa" jawab Mely menggeleng.
Tangannya pun menyambut tangan Jordan yang sedari tadi terulur padanya.Mereka berjalan di tepi pantai dan menikmati suasana romantis bersama. Hingga Jordan membawanya pada satu tempat di mana sekelompok orang sedang memainkan musik klasik.
Dengan gaya bak pangeran Jordan mengajak Mely berdansa, meski canggung tapi akhirnya Mely mau juga.
"Ada apa sayang?" tanya Jordan karena beberapa kali Mely salah gerakan.
"Aku, aku tidak bisa berdansa" jawab Mely.
"Tidak mungkin! bukankah kamu sangat pandai menari?" tanya Jordan.
Mely melepaskan genggaman Jordan dan mundur beberapa langkah, Jordan yang kebingungan menyuruh para pemain musik berhenti dan pergi.
"Apa yang kau ingat tentang aku?" tanya Mely saat mereka hanya tinggal berdua.
"ah, kamu tahu aku amnesia jadi tak banyak yang aku ingat" jawab Jordan sedikit tersenyum.
"Katakan apa yang kau ingat!" perintah Mely.
"Aku tidak yakin tapi samar-samar aku ingat kamu suka makanan laut, kamu suka hal-hal romantis, kamu suka berdansa dengan musik klasik."
"Aku suka hal-hal yang berbau horor, aku lebih suka makanan pedas dan kopi, aku tidak berdansa dan musik yang ku suka lebih ke pop."
Jordan tertegun, tak percaya semua yang ia kira benar adalah salah.Karena ucapan Mely ia akhirnya ingat bahwa mereka pernah nonton film horor dan karena hal itu Mely tahu bahwa dirinya penakut, sejak saat itu Mely membuka diri padanya.
"Mungkin yang kau ingat bukan tentangku, tapi tentang Dina" ucap Mely.
Kakinya segera melangkah pergi meninggalkan Jordan sendiri yang masih kebingungan.Takdir Mely hanya singgah untuk pergi lagi dalam hidup Jordan, mungkin Jordan mengatakan cinta karena yang dia ingat adalah Mely, tapi jauh di bawah alam sadarnya hanya Dina untuk Jordan.
Seorang istri yang siap melayani, yang telah berkorban banyak dan menyerahkan seluruh jiwa dan raga.
"Mely... tunggu kamu mau kemana?" teriak Jordan memanggil.
Tapi Mely tak berhenti justru ia berlari lebih kencang lagi, tiba di jalan raya ia pun menghentikan sebuah taxi dan masuk ke dalam, Jordan yang melihat segera menyusul dengan mobil miliknya.
"Aku harus pergi, mudah-mudahan kak Afdal belum berangkat" gumamnya dalam hati.
"Pak tolong percepat ya jalannya" ujar Mely pada sang supir.
__ADS_1
Taxi melaju dengan sangat cepat, mengantar Mely pulang.Hingga tiba dengan kasar Mely menutup pintu mobil dan menyuruh supir untuk menunggu.
"Mely? kok udah pulang? mana Jordan?" tanya ibu Jordan heran.
Tanpa menggubris pertanyaan ibu Jordan Mely terus berlari ke kamar dan membenahi semua barang-batangnya, saat ia hendak memasukkan ponselnya ada banyak panggilan tak terjawab dan pesan masuk dari Nadin yang terpampang di layar kaca.
Dengan cepat Mely membuka pesan yang paling baru, ternyata isinya adalah berita bahwa kak Jordan akan berangkat hari ini dan penerbangannya masih sejaman lagi.
"Aku masih punya waktu" ucap Mely senang.
* * *
Dari kejauhan Jordan bisa melihat sebuah taxi yang parkir di depan rumahnya, tak salah lagi itu adalah taxi yang ditumpangi Mely.
Begitu tiba di rumah ibunya sudah menunggu di depan dengan wajah bingung.
"Ibu apa Mely ada di dalam?" tanya Jordan.
"Ada, dia masuk ke kamar.Kamu ada apa sih sama Mely? ko Mely tiba-tiba pulang dengan wajah cemas gitu"
"Aku gak tahu bu, tadi Mely bilang kalau aku salah ingat, katanya selama ini yang aku ingat itu kesukaan Dina bukan Mely"
"Ko bisa? ya udah kamu susul gih ke dalam, bujuk dia"
"Baik bu" jawab Jordan dan segera pergi.
"Dasar anak muda, salah paham dikit pasti berantem, sebaiknya aku keluar aja dulu kali ya.Kasih waktu mereka bicara" gumamnya dan pergi keluar rumah menjauhi dua sejoli yang dia pikir sedang terbakar api cemburu.
Alangkah kagetnya Jordan melihat Mely membenahi semua barang-batangnya kedalam tas.Ia tak pernah mengira Mely bisa sebegini nekatnya jika sudah cemburu.
"Sayang... kamu mau kemana?" tanya Jordan lembut.
"Aku harus pergi" jawab Mely tanpa menoleh.
"Mely, kita bisa bicarakan ini baik-baik, aku tahu aku salah tapi gak seharusnya kamu main pergi gitu aja.Kamu tahu sendiri aku amnesia aku gak bisa ingat betul semua kesukaan kamu."
Diam tak bicara, selesai berbenah Mely segera pergi melewati Jordan.Kesal tak di hiraukan Jordan menarik tangan Mely dengan kasar dan berteriak.
"Mely..tolong jangan seperti anak kecil"
"Kaulah yang selalu menjadi anak kecil" balas Mely teriak.
__ADS_1
"Kau selalu minta di maafkan, kau selalu minta di mengerti, kau selalu minta manja.Kau begitu egois hingga meski kau yang berselingkuh tapi kau yang menuduhku bersalah" lanjut Mely mengagetkan Jordan.