
Masih terlalu dini untuk pulang tapi Sely menelpon dia ingin bertemu jadi aku minta Kak Deni untuk mengantarku pulang, sesuai janji Sely akan bertamu dan berniat menginap di kamarku.Setelah mendapat ijin dari tante Isma Sely datang saat malam semakin larut.
"Tumben kamu mau nginap ada apaan Sel?" tanya ku merasa aneh.
"Gak ada apa-apa, cuma sekali-kali pngen aja gitu nyobain tidur di tempat lain"
"Emang kamu gak pernah nginap di rumah orang gitu?"
"Orangtua aku gak pernah ngijinin, sekarang mereka ijinin karna kenal sama Kak Mel, katanya Kak Mel dewasa dan baik jadi mereka percaya aku pasti baik-baik aja kalau nginep di rumah ka Mel"
"Kamu cukup di manja ya sama orangtua kamu" ucapku sambil tertawa kecil.
"Emang Kak Mel gak, Kak Mel kan anak satu-satunya harusnya lebih di manja dong dari aku, kalau aku masih ada sodara dua ya walau pun cowok semua mungkin aku di manja karna anak cewek satu-satunya jadi wajar"
"Mungkin aku juga di manja, tapi karna sifat aku yang gak betah tinggal sama orangtua jadi gak berasa di manjanya"
"Oh iya kak Mel kan emang dari dulu tinggal sendiri ya di Jakarta" ucapnya dan aku mengangguk sebagai jawaban.
"Eh kak Mel tadi jalan kemana sama Kak Deni?"
"Ya biasa jalan-jalan ngabisin bensin terus beli makan minum udah"
"Owh... "
"Kenapa?" tanyaku karna ku lihat Sely seakan tak percaya pada apa yang ku katakan.
"Gak apa-apa aku cuma ngerasa kedeketan kalian beda aja, kayak...... kayak orang pacaran."
Tawaku meledak mendengar ucapan Sely, dengan bingung dia menatapku dan bertanya ada apa.
"Kamu ko kebawa gosip toko sih Sel, ya ampun kan kamu tahu selama ini kita temenan.Jangan kayak anak-anak lain deh" jawabku setelah bisa menguasai diri.
Kami berbaring di ranjang dan mulai terdiam satu sama lain, tiba-tiba aku ingat janjiku pada Kak Damar jadi dengan hati-hati ku mulai ajak dia bicara.
"Sel kamu kepikiran gak pengen punya pacar kayak gimana?"
__ADS_1
"Emang kenapa? ko tiba-tiba nanya gitu"
"Kamu mikir gak, selama ini kita jalan terus sama temen beda kayak orang-orang mereka punya pacar, ada yang ngasih perhatian lebih ada yang selalu jagain"
"Owhh.. iya juga sih, pernah aku kepikiran juga nyari pacar tapi dengan punya temen cowok yang gokil-gokil dan selalu ada di saat senang maupun susah jadi gak minat tuh pacaran, aku maunya kalau udah jodo mening nikah aja langsung"
"Hah, kamu pengen nikah Sel?" tanyaku kaget.
"Ya enggak sekarang, cuma males aja gitu pacaran"
"Kenapa?"
"Gak apa-apa" jawabnya singkat.
"Trus kriteria cowok yang kamu mau yang kayak gimana?"
"Kalau aku sih gak netepin harus ganteng atau kaya, yang penting dia sayang sama aku dan keluarga aku itu udah cukup ko"
"Terus misalkan nih... ada anak vespa suka sama kamu gimana?" tanyaku hati-hati.
"Iihhhh... Sely maksud aku kamu terima atau gak?"
"Ya kalau jadi pacar aku gak mau Kak, tapi kalau dia niat serius ngajak nikah aku pertimbangin deh"
"Ko di pertimbangin dulu"
"Ya kan aku harus tahu dulu, orangnya kayak gimana dia bisa jadi imam yang baik gak, bisa terima aku dan keluarga aku apa adanya"
"Owh" jawabku mengerti.
Kabar ini tentu harus ku sampaikan pada Kak Damar, dia pasti senang karna memiliki peluang.Itupun jika dia mau serius menikahi Sely jika tidak mungkin selamanya akan di pendam perasaan itu.
Pernikahan ya, tak kusangka Sely akan menjawab begitu.Di mataku dia masih bocah tapi ternyata kurasa di sudah sanggup menjalani hidup berumah tangga.Andai saja waktu itu aku jadi menikah saat ini mungkin aku sedang mengandung, berapa bulan ya?
Aku tenggelam dalam lamunanku sendiri hingga tertidur pulas, pagi hari ini cukup mendung karna itu aku dan Sely memutuskan untuk berangkat lebih awal agar tak terjebak hujan.
__ADS_1
Tak kusangka saat tiba di toko kutemukan sebuah kotak kado di dalam loker ku, aku hendak membukanya tapi Sely sudah mengajakku masuk akhirnya ku urungkan niatku.
Karna hari ini hujan jadi tak banyak pengunjung yang datang, jadi kami bisa santai.
"Mely mumpung hari ini nyantai bantuin anak gudang beres-beres ya" perintah seorang senior padaku.
Dengan senang hati aku mengiyakan, jika kerja di gudang aku bisa bertemu kak Deni dan membuat Reni lebih cemburu. Aku lebih memilih membantu kak Deni mengeluarkan barang lama dan membersihkan rak yang penuh debu.
"Mel aku ambil lap dulu ya, kamu beresin barang yang udah di turunin aja dulu" ucap ka Deni dan pergi begitu saja.
"Rupanya peringatan ku tak membuatmu gentar ya" ucap Reni yang tiba-tiba datang.
"Oh kau rupanya, bisa bantu aku menurunkan barang? aku tidak kuat menariknya" tanyaku tanpa menggubris ucapannya.
"Heh, dasar kurcaci bilang saja kau tidak nyampe karna pendek bukannya tidak kuat" ucapnya sambil tersenyum sinis meledek.
"Baiklah aku akui aku tidak setinggi dirimu, jadi tolong ya... "
Dengan polosnya Reni mau saja membantuku, tanpa rasa curiga dia hanya perlu berjinjit sedikit dan menarik barangnya keluar, ku ulurkan tanganku siap menerima barang darinya, tapi dengan sengaja ku lemaskan tanganku sehingga barang yang ku terima tak sanggup ku tahan dan membuatku terjatuh.
Teriakanku keras menggema di antara rak-rak, sesuai perkiraanku kak Deni datang di waktu yang tepat, saat aku jatuh di lantai dengan barang yang menindihku. Rupanya teriakanku cukup keras hingga membuat yang lain datang juga.
Reni memandangku seolah tak percaya pada apa yang telah terjadi, aku meringis kesakitan dan tak mampu bangkit.
"kau... kau... " ucap Reni sadar tengah di jebak.
"Mely kamu gak apa-apa?" tanya Kak Deni menghampiriku.
Yang lain mulai ikut menghampiriku dan membantuku bangun, setelah menyingkirkan barang yang menindihku dengan hati-hati mereka memegang tangan dan pinggang ku.
"Aduhh... sakit" ucapku meringis.
"Hati-hati" ucap ka Deni.
Di belakang Reni karyawan lain yang melihat saling berbisik-bisik menyalahkan Reni yang dengan sengaja melakukannya, ada yang bila aku dibanting dengan barang, ada yang bilang Reni kehilangan akal, ada yang bilang harus lapor tante Isma langsung dan lain-lain.Tentu bisikan-bisikan yang memojokkan Reni membuatku puas, dengan hati-hati aku di bopong ke ruang kesehatan melewati Reni, ku lirik dia dan tersenyum tentu senyum yang hanya dia tahu, senyum kemenangan.
__ADS_1