
Kecemasan seorang ibu terhadap masadepan anaknya tanpa sadar sudah membuat Dina mengungkap kebenaran yang di rahasiakan dengan rapi.
"Mungkin maksud Dina anaknya, ibu sudah janji soalnya segala biaya anaknya bakal ibu tanggung dan uangnya ya ibu ambil dari gajih kamu, kan kamu selalu ngasih ibu uang nah uang itu yang ibu kasih buat biaya keperluan Dina" jawab ibunya mencoba berbohong sebaik mungkin.
"Benar begitu?" tanya Jordan pada Dina.
"I, iya maksud aku itu" jawab Dina gugup.Dalam hati ingin sekali ia ungkap kebanaran tentang bayi mereka itu tapi hingga detik ini pun ia masih takut kebenaran itu akan membuat Jordan kembali jatuh sakit.
"Owh, kalau masalah itu kamu gak perlu khawatir.Aku adalah orang yang tanggung jawab bagaimana pun juga jika ibu sudah berjanji akan menghidupimu dan anakmu maka aku juga pasti akan memastikan kalian tidak kekurangan apa pun" janji Jordan.
Betapa terenyuh hati Dina mendengar kata-kata yang baru saja di lontarkan Jordan, ia sangat bersyukur di pilih menjadi wanita pendamping untuknya meski kini ia belum ingat bahwa Dina adalah istri sahnya tapi ia masih yakin hari-hari bahagia mereka pasti akan kembali lagi.
"Tapi aku minta kamu bersabar jika kebutuhan mu tidak bisa terpenuhi dengan cepat, tabunganku rencananya akan ku pakai untuk meminang Mely" ujar Jordan mengagetkan Dina dan ibunya.
"Apa? kamu mau menikahi perempuan itu?" tanya Dina seketika.
"Tentu saja, sejak pertama kali aku bertemu dengannya aku sudah berniat akan menikahinya, andai aku tidak kecelakaan dan amnesia aku pasti sudah menjadikannya istriku.Sialnya sekarang aku malah di pecat, hingga sepertinya aku harus menunda niatku sampai aku mendapatkan pekerjaan baru."
Dina yang tadinya ingin marah besar tak jadi setelah mendengar ucapan Jordan, dalam hati ia sedikit bersyukur karena Jordan mengurungkan niatnya berkat di pecat.Namun, bukan berarti semua baik-baik saja.
Ia harus memikirkan suatu cara agar Jordan tidak pernah berniat lagi meminang Mely, cara agar ia bisa mengingatkan Jordan bahwa dia adalah istri sahnya.
"Ya sudah, sebaiknya kamu pergi ke kamar dan istirahat berita ini sudah cukup buat kamu setres lebih baik untuk saat ini kamu jangan pikirkan yang macam-macam dulu" ujar ibunya menasehati.
"Ibu benar, berita ini cukup buat aku pusing sebaiknya aku istirahat sekarang" jawab Jordan.
Dia pun pamit dan pergi meninggalkan Dina dan ibunya.
"Ibu, kita tidak bisa membiarkan mas Jo menikahi Mely.Apa pun yang terjadi aku adalah istri sahnya, kita harus segera menyadarkan mas Jo dan membuatnya mengingat segala hal yang telah dia lupakan" rengek Dina.
__ADS_1
"Ibu tahu, tapi saat ini kita masih harus merahasiakan hal itu.Kamu lihat sendiri kan, Jordan baru saja di pecat dan kabar ini sudah membuatnya terguncang hingga setres apalagi rahasia besar itu"
"Iya bu aku ngerti, tapi gak baik juga jika kita rahasiakan terus"
"Sudah, sudah kamu urusin aja anak kamu biar masalah Jordan ibu yang tangani" jawabnya dan pergi begitu saja.
* * *
Dua langkah yang bagus, rasanya sedikit membosankan karena tak ada perlawanan yang berarti.Entah harus seperti apa lagi agar cerita ini terus berjalan menarik, setidaknya itulah yang ada dalam pikiran Mely.
Ia ingat betul Dina yang dengan gagah membusungkan dada di depannya, dengan mudah menarik segala jiwa Jordan hingga bertekuk lutut menyemban kakinya.Ketidakberdayaan Mely berbanding terbalik dengan apa yang tengah terjadi padanya saat ini.
Kini Jordan yang bersimpuh di kakinya, apa pun yang dia katakan selalu di turuti.Tak ada perlawanan berarti dari Dina, mungkinkah karena rasa cinta yang begitu dalam hingga membuatnya tak peduli meski dirinya jatuh ke dalam jurang sekalipun.
Terlalu membosankan, menang dan menang.
"Bagaimana jika aku menginjak harga dirinya? apakah dia akan membiarkanku begitu saja?" gumam Mely pada dirinya sendiri.
Dia mengajak semua orang untuk pergi ke pantai, sekadar menikmati angin sore yang sejuk.Dengan dalih untuk menghilangkan setres yang di alami Jordan, tentu saja rasa cinta terus bertambah besar karena perhatian yang di berikan Mely.
Dina yang juga ikut tak akan membiarkan Mely terus tertawa di atas penderitaannya, momen ini dia gunakan juga untuk menarik perhatian Jordan.Dulu setelah menikah, saat panggilan pengantin baru masih melekat pada mereka pantai adalah tempat mengadu kasih sepanjang masa.
Semua hal romantis selalu Jordan lakukan untuk Dina, dan kini ia akan melakukan semuanya kembali untuk Jordan.
"Mas, ini aku belikan air kelapa buat kamu, pasti segar dan menghilangkan setres kamu" ujar Dina dengan manis seraya menyerahkan kelapa segar.
"Oh, terimakasih.Aku rasa kamu benar minum air kelapa saat senja pasti cukup menyegarkan" jawab Jordan mengambil kelapa itu dan meminumnya.
Rasa senang dan puas baru saja Dina rasakan sayangnya sedetik kemudian Mely datang sebagai benalu.
__ADS_1
"Hai sayang kamu mau minum?" tawar Jordan.
"Gak mau ah" jawabnya ketus.
"Lho kenapa?"
"Kelapa itu pemberian Dina untuk kamu, tak seharusnya kamu berikan lagi kepada orang lain" ujar Mely melirik Dina dengan mengejek.
"Lho memang kenapa? Dina udah kasih buat aku jadi terserah aku dong mau aku kasih ke siapa aja, lagian kamu kan kesayangan aku pasti semua aku kasih buat kamu" jawab Jordan dengan sedikit rayuan agar Mely mau minum.
"Tetap saja, harusnya kamu minta ijin dulu dong sama Dina"
"Ya ampung sayang, oke oke... Dina gak apa-apa kan airnya aku kasih ke Mely?" tanya Jordan dengan terpaksa.
"Kenapa harus tanya aku? bukankah apa pun milikmu pasti kau berikan padanya?" tanya Dina balik sarat akan kekecewaan dan cemburu.
"Tuh kan apa aku bilang, Dina gak ada masalah jadi buat apa kamu segan?"
"Setidaknya kita punya tatakrama yang harus kita ikuti, sebagai wanita yang berpendidikan tak seharusnya aku mengambil yang bukan milikku seenaknya.Lagian.... aku gak mau ngambil bekas orang" jawab Mely.
"Jadi kamu gak mau minum bekas aku?" tanya Jordan sedikit tersinggung.Mely tersenyum dan langsung mengambil kelapa yang sedari tadi di tawarkan Jordan.
"Kita sedang membicarakan kelapa bukan kamu, aku tak masalah minum bekas kamu toh kamu kan milik aku."
Tanpa menyadari senyum Jordan yang merekah karena kata-katanya, Mely menatap lurus pada Dina dengan pertanyaan apa yang akan dilakukan Dina setelah ini dalam pikirannya.Dan taka ada, Dina hanya pergi begitu saja tanpa sepatah kata pun.
"Airnya segar, kita jalan-jalan yu sekarang" ajak Mely.
Dengan senang hati Jordan ikut, mereka berjalan di pinggir pantai sesekali berlari menjauh saat air laut hendak menyentuh kaki mereka.Tawa riang diantara senda gurau mereka mengingatkan Dina pada masa romantisnya dulu.
__ADS_1
Ya, dulu dia yang menggandeng tangan Jordan.Persis di tempat itu pula ia juga tertawa dan bercanda sebagai pasangan pasutri, kini tangannya kosong.