
Sely mengajak ku ke sebuah angkringan kecil di pinggir jalan, aku agak terheran karna aku kira dia akan mengajak ku ke kafe.Kami memesan secangkir kopi susu jahe untuk menghangatkan badan, semakin malam udara semakin dingin tapi aku merasa nyaman dan hangat bukan hanya karena segelas kopi panas tapi karna suasa baru yang menyenangkan.
"Reni itu sebenernya orang baik, hanya saja dia tidak suka jika posisinya terusik" ucap Sely di tengah obrolan kami.
"Apa aku mengusik posisinya?" tanyaku heran.Sely tertawa kecil dan menjawab
"Secara tidak langsung... ya... kau tau kita punya supervisor yang cantik bak model, dan ka Anggi adalah satu-satunya saingan beratnya di toko. Reni cukup cantik tapi ya... dia biasanya, tentu menurut dirinya sendiri dia sangat cantik karna itu tingkahnya kadang-kadang aneh dan mengesalkan"
"Lalu hubungannya denganku?"
"Apa kamu gak sadar? kamu cantik Kak Mel, makanya dia ganggu kamu supaya kamu tau kalau dia berkuasa di toko jadi kamu gak akan bikin ulah yang bikin dia gak seneng"
Aku tertawa kecil mendengar penjelasan Sely, aku tak menyangka dalam hidup ku yang baru aku bertemu dengan orang seperti itu.
"Bagaimana caraku mengusiknya? aku sama sekali tidak punya pemikiran untuk mengusik hidup siapapun"
"Kak Mel sudah ku bilang kamu cantik, tanpa melakukan apapun orang akan tertarik pada kakak dan tentu akan bersikap baik... apalagi karyawan laki-laki, mereka akan menggodamu meski kakak hanya diam dan memasang wajah serius. Reni tidak suka itu... dia tidak ingin ada orang lain yang menjadi pusat perhatian selain dirinya"
Yang benar saja, ini adalah situasi terkonyol yang pernah kualami.Aku tidak pernah merasa diriku secantik bidadari lalu kenapa harus ada orang yang merasa terancam karna diriku? ku teliti sendiri wajahku di cermin mencari apa kelebihan dan kekurangan ku, mencaritahu secantik apa diriku.
Aku masih memikirkan hal ini bahkan sampai pagi tiba, saat aku tinggal di Jakarta tak ada yang memperlakukan ku seperti ini.Diantara temanku ada yang memuji kecantikanku tapi aku tak merasa istimewa karna di luar sana ada banyak yang lebih cantik dariku.
Setelah kupikir-pikir memang selama aku menjalani hubungan yang pertama kali membuat mereka jatuh hati padaku adalah karna kecantikanku, jika aku berjalan diantara lalaki mata mereka memang selalu melihat dengan tatapan ingin menggoda.Tak kusangka ternyata selama ini yang mereka lihat adalah fisikku, pantas saja Jordan meninggalkan ku ternyata aku hanya barang untuk di banggakan bukan manusia yang bisa di sayang.
Aku tersenyum pahit menyadari fakta mengerikan tentang diriku sendiri, betapa sialnya di ciptakan dengan fisik yang cantik.Jika aku terlahir dengan wajah biasa saja apa akan ada yang mencintai ku sepenuh hati?
"Mely... Mely kamu udan siap-siap?" tanya tante Isma dari luar kamar
"Ya tante" jawabku seraya pergi keluar kamar.
"Ada Sely nanyain kamu, katanya kalian mau jalan bareng ke toko"
"Oh iya tan, Mely lupa bilang mulai sekarang aku pulang pergi jalan bareng sama Sely tan. Gapapa kan tan?"
"Ya gapapa donk, tante malah seneng kamu udah punya temen sekarang"
"Ya udah Mely jalan duluan ya tan"
__ADS_1
Aku pergi keluar rumah dan mendapati Sely sudah menunggu ku.Sepanjang jalan kami mengobrol, ternyata Sely cukup kaget saat tau aku adalah keponakan tante Isma.Memang tak banyak yang tau tentang hal ini dan aku pun tak ingin orang lain tau akan hal ini karna itu aku menyuruh Sely untuk merahasiakannya.
Hari ini toko cukup sibuk karna datangnya barang baru, memang orang gudang yang bertanggung jawab tapi kami di suruh ikut bantu karna pelanggan tak banyak, aku senang di suruh ikut membantu karna aku terbiasa sibuk bekerja ketimbang mengumbar senyum di depan toko untuk menarik perhatian.
"Mely tolong keluarin barang-barang lama paling ujung ya" perintah seorang senior padaku.
Dengan cepat aku langsung pergi ke rak bagian belakang, rupanya barang lama ini jarang di sentuh telihat dengan debu-debu yang menempel. Aku memilih mengeluarkan barang di rak yang paling atas dulu memang cukup tinggi tapi untung ada kursi yang bisa ku pakai sebagai pengganti tangga.
Aku naik perlahan dan berpegangan pada rak, setelah bisa berdiri dengan tegak aku langsung menarik barangnya keluar tapi ternyata perhitungan ku salah. Barang yang ku tarik cukup berat sehingga aku harus mengeluarkan tenaga karna hanya fokus untuk menarik barang aku tidak mengira aku akan terjungkal jatuh setelah berhasil menariknya.
Aku berteriak kaget saat tubuhku hendak jatuh ke bawah bersama barang yang lepas dari genggamanku, ku pikir kaki ku akan terkilir dan pinggang ku sakit karna jatuh tapi itu terjadi karna seseorang menangkapku sesaat sebelum aku terjatuh.Salah satu pegawai pria tentu di bagian gudang sudah menyelamatkan ku.
Aku masih kaget sampai hanya menatapnya tanpa berkata apapun.
"Untung masih sempat, kamu gak kenapa-kenapa kan? ada yang terluka? ada yang sakit?" tanyanya masih memelukku.
Aku menggeleng dan melepaskan diri dari rangkulannya.Butuh beberapa menit untuk bisa menghentikan dagup jantungku yang kencang dan kembali normal.
"Aku gapapa, terimakasih bantuannya"
"Tak masalah, lain kali hati-hati jangan melakukan pekerjaan berat sendiri"
Dia menjawab dengan anggukan kepala, dan aku kembali bekerja ku singkirkan barang yang sudah jatuh ke pinggir dan membangunkan kursi yang ikut terjatuh, menempatkannya pada posisi semula dan kembali naik di atasnya.
"Kamu mau ngapain?" tanya lelaki itu heran
"Hah, mengeluarkan barang lama" jawabku mencoba menarik barang perlahan dari rak ke dua
"Setelah kau hampir jatuh tadi?" tanyanya lagi dengan nada sedikit kesal, aku berhenti menarik dan menoleh padanya untuk bicara
"Kenapa? daritadi itu yang sedang ku lakukan, aku di suruh mengeluarkan barang-barang lama ini. Jadi aku kan mengerjakannya"
"Apa kau tidak pernah belajar dari kesalahan? kau bisa terjatuh lagi"
"Tenang saja, sekarang barangnya tidak setinggi tadi aku juga lebih berhati-hati barangnya akan ku tarik pelan-pelan"
Jawabku sembari tersenyum dan melanjutkan pekerjaan ku, tak di sangka pria itu malah menggendong ku turun dari kursi hingga aku berteriak kaget karna merasa tubuhku melayang.
__ADS_1
"Jika cara kerjamu seperti ini setiap hari kau akan pergi rumah sakit karna cidera"
Ucapnya seraya menyingkirkan kursi dan menarik barang yang sejak tadi ku coba keluarkan.Dia cukup tinggi hingga ia hanya perlu berjinjit saja dan barang itu keluar dengan mudah. Di berikan nya barang berdebu itu padaku seraya tersenyum.
"Atur barangnya di pojokan agar tidak menghalangi, dan atur yang rapih"
Dia kembali membalikkan badan untuk mengeluarkan barang lainnya, membiarkan ku meneliti tubuhnya yang menurutku cukup gagah.Entah mengapa sikapnya itu bagiku seperti seorang kakak yang sedang melindungi adiknya, aku tersenyum dan kembali bekerja di bantu olehnya hingga selesai.
Saat jam istirahat Sely mengajakku untuk makan bakso, sebenarnya aku kurang suka tapi tak ada salahnya juga untuk mencoba. Kami memilih kursi paling belakang agar bisa mengobrol bebas dan senderan, tak lama setelah kami duduk datang pria yang tadi membantu pekerjaanku bersama teman-temannya duduk di depan kami.
"Sel kamu tau gak orang yang duduk di depan itu" tanya ku seraya menunjuk pria itu dengan mata
"Yang mana?"
"Itu karyawan toko juga, cowok yang duduk di sebelah kiri itu"
"Owh kak Deni"
"Namanya Deni?" tanyaku lagi
"Iya, kenapa emang? "
"Gapapa tadi aku kerja di bantuin ama dia"
Sely memandangku dengan curiga, tentu membuatku merasa tidak nyaman.
"Cuma di bantuin kerja doangkan?" tanyanya memastikan
"Iya cuma di bantuin doang, kenapa sih? "
"Gapapa, cuma saran aku kak Mel sebaiknya jangan deket-deket dia"
"Lah emang kenapa?" tanyaku penasaran
"Kak Deni ama Reni dulu pernah pacaran, aku denger sih Kak Deni yang mutusin dan Reni masih Cinta, sampe sekarang Reni kadang suka deketin Kak Deni gitu meski kak Deni nya gak suka. Aku takutnya kak Mel kena masalah gara-gara deket sama kak Deni, kamu kan udah tau gimana sifatnya Reni"
"Owhhh"
__ADS_1
Aku tak bertanya apapun lagi, penjelasan Sely sudah cukup memberiku peringatan. Yah, walau awalnya aku ingin berteman dengannya tapi ku rasa aku harus menjaga jarak agar kami tidak dekat, aku tak mau memiliki masalah yang baru sudah untung buat ku Reni tidak mengusikku lagi. Aku hanya harus lebih fokus pada pekerjaanku saja, meski ku akui Deni pun sepertinya memiliki pikiran yang sama denganku karna beberapa kali aku memergoki dirinya mencuri pandang dariku. Apakah dia pun menyukai ku atau sekedar penasaran dan hanya ingin berteman?