
Tawa, canda, mengobrol sambil menikmati hidangan alakadarnya tapi terasa nikmat mereka rasakan.Kebahagiaan yang tak ingin pudar, rasanya ingin sekali menghentikan waktu cukup sampai di sini saja, saat semua baik-baik saja dan bahagia.Namun dunia ini terus berputar pada porosnya, kebahagiaan ini pun akan berlalu begitu saja dan di ganti dengan kejamnya masalah.Dan saat itu tiba Mely hanya berharap sahabat-sahabatnya ada untuknya karena ia pun akan selalu berusaha ada untuk mereka.
Kak Afdal mengambil sebuah gitar di belakang punggungnya, dan memetik senarnya hingga terdengar irama indah sebuah lagu.
"Kok gak nyanyi?" tanya Nadin menunggu Afdal buka mulut.
"He... gue gak bisa nyanyi cuma main gitarnya doang"
"Yah.... padahal lagi nunggu nyanyinya" ucap Nadin yang membuat semua tertawa.
kak Deni mengambil gitar yang di pakai kak Afdal lalu memetik senarnya tapi kali ini ia juga bilang tak bisa menyanyi tapi akan berpuisi, Sely langsung tersipu malu saat mata kak Deni tertuju padanya.
Nada demi nada di mainkan, mengalun lembut dan kak Deni pun memulai pentasnya.
Siapa yang mengira
Aku tersesat dan hilang
Siapa yang menyangka
Aku berenang dan tenggelam
Sekian lama mendung
Tapi deras itu tak pernah turun
Duhai alam
Mengapa tak turunkan hujan
Biar kata-kataku hanyut hingga sampai padanya?
Masih di sini dan diam ku mengeras
Sekeras karang hingga perlu ombak untuk menghancurkannya
Bukan aku takut
Tapi mati lebih baik andai takdirku sendiri
Cinta bukan untuk berdua
__ADS_1
Tak perlu jua bersua
Biarkan saja dalam buaian
Mau bagaimana lagi
Atma ku terlanjur bergentayangan
Mencari juwitanya
Menunggu takdir kelam menjadi urna
Untuk beberapa detik mereka terdiam dalam sunyi, hingga yang terdengar hanya riuh angin lembut.
"Kok aku denger puisi ka Deni malah sedih ya" ujar Mely.
"Berarti kamu nangkep pesan yang ada di puisi itu?" jawab Kak Deni.
"Emang isi pesannya apa?" tanya pula Sely penasaran karna ia pun merasakan hal yang sama.
"Puisi ini ku buat sebelum kita jadian, saat Reni masih menjadi penghalang.Saat itu aku hanya bisa mencurahkan keputusasaanku dalam bait puisi"
"Udah selesai berkabungnya kita nyanyi sekarang, gue yang main gitar kalian nyanyi biar suara falsnya ter netralisir" ucap kak Afdal sambil mengambil gitar dari kak Deni.
Mereka tertawa tapi menurut juga, tak peduli suara mereka enak di dengar atau tidak yang penting hati mereka senang.
* * *
Cukup lama Mely absen dari pekerjaannya, tak di sangka ia akan sangat rindu dengan suasa toko.Banyak teman yang mengucapkan penyesalan atas kecelakaan yang menimpa dirinya, dan begitu banyak gosip pula yang bersiliweran tentang Reni yang kini sudah di keluarkan dari toko.
Tentu saja Tante Isma tidak akan mempertahankan orang yang telah mencelakai keponakannya, terlepas dari itu Mely cukup bersyukur hari yang ia lewati saat bekerja tak ada masalah sedikit pun.Sama seperti biasanya ia makan siang dengan Sely dan Kak Deni.
Gelang pemberian kak Deni sudah Mely serahkan pada Sely, di sela-sela makan siang ia perhatikan Sely mengelus gelangnya dan tersenyum tanda bahwa ia menyukai gelang itu.
"Kak, kalau sudah nikah nanti kak Deni masih mau kerja di toko?" tanya Mely.
"Kayaknya ia, tapi sekarang aku juga udah punya kerja sampingan"
"Oh ya, apaan?" tanya Mely antusias.
"Suplai sayuran, jadi temen ayah punya ladang cukup luas dia suka bingung harus jual hasil panen kemana, biasanya sih suka ada pengepul yang ngambil tapi karna harganya murah uangnya kadang ngepas buat modal bertani lagi, jadi aku punya ide buat jualin hasil panennya ke pasar-pasar gede gitu" jelas kak Deni.
__ADS_1
"Oh, terus masalah bayarannya gimana?"
"Ya aku di kasih 10% lah buat hasil penjualan dia, tapi sebisa mungkin aku juga jual ke pasar sesuai harga aku jadi dobel kan pendapatannya"
"Wah ide bagus tuh, bisa cepet kaya kalau begitu"
"Amin, uangnya juga kan aku kumpulin buat nambah-nambahin biaya nikah"
"Cieee... yang mau nikah" goda Mely kepada kak Deni tapi yang paling tersipu malu tentu adalah Sely.
Masa-masa indah persahabatan mereka masih berlanjut dan lebih di pererat lagi mengingat Sely yang sebentar lagi akan menjadi istri tentu tidak boleh sembarang main seperti dulu.Karna itu sisa-sia masa lajang mereka di buat moment yang tak terlupakan.
Mely masih suka pulang di antar Sely dan malam harinya mereka masih suka main bersama, meski kini kak Damar lebih mendekatkan diri pada Mely karna setelah ia mengubur cintanya dalam-dalam.Ada sedikit rasa rindu pula pada Nadin, karna kecocokannya dalam berkomunikasi.
Meski cukup dekat dengan Mely tapi cara bercanda Mely kurang nyambung dengannya, maka tak heran Mely lebih cocok dengan kak Afdal sama-sama konyol dan kadang menyebalkan, beda dengan Nadin yang punya cara bercanda dengan halus dan tak pernah teriak-teriak.
Mengingat kedekatan dirinya yang baru sebatas mengenal, ada rasa penasaran seperti apa sosok Nadin yang sebenarnya.Berdalih akan liburan ia mengajak yang lain ke Jakarta untuk jalan-jalan.
"Bagus tuh ka, di Jakarta kan ada Nadin.Dulu dia sempat nyuruh aku main ke sana ngajakin kalian pasti dia seneng dapat kabar kita mau jalan-jalan ke Jakarta apalagi diakan udah kenal sama kalian" ucap Mely antusias.
"Boleh juga, di jakarta juga ada keluarga gue ya... sekalian aja nengokin keluarga gue soalnya gue hampir gak pernah main ke sana" ujar pula kak Afdal.
Sely dan kak Deni hanya ikut setuju saja, kak Damar tak menyangka ia akan dengan mudah mendapatkan persetujuan.Karna ada banyak orang yang ikut maka sudah di putuskan kali ini mereka akan meminjam mobil ayah kak Deni.
Pekan yang di tunggu akhirnya datang juga, Mely sudah memberitahu Nadin soal kedatangan mereka dan kak Afdal juga sudah memberi kabar soal kedatangan mereka, tentu saja ibunya sangat senang sekian lama akhirnya putranya mau berkunjung.
Sesuai rencana mereka akan pergi ke rumah Nadin terlebih dulu istirahat sebentar di sana baru pergi ke rumah orang tua kak Afdal, perjalanan ke Jakarta yang hanya memerlukan waktu beberapa jam saja entah mengapa terasa sangat lama bagi kak Damar, mungkin karna ada yang ia tunggu.
"Eh kak udah deket nih, di depan nanti tinggal belok kanan aja ya" ucap Mely memberirahu sang supir yang tak lain adalah kak Deni.
"Akhirnya kita sampai" gumam kak Damar yang tak di dengar oleh siapa pun.
Rupanya Nadin sudah menunggu di depan gerbang rumahnya, begitu mobil selesai di parkir teriakan Nadin yang kangen pada sahabatnya itu menjadi sambutan paling meriah.Di peluknya Mely yang menghambur keluar mobil, kemudian Sely dan berjabat tangan pada yang lain.
Mata kak Damar sangat intens memperhatikan Nadin dari ujung rambut sampai ujung kaki, hanya beberapa minggu tak bertemu Nadin sudah nampak terlihat lebih cantik meski hanya mengenakan celana jeans dan kaus putih berbalut jaket.
"Hai" sapa Nadin padanya sambil mengulurkan tangan.
"Hai Din, kamu tambah cantik ya" ujar kak Damar.
"Hah?"
__ADS_1