Jodoh Pilihanku

Jodoh Pilihanku
Spesial eps : Duri 12


__ADS_3

"Kamu ngomong apa sih? jangan ngaco ah"


Jawaban Kak Damar begitu canggung, aku tahu dia berbohong.Matanya yang tidak mampu menatapku cukup mengatakan kebenarannya.


"Gadis seperti itu siapa yang tidak suka, jika aku seorang lelaki maka aku tidak akan membiarkannya pergi dari sampingku.Walau mungkin dia akan menolak bukan berarti cinta itu salah, dari pada memendam cinta dalam tandatanya alangkah lebih baik mengutarakannya setidaknya ia sudah tahu ada orang yang siap membahagiakannya" ucapku.


Kak Damar tak menjawab apa pun, dia hanya memandangku tanpa berkedip.Aku tahu dia memikirkan perkataanku maka dari itu aku mengajaknya kembali berjalan.


Setelah tiga hari terhitung semenjak ibu sely masuk rumahsakit aku baru masuk kerja lagi itu pun karna Kak Damar yang bilang dia akan menemani sely siang hari dan aku bisa menemaninya malamnya.


Hampir semua karyawan mempertanyakan bagaimana keadaan Sely dan ibunya kepadaku, ku jawab sudah baikan namun belum boleh pulang karna itu Sely belum bisa masuk kerja.


Performa kerjaku hari ini kurang bagus mungkin karna kurang istirahat dan tak ada Sely yang biasa menemaniku, di jam istirahat pun aku banyak melamun ketimbang makan untung saja Kak Deni mau menemaniku.


"Kamu mikirin Sely ya?" tebak ka Deni.


"Lebih tepatnya biaya operasinya" jawabku.


"Memang kenapa dengan biayanya?"


"Aku udah bicara sama dokter, besok ibu Sely udah bisa pulang dan aku juga udah ngobrol sama bagian adminnya biaya keseluruhan hampir lima juta ya aku perkirakan bakal empat juta lebih, Sely udah di kasih uang sama ayahnya dan cuma ada dua juta kalau di gabungin sama uang aku ternyata masih kurang sejutaan"


Kak Deni diam mendengar jawabanku, rupanya ia ikut memikirkannya.Mau bagaimana lagi aku ikut bertanggung jawab dalam hal ini, aku yang sudah bilang pasti akan membantu Sely sampai ibunya bisa pulang.Aku harus memikirkan caranya.


"Ah benar.. " teriakku mengagetkan kak Deni.


"Aku kan punya tante Isma, aku bisa pinjem uang sama dia" lanjutku senang.


Kak Deni hanya menggeleng sambil tersenyum, rencananya aku akan bicara pada tante nanti pulang kerja.Begitu tante memberikanku uang aku bisa langsung pergi ke rumah sakit dan besoknya setelah ibu Sely pulang aku mengurus segala biayanya.


Tapi sebelum aku bicara pada tante Kak Deni sudah memberikan uang yang kubutuhkan dan mau mengantarku ke rumah sakit.Saat ku tanyakan uang apa yang dia gunakan kak Deni hanya menjawab kebetulan ada temannya yang bayar hutang karna tidak tega melihat ku banyak berkorban jadi dia ikut membantu.

__ADS_1


Aku mencoba mengembalikan uang itu tapi Kak Deni menolaknya, akhirnya aku menerima uang itu dengan janji aku pasti akan mengembalikannya meski kak Deni bilang tidak usah tetap saja aku harus mengembalikannya.


Sesuai perkiraan dokter esoknya ibu Sely sudah boleh pulang, karna membantunya beres-beres jadi aku ijin lagi dari pekerjaanku.Aku ikut membantunya memasak di rumah dan menemaninya sampai sore.


Kak Afdal dan Kak Damar menjenguk ke rumah Sely setelah ku beritahu ibunya sudah pulang, kami hanya mengobrol sebentar dan pulang setelah gelap Kak Damar yang mengantarku pulang karna memang kami satu jalur.


"Mel kamu capek gak?" tanyanya di tengah perjalanan.


"Gak terlalu juga sih, kenapa emang?"


"Mau gak kalau aku ajakin ngopi bentar?"


"Hmmm.. boleh" jawabku setelah berfikir sebentar.


Kami pergi ke angkringan tempat biasa kami ngopi, dan tentu kami juga memesan kopi yang biasa kami minum.Ku perhatikan Kak Damar sesekali menatapku tapi lalu memalingkan wajah saat aku balik menatapnya.


"Ada apa sih kak?" tanyaku penasaran.


"Kalau ada yang mau di omongin ya ngomong aja, jangan malu gitu malah bingung ke akunya tahu"


"Sebenarnya.. ada yang mau aku tanyain ke kamu"


"Soal apa?"


"Ng... soal Sely"


"Tuh kan bener kata aku kak Damar pasti suka sama Sely, iya kan?" tebak ku senang.


Kak Damar terlihat malu mendengar ucapanku, dia hanya diam menundukkan kepalanya.


"Jadi kenapa gak coba ngomong langsung aja kak?"

__ADS_1


"Gak segampang itu Mel, aku udah kenal Sely cukup lama. Saat dia masih jadi pacar temanku bahkan mungkin sejak itu aku udah ada perasaan padanya, tapi setelah dia putus sebelum aku mencoba menyatakan perasaanku dia sudah bilang tidak ingin punya pacar anak vespa"


"tapi sekarang kan kak Damar bukan anak club lagi?"


"Emang iya sih, tapi bisa di bilang aku bekas anak vespa aku takut Sely masih gak mau.Aku berfikir daripada dia berubah membenciku lebih baik aku pendam perasaan ini"


"Tapi mau sampai kapan kak? apa sampai ada orang yang menyatakan perasaan pada Sely? sampai hari itu tiba yang ada pasti hanya penyesalan"


"Aku tahu karna itu aku butuh bantuan kamu, aku ingin kamu coba tanyakan sama Sely masalah gak kalau misalkan ada orang mantan anak vespa yang suka sama dia, tapi kamu jangan bilang kalau aku suka sama dia nanti sikapnya berubah. Aku udah seneng Mel bisa deket gini sama dia"


"Kakak tenang aja aku pasti bantu ko."


Jawabku seraya tersenyum dan menepuk-nepuk bahunya.Kami menghabiskan secangkir kopi kamu dengan bicara, lebih banyak mendengar curhatan Kak Damar tentang perasaannya.


* * *


Istirahat makan siang masih ku habiskan dengan kak Deni karna Sely masih belum bisa masuk, baru dua hari kami makan siang bersama tapi gosip di tengah karyawan toko sudah menyebar luas bahwa kami cinlok dan pacaran.Tentu saja setiap teman yang bertanya tentang gosip itu ku jawab bahwa kami hanya teman ya memang karna itu kebenarannya.


Sampai aku masuk toilet sekumpul teman perempuan menggundrungku dan bicara tentang kedekatan kami.


"Yang bener kamu Mel, masa cuma temen tapi pulang kerja di anter mulu" ucap seorang teman tak percaya.


"Ya ampun aku dianter pulang bukan ke rumah tapi ke rumah sakit karna Kak Deni juga mau ikut nengokin"


"Tapi waktu itu kalian pernah gandengan tangan terus Deni bilang kalian pacaran" tanya pula yang lain.


"Itu cuma becanda doang" jawabku lagi.


"Gak usah ngeles kali Mel, jujur aja lagian kalian cocok ko.Kamu cantik dan Deni juga ganteng ya ketimbang sama si Reni lebih cocokkan kamu tahu" Ucap yang lain lagi dan kini semua mengiyakan tanda setuju.


"Aduuuh... kakak-kakak senior ku beneran aku cuma temenan sama Kak Deni dan gak ada hubungan apa pun"

__ADS_1


Mereka hendak bicara lagi tapi Kak Anggi masuk dan memarahi kami semua karna terlalu lama di toilet akhirnya yang lain bubar dan pergi keluar untuk lanjut bekerja meninggalkan ku sendiri karna memang aku belum sempat buang air, saat aku hendak masuk ke toilet seseorang memanggilku dan mengguyur ku dengan seember penuh.


__ADS_2