
Kak Deni melambaikan tangannya padaku, aku berdiri dan berjalan mendekatinya.
"Kak Deni, lagi ngapain di sini?"
"Jalan-jalan aja, kamu sama siapa kesini?"
"Banyakan, sama Sely, Kak Damar dan Kak Afdal.Kakak sendiri ke sini?"
Dia hanya menganggukkan kepala sebagai jawaban, karna sudah ketemu Kak Deni di sini ku ajak dia berkenalan dengan kak Afdal dan ikut main bersama kami.
Ketika Sely kembali dengan Kak Damar kulihat dia agak terkejut melihat keberadaan Kak Deni bersama kami, wajar saja selama ini Sely memang menjaga jarak dengannya karna takut terkena masalah dengan Reni.
Karna ku lihat yang lain menjadi canggung dengan keberadaan Kak Deni aku pun mencairkan suasana dengan mengajak mereka berkeliling dan mencoba permainan yang lebih santai.
"Eh liat itu... " teriak ku menunjuk sebuah permainan.
Tanpa menunggu yang lain aku segera berlari menuju tempat itu, aku tahu permainan ini cukup lemparkan bola pada tombol kuning sampai si penyihir jatuh ke kolam dan aku bisa memilih hadiah mana yang aku inginkan.
"Pak beri aku bolanya" ujarku pada petugasnya dan dia pun memberiku 3 bola yang artinya aku memiliki tiga kesempatan.
"Memangnya kamu bisa mainnya?, bukannya kamu payah ya kalau masalah ini ngambil barang di atas rak aja malah jatuh" ucap kak Deni merendahkanku saat mereka sampai.
"Apa hubungannya ngelempar bola sama ngambil barang di atas rak?" tanya ku sinis.
Mendengarnya kak Deni malah tersenyum yang membuatku malah semakin jengkel, aku bersiap-siap di posisi dengan di tambah ejekan yang di lontarkan si penyihir hatiku semakin panas dan melempar bola sekuat tenaga tapi sialnya bola itu tidak mengenai tombolnya.
"Bisa gak sih lu Mel?" tanya Kak Afdal sambil tertawa.
"Bisa ko aku kan baru pemanasan" jawabku yang bertambah kesal.
Ku tarik nafas panjang dan menghembuskannya perlahan, kali ini aku harus bisa mengenainya. Ku pusatkan perhartianku pada tombol kecil itu dan melempar dengan sekuat tenaga, tapi kali ini pun gagal. Tawa Afdal begitu keras terdengar di telingaku dan Kak Deni hanya tersenyum.
"Berisik, biasa aja kali ketawanya" perintahku padanya.
"Abis lu lucu sih" jawab Kak Afdal masih tertawa.
__ADS_1
"Kak afdal..... " teriakku dengan kesal dan mencubit otot lengannya.
"Adudu duhh.... sakit Mel sakit" teriaknya mencoba menjauh dariku.
Yang lain tertawa melihat pertengkaran ku dengan Kak Afdal, dengan santai Kak Deni mengambil bola yang tersisa dari tanganku lalu dia melemparkannya.Sekilas ia seperti asal melempar tapi tepat sasaran, penyihir itu terjatuh ke dalam kolam yang artinya kami memang.
Aku bersorak gembira setelah cukup lama terpana karna sempat tak percaya pada apa yang ku lihat, petugas bertanya hadiah mana yang ingin aku ambil dan aku memilih boneka unicorn berwarna pink.
"Makasih ka.. " ucapku senang pada Kak Deni.
"Sudah ku bilang kan kamu gak bisa ngelempar"
"Yaelah ka gak usah pake ejekan kali" erangku pada Kak Deni.
"Cuma permainan gini mah gampang gue juga bisa, pak minta bolanya" ucap Kak Afdal tak ingin kalah.
Petugas memberinya tiga bola, dengan percaya diri dia melemparkan bola itu dan ternyata ini memang mudah untuknya.Hanya satu lemparan dan bola itu mengenai tombol yang membuat si penyihir terjatuh.
"Pilih lu mau hadiah yang mana?" ucap Kak Afdal padaku dengan nada sombong.
"Wah bagus banget.. " ucap Sely kagum.
"Iya kalungnya cantik" jawabku setuju.
"Oh aku tahu itu kayak kalung liotin gitu Kak Mel, jadi itu kalung pasangan gitu. Yang satu buat cewek dan yang satunya buat cowok" ucap Sely.
Aku berfikir sama dengan yang di ucapkan Sely, jadi ku ambil satu kalung lumba-lumba itu dengan mata yang berwarna merah.
"Aku tahu, nunduk Kak" ucapku seraya menarik kerah baju Kak Afdal dan memakaikan kalung itu padanya.
"Karna yang ngelempar bola Kak Afdal jadi kakak berhak dapat satu kalungnya dan aku satu" ucapku setelah selesai memakaikan kalung itu.
Kak Afdal tersenyum padaku dan tanpa berkata apa-apa dia mengambil kalung yang lainnya lalu memasang kalung itu di leherku.Entah kenapa jantungku berdegup kencang saat wajahnya begitu dekat dengan wajahku, dari jarak sedekat ini aku bisa merasakan nafasnya yang teratur dan aroma tubuhnya yang wangi.
"Sudah" ucapnya dan menjauhkan wajahnya dariku.
__ADS_1
"Hmmmm, manis banget" ucap Sely
"Baguskan, hari ini memang hari keberuntunganku" teriak ku bersemangat, padahal agar aku bisa menutupi kegugupan ku.
"Jadi pengen" ucapnya lagi.
"Kamu mau Sel, biar aku coba lempar" ujar Kak Damar.
Dia pun meminta bola pada petugas, dan kali ini pun Kak Damar dapat mengenai sasaran dengan tepat. Sely bersorak gembira dan segera memilih hadiah yang dia inginkan, ia mencoba memilih kotak kecil berwana merah berharap mendapat sesuatu yang indah tapi rupanya nasibnya tak begitu baik, kotak itu berisi kaca kecil.
Kami tak bisa menahan geli hati dan akhirnya tertawa, bukan karna nasibnya yang kurang beruntung tapi karna raut wajah kecewa Sely yang menggemaskan.Air mata hampir jatuh di pipinya saat mendengar tawa kami yang tak henti.
"Cup cup adik ku manis jangan nangis dong" ujarku menahan tawa.
"Abisnya aku kan mau hadiah kayak Kak Mel"
"Ya udah nih boneka Unicorn nya buat kamu" ucapku padanya agar ia berhenti merengek.
"Emangnya boleh Kak Mel?"
Aku melirik pada Kak Deni, aku mendapatkan hadiah ini berkat dia yang berhasil melempar bola jadi tentu aku perlu pendapatnya, dan Kak Deni mengangguk sebagai tanda ia setuju.
"Tentu aja boleh apa sih yang enggak buat kamu" jawabku.
"Makasih ka Mel."
Sely memelukku dengan senang, sambil membalas pelukannya aku menyuruh Kal Afdal berhenti tertawa dengan isyarat, karna hanya dia yang masih tertawa dengan keras.
Kami kembali berjalan dan mencoba permainan yang lain lagi, kini Kak Deni sudah membaur dengan kami dia bercanda dan tertawa tanpa canggung yang lain pun dapat menerima kehadirannya.
Kami berlima berdiri di pintu masuk rumah hantu, inilah permainan yang aku tunggu- tunggu.Sensasi mendebarkan sudah kurasakan meski kami belum masuk, dan satu-satunya penghalang kami adalah Sely yang takut untuk masuk.
Kami mencoba meyakinkanya bahwa ini tidak akan semenyeramkan yang ia bayangkan tapi tetap saja dia tidak mau masuk.Akhirnya dengan susah payah membujuk Sely pun mau ikut.
"Baiklah kita masuk, aku yang jalan di depan" teriakku bersemangat.
__ADS_1
Dengan pormasi berurutan aku, Kak Afdal, Kak Deni, Sely dan Kak Damar kami pun masuk.