
Begitupun dengan Kenzo, Keysha dan Kaisar. Ketiga orang itu hanya melihat Kevin dari jauh yang terus berjalan mondar mandir.
Kenzo pun menceritakan pada Kaisar dan Keysha tentang kehidupan Ayesha sebelum bercerai dengan suaminya. Membuat Keysha yang sesama perempuan merasa geram, Keysha pun bergidik ngeri membayangkan jika hidupnya sampai seperti Ayesha, di hancurkan mentalnya dan berujung di khianati.
"Ken, apa Mama akan menerima Ay?" Tanya Keysha ragu ragu.
"Aku tidak tau, Key."
"Pa, bagaimana menurut Papa?" Tanya Keysha pada Kaisar.
Kaisar diam sejenak, "Papa percaya pada keputusan Mama, Papa yakin Mama bukanlah orang yang egois."
"Sebagai Papa, apa Papa akan menerima Ayesha jika Mama menerimanya?" Tanya Kenzo ingin tau.
"Jika Ayesha sekarang wanita bebas, tidak ada alasan untuk tidak menerimanya, kecuali jika Ayesha masih terikat pernikahan, itu lain lagi ceritanya." Jawab Kaisar yang memang masuk akal.
"Soal status Ayesha?" Tanya Keysha.
Kaisar tersenyum pada anak perempuan satu satunya itu. "Key, Papa juga mempunyai anak perempuan. Hati Papa juga sakit jika anak perempuan Papa di perlakukan seperti itu. Apa artinya sebuah status? Jika Kevin memang bahagia bersama Ayesha kenapa tidak di restui?"
Kenzo dan Keysha tersenyum, mereka merasa lega karena tau jika ayah mereka tidak mempermasalahkan status Ayesha. Namun keputusan tetap di tangan Audrey, dan Kaisar selalu mengikuti apapun keputusan Audrey.
Setelah hampir satu jam, akhirnya Ayesha dan Audrey keluar dari ruang kerja Kaisar. Kevin dengan segera menghampiri Ayesha dan betapa terkejutnya Kevin ketika melihat wajah Ayesha yang tampak sembab.
"Ay..." Panggil Kevin dengan cemas.
"Kev, antarlah Ayesha pulang dulu." Sahut Audrey dengan mimik wajak tidak bisa di tebak.
Berbagai spekulasi terus berputat di pikiran Kevin. Mungkinkah sang ibu menolak status Ayesha dan membuat Ayesha menangis? Namun Kevin tidak mendapatkan jawabannya karena baik Audrey maupun Ayesha hanya diam dan tidak bicara apapun. Kevin hanya menyimpulkan jawaban dari wajah Ayesha yang terlihat sembab.
Dengan tidak bersemangat Kevin mengangguk. "Ayo Ay, aku antar pulang."
Ayesha yang sudah berpamitan dengan Audrey saat masih di dalam pun hanya melihat ke arah wajah Audrey dan Audrey mengangguk samar. Ayesha berpamitan dengan Kaisar, Kenzo dan Keysha, wajah mereka penuh dengan rasa penasaran, namun sama seperti Kevin, melihat Ayesha dengan wajah sembab membuat Kaisar, Kenzo dan Keysha hanya diam dan berspekulasi sendiri.
__ADS_1
Di perjalanan pulang, mereka sama sama diam. Hingga Ayesha menyadari jika perjalanannya bukanlah menuju rumahnya, melainkan ke perbatasan kota tempat dimana Kevin tinggal.
"Kev, kenapa tidak mengantarku pulang?" Tanya Ayesha dengan suara cukup parau karena kebanyakan menangis.
"Kita harus bicara dulu."
"Tidak ada yang barus di bicarakan, Kev. Ini sudah malam. Ayo antar aku pulang."
"Tidak, Ay."
"Kak Andrew akan mencariku nanti."
"Aku sudah mengirimi Andrew pesan untuk membawamu malam ini dan Andrew percaya padaku."
Mendengar hal itu Ayesha hanya diam dan mengikuti apa kata Kevin. Mungkin memang benar jika mereka juga butuh bicara berdua untuk memastikan hubungan mereka kedepan seperti apa.
Dalam waktu hampir satu jam, mereka tiba juga di apartement milik Kevin dan Ayesha masuk ke dalamnya. Ayesha mengedarkan pandangannya seolah menjelajahi beberapa waktu kebelakang, Ayesha cukup mengingat saat dulu dirinya belum kembali pada keluarganya, Kevinlah yang menyelamatkannya, kevin juga lah yang menolong kehidupannya.
"Ayo duduk, Ay." Ajak Kevin.
Kevin mengangguk. setidaknya coklat hangat bisa membuatnya lebih rilex sedikit.
Kevin menunggu Ayesha di ruang televisi dan tak lama dari itu Ayesha datang membawa dua cangkir coklat hangat dan meletakannya di meja. Ayesha duduk cukup jauh dari Kevin dan hal itu tentu saja membuat Kevin. Berpindah duduk di dekat Ayesha.
Mereka sama sama diam, bingung ingin memulai berkata apa dan entah mengapa tidak ada yang mau memulai pembicaraan. Ayesha masih merasa tidak percaya jika keluarga Kevin begitu menerimanya bahkan memperlakukannya dengan begitu lembut, Ayesha begitu terharu dengan perlakuan Audrey padanya yang begitu bisa menerima Ayesha apa adanya. Sementara Kevin berpikir jika diamnya Ayesha adalah bentuk rasa kecewa dan sakit hatinya karena telah di tolak oleh ibunya Kevin sendiri.
"Ay...." Kevin yang akhirnya memanggil Ayesha duluan.
Ayesha hanya diam karna dirinya begitu grogi.
Kevin meraih tangan Ayesha dan menggenggamnya erat. "Apapun yang di katakan oleh Mama, tolong maafkan ya, Ay." Kata kata yang keluar dari mulut Kevin membuat Ayesha menatap mata Kevin dengan dalam. "Maaf aku tidak bisa menepati janjiku padamu, meski keluargaku tidak menerimamu, aku akan tetap mengejarmu, Ay. Dan aku minta tolong jangan hentikan aku." Imbuhnya lagi.
Ayesha mengernyitkan dahinya, dalam pikirannya mungkin kan Kevin tidak tau jika ibunya begitu menerima Ayesha? Mungkinkah Kevin beranggapan jika Ibunya menolak Ayesha sebagai wanita yang Kevin cintai.
__ADS_1
Kevin merubah duduknya dan berlutut dengan kedua lututnya di hadapan Ayesha yang masih duduk di atas sofa dan tangannya masih tetap setia menggenggam kedua tangan Ayesha.
"Ayo kita berjuang sama sama, Ay. Aku mencintaimu, aku akan melindungimu, aku janji tidak akan membiarkanmu di sakiti oleh siapapun, percaya padaku ya?" Kevin menciumi genggaman tangan Ayesha dan tiba tiba saja Ayesha menarik satu tangannya dan mengusap kepala Kevin dengan lembut, membuat Kevin mendongak dan menatap wajah Ayesha.
Tatapan mereka saling mengunci, Ayesha dapat melihat cinta yang begitu besar dari tatapan Kevin dan Kevin pun melihat ada cinta di mata Ayesha yang ada untuk dirinya.
"Mamamu..." Kata Ayesha terjeda sejenak. "Mamamu merestui kita, Mamamu menerimaku, Kev." Ucap Ayesha setengah berbisik membuat Kevin menyipitkan matanya.
Benarkah apa yang Kevin dengar? Benarkah sang ibu benar benar menerima Ayesha dan bukan menyakitinya?
"Kita terlalu jauh berpikir yang tidak tidak soal Mamamu. Maafkan aku, Kev. Mengenal Mamamu membuatku sadar bahwa tidak semua ibu mertua jahat dan kejam seperti mantan Ibu mertuaku." Lanjut Ayesha lagi.
"Ay, memang Mama bicara apa padamu?" Tanya Kevin seolah ingin tau apa yang di bicarakan oleh Ibunya pada Ayesha.
"Mama hanya mengatakan jika Mama melihat tatapan penuh cinta dari matamu untukku, Mama juga mengatakan agar aku tidak lagi membatasi hatiku dan mau membuka diri membalas cintamu."
Mendengar hal itu Kevin merasa tak percaya, antara senang namun ia takut jika semuanya hanya ekspektasinya yang terlalu tinggi.
"Be... Benarkah itu, Ay?" Tanya Kevin masih tidak percaya.
Ayesha mengangguk, air mata bahagianya turun membasahi pipinya. "Tapi beri aku waktu ya, Kev. Aku masih ingin meyakini diriku sendiri."
Namun Kevin menggelengkan kepalanya dengan cepat. "Aku tidak akan membiarkanmu meyakinkan dirimu sendiri, aku akan membantumu meyakini dirimu jika aku memang yang terbaik untukmu, Ay. Aku tidak akan melepasmu lagi. Kita akan segera menikah, sakarang juga aku akan melamarmu di hadapan kedua orang tuamu."
Mendengar hal itu Ayesha sedikit tertawa. "Ini sudah malam, bahkan sudah tengah malam, Kev."
Kevin pun ikut tersenyum, "Kalau begitu besok aku akan mendatangi orang tuamu untuk menyampaikan maksudku, dan sekarang kamu menginap disini dan tidur di kamar bersamaku."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Note:
Satu Like, Satu Vote, Satu Komentar dari kalian, Sangat berarti untukku menaikkan Novel ini.
__ADS_1
Please jangan jadi silence readers.