
Keysha menemani Sakha di apartement. Setelah semua terungkap, Keysha memilih untuk menemani suaminya meski nanti ia akan dapat omelan dari atasannya karena pergi di jam kerja.
Menjelang malam, Sakha terbangun dan tak melihat keberadaan Keysha di sisinya. Sakha keluar dari kamar dan melihat Keysha sedang menyiapkan makanan yang baru saja di pesannya dari restoran.
"Baby..." Sakha memeluk Keysha dari belakang.
"Kha, aku nyiapin makan malam. Tapi aku beli, aku gak bisa masak." Kata Keysha sambil nyengir.
"Gak apa apa. Jadi istri aku tuh kamu gak perlu bisa masak, cukup seperti tadi, selalu ada di masa masa sulit aku, aku udah seneng banget. Susah sama sama dan senang sama aku juga sama sama." Ucap Sakha.
Keysha membalikan tubuhnya dan menggantungkan tangannya di leher Sakha. Mata mereka saling bersitatap. "Kha, masalah Vivian sudah selesai. Bisa tidak kalau mulai saat ini kita publikasikan hubungan kita?"
Sakha mengecup hidung Keysha. "Tentu saja, tanpa kamu minta, aku sudah memikirkannya. Seperti janji aku dulu. Kita akan buat resepsi di sebuah resort pribadi. Dan aku sudah membelinya untukmu."
"Benarkah, kapan?" Tanya Keysha merasa terkejut.
"Rahasia." Jawab Sakha.
"Ishhh." Keysha mencebik.
"Ayo makan, aku sudah lapar." Kata Sakha dan mereka pun makan malam bersama.
Rama tidak menemukan keberadaan Mira di rumah sakit, pihak rumah sakit mengatakan jika Mira di bawa ke panti sosial oleh keluarga Wiguna atas permintaan dari Mira sendiri.
Pihak rumah sakit pun memberi alamat panti sosial yang di maksud karena Kenzo yang menyuruhnya, meski bagaimanapun, Rama adalah keluarga yang Mira miliki.
Rama mengendarai motornya ke sebuah panti sosial, Mira pun mau di temui oleh Rama.
"Mbak...." Panggil Rama.
Mira terlihat lebih tenang dan tidak seperti dulu yang mudah meledak ledak.
"Jikau kau bertemu dengan Ibu. Jangan beritahu Ibu aku ada dimana." Kata Mira.
"Mbak, ayo kita pulang saja, Mbak lebih baik tinggal bersamaku."
"Dan selingkuhanmu? Aku tidak mau."
Rama baru mengetahui jika ternyata Mira belum mengetahui apapun. Rama pun menceritakan kehancurannya pada Mira, tentang dirinya dan tentang Ratna yang kini tinggal bersamanya.
"Aku tidak mau bertemu dengan Ibu, dia Ibu yang kejam untukku." Ucap Mira.
"Mbak..."
"Rama, aku sudah mendapatkan karmaku, aku ingin hidup lebih baik lagi. Anggap saja aku sudah mati, aku tidak mau menjadi orang yang kejam seperti Ibu."
__ADS_1
"Aku juga sama, Mbak. Aku juga sudah mendapatkan karmaku." Kata Rama dengan frustasi.
Mereka sama sama terdiam.
"Pulanglah Ram, dan jangan katakan apapun pada Ibu tentangku." Kata Mira karena tidak ingin lagi bertemu dengan Ratna.
Rama pun mengerti, ia tak memaksa Mira, bagi Rama, Mira tetaplah kakaknya dan Rama akan menghormati apapun keputusan Mira.
Rama pulang ke kontrakannya dengan wajah lelah, namun baru saja tiba di kontrakannya, Ratna sudah mengintrogasinya.
"Dari mana saja kamu?" Sentak Ratna sambil bertolak pinggang.
"Ya cari penumpang lah bu." Jawab Rama berbohong. Karena hingga detik ini, Ratna belum mengetahui jika Rama sudah bekerja di kantoran.
"Cari penumpang atau pacaran? Awas ya kalau kamu punya pacar apa lagi sampai menikah, hanya buang buang uang saja."
Rama hanya menghela nafas karena Ibunya begitu kejam padanya.
"Tadi pemilik kontrakan kesini, minta uang kontrakan dua bulan." Kata Ratna.
Rama yang baru saja melepas helmnya mengernyit heran. "Dua bulan? Kan setiap bulan Rama titip sama Ibu."
"Ya Ibu pake lah, Ibu kan butuh baju baru, makanan enak." Jawab Ratna tanpa rasa bersalah. "Emangnya uang tiga puluh ribu sehari itu cukup!!"
"Apa?" Balas Ratna. "Kamu mau perhitungan sama Ibu? Mau jadi anak durhaka?"
Rama menendang meja di hadapannya, membuat Ratna menjadi ketakutan. "Terserah Ibu, Rama akan pergi dari sini, Rama capek ngadepin ibu." Kata Rama lalu masuk dan membereskan pakaiannya ke dalam tas. Keributan itu memancing tetangga yang kepo dengan masalah yang terjadi, mereka saling menggunjingkan Ratna karena memang sedari awal tak menyukai Ratna.
"Ram, mau kemana kamu!!"
Rama diam dan segera mengeluarkan motornya, ia sudah lelah menghadapi ibunya, Rama akan seperti Mira yang tidak mau perduli lagi pada Ratna.
Untuk sementara, Rama akan tidur di gudang Kha-Fashion tempatnya bekerja, dan esok ia akan mencari kontrakan kecil di dekat tempat kerjanya, beruntung Rama sudah bisa menabung dan mempunyai dana anggaran darurat yang bisa ia pakai.
"Ibu, kau keterlaluan sekali." Kata Rama lalu menangis karena kesal pada Ratna.
Seminggu berlalu, Kevin menyuruh supir mendatangi panti sosial yang menampung Mira dan menjemputnya untuk menemui Ayesha.
Tidak lama kemudian Mira tiba di rumah kediaman keluarga Wiguna. Mira pun di periksa oleh keamanan yang berada di rumah keluarga Wiguna untuk memastikan jika Mira tidak membawa benda berbahaya. Bahkan Mira pun di jaga oleh beberapa bodyguard dan Mira sama sekali tak keberatan akan hal itu.
"Ayeshaa.." Mira berhambur dan bersimpuh di kaki Ayesha lalu menangis. "Maafkan aku, Ayesha, Maafkan aku." Kata Mira dalam tangisannya. Tangisan yang membuat semua orang ikut merasakan ketulusan Mira dalam meminta maaf pada Ayesha.
"Mbak, bangun. Jangan seperti ini Mbak." Kata Ayesha sambil mencoba membangunkan Mira yang masih bersimpuh di kaki Ayesha.
"Aku banyak salah padamu Ayesha, Maafkan aku." Mira masih menangis penuh penyesalan.
__ADS_1
"Aku sudah memaafkanmu, Mbak. Ayo bangun." Mira pun berdiri dan Ayesha membawa Mira untuk duduk bersama meski bodyguard tetap berjaga di dekatnya.
Mira merasa malu pada Ayesha, karena Ayesha begitu memaafkan kesalahan Mira di masa lalu bahkan tak mengungkitnya.
Mira mengeluarkan sesuatu dari tas nya, empat pasang sepatu rajut yang ia buat dalam satu minggu belakangan ini, Mira berlatih merajut dan barang pertamanya yang Mira buat adalah empat pasang sepatu rajut untuk empat bayi Ayesha sekaligus.
"Ya ampun Mbak, ini bagus sekali." Kata Ayesha menerima dan memegangnya.
"Tidak seberapa dengan kebaikanmu, Ayesha."
Ayesha menganggukan kepalanya. "Kita masih bisa berteman, Mbak."
"Aku datang kesini sekalian berpamitan, Ayesha."
"Memang Mbak mau kemana?"
"Aku memutuskan ikut menjadi relawan untuk panti asuhan di daerah pelosok, yang terpenting aku ada tempat berteduh dan makan saja sudah cukup."
"Tapi Mbak, aku bisa membantu Mbak, untuk Mbak buka usaha kecil kecilan."
Mira menggelengkan kepalanya, "Aku lelah, Ayesha. Aku hanya ingin mengabdikan hidupku dan tidak ingin punya masalah." Kata Mira dan Ayesha pun mengerti.
Ayesha melepas kalung emas yang sedang di pakainya dan memakaikannya pada Mira.
"Ayesha jangan." Kata Mira menolak.
"Gak apa apa Mbak, ini kenang kenangan dariku dan aku mengijinkan Mbak menjualnya jika nanti Mbak membutuhkan uang." Kata Ayesha memaksa.
Mira tak bisa lagi berkata kata, Mira benar benar menyesali perbuatannya di masa lalu. Kini Mira merasa lega karena impiannya untuk meminta maaf secara langsung pada Ayesha sudah terwujud. Mira berpamitan pada Ayesha dan kembali ke panti sebelum nanti bulan depan ia akan berangkat menjadi relawan di panti asuhan.
Ayesha pun melepas Mira dengan maafnya. Kevin dan Audrey yang melihat hal itu merasa bangga pada Ayesha karena Ayesha memiliki hati yang begitu lembut.
"Kau tak salah memilih istri, Kev." Kata Audrey.
"Tentu saja, Ma." Jawab Kevin dengan bangga.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Aku kaget pas lihat Bab 96 ada banyak yang ramein kolom komentar, cuma belasan aja aku udah bahagia koq 🤩
Makasih lho untuk dukungan dukungannya, apapun itu 🥰
Bab ini Spesial untuk teman teman yang udah kasih aku gift like, vote dan ramein komentar,🥰
Gak kerasa besok Tamat ya, please yang setiap senin punya jatah vote, kasih untuk aku ya, karena besok senin adalah terakhirku di Novel ini. 🤗
__ADS_1