
Ayesha bangun pagi sekali, meski tubuhnya terasa remuk lantaran Kevin selalu menerkamnya namun Ayesha tidak ingin lalai dalam kewajibannya.
Ayesha melepaskan tangan Kevin dadi atas pinggangnya, ia segera membersihkan diri kemudian turun ke dapur. Ayesha tau Kevin samgat menyukai masakannya, oleh karena itu Ayesha akan memasakkan sarapan pagi untuk Kevin dan seluruh keluarganya.
Ayesha memasak nasi goreng dan telur dadar. Meski chef keluarga melarangnya karena merasa tak enak, namun Ayesha memberi pengertian jika ini adalah kemauan Ayesha sendiri memasakan untuk sang suami dan keluarganya.
Audrey turun ke dapur setelah seorang pelayan memberi tahunya jika Ayesha sedang memasakkan sarapan, pelayan itu hanya tidak ingin kena marah karena membuat menantu di keluarga Wiguna memasak.
"Ay, apa yang kau lakukan sayang?" Tanya Audrey dengan heran.
"Aku ingin memasak, Ma. Memasak untuk Kevin."
Audrey melihat Ayesha yang dengan lihai meracik bumbu di atas wajan. "Harum sekali, pasti enak."
"Aku membuat lebih, Ma. Siapa tau ada yang mau memakannya juga."
Audrey tersenyum, "Tentu saja, Mama juga sepertinya juga mau, wanginya begitu menggoda."
Ayesha terkesiap saat ada tangan melingkar dan memeluknya dari belakang. "Apa yang kau lakukan Sayang?" Tanya Kevin dengan sauara berat khas bangun tidur.
"Kev lepas, ada Mama." Kata Ayesha tak enak.
Audrey tertawa, "Sepertinya bangun tidur tadi Kev langsung mencarimu, Ay."
"Tentu saja, Ma. Tiba tiba saja Ay menghilang dari dalam pelukanku." Jawab Kevin dengan random.
"Kev, di saring kalau bicara tuh. Malu." Kata Ayesha yang kini mematikan kompornya.
"Mandi dulu, aku buatkan coklat hangat untukmu." Ujar Ayesha.
"Mandikan." Balas Kevin yang masih bergelayut manja di pundak Ayesha.
Audrey tertawa, "Kenapa Mama seperti melihat Kevin berusia lima tahun."
"Karena kini aku adalah bayinya Ayesha, Ma." Jawab Kevin membuat wajah Ayesha memerah.
"Mama harap kalian segera memiliki bayi agar Kev bisa lebih dewasa lagi." Kata Audrey dengan maksud bercanda.
Namun perkataan Audrey membuat Ayesha mengingat perkataan pedas mantan mertuanya dulu saat Ayesha tak kunjung hamil. Kevin yang melihat perubahan Ayesha segera menyadarinya dan mencoba menjadi penengah.
"Kami selalu berusaha, Ma. Hasil akhir itu tidak penting karena aku menikahi Ayesha untuk menemaniku sampai tua, seperti Mama yang selalu menemani Papa."
__ADS_1
"Ya, tanpa di suruh pasti kau akan slalu berusaha, Kev. Mama tau itu." Audrey tertawa. "Anak adalah bonus di setiap pernikahan, ada dan tidak ada nya anak bukan lah point utama dalam berumah tangga. Yang terpenting kalian slalu bersama, setia dan slalu berbagi dalam hal apapun." Ucap Audrey dengan bijak. Audrey juga tau perubahan Ayesha dan Audrey tidak ingin Ayesha merasa tertekan.
Ayesha melihat ke arah wajah mertuanya itu, wajah yang slalu saja bisa menenangkan, "Ma...."
Audrey tersenyum. "Maaf jika perkataan Mama menyinggung perasaanmu. Tapi percayalah Mama tidak bermaksud untuk menekanmu, kau harus rileks, dan jangan berasa ada beban, fokusmu hanya pada Kev dan tidak dengan yang lain."
Ayesha mengangguk dan memeluk Mama mertuanya itu, bagi Ayesha ini masih seperti keberuntungan yang datang padanya, dicintai suami, di sayang mertua dan di terima oleh ipar iparnya adalah keberuntungan Ayesha setelah Ayesha melewati hidup yang penuh kepahitan dulu.
Kevin pun bernafas lega, ia merasa bersyukur karena memiliki seorang ibu yang begitu lembut dan tidak banyak menuntut, bisa membuat Ayesha nyaman dan juga begitu pengertian.
Mereka sarapan setelah seluruh keluarga turun, Kenzo pun bergabung bersama mereka.
"Ini enak sekali, Ay." Puji Kenzo.
"Berhenti memuji masakan istriku, Ken. Simpan saja pujianmu untuk istrimu nanti." Kata Kevin dengan cuek.
"Oh my god, Kev... Ken hanya memuji masakan Ayesha, bukan memuji kecantikannya." Sahut Keysha.
"Sama saja itu, Key. Ken tidak boleh memuji apapun tentang Ayesha."
"Hei kau lupa, aku dan Ayesha bersahabat baik." Ujar Kenzo tidak ingin kalah.
"Pa, kenapa tidak membelaku?" Tanya Kevin tak terima.
"Ya Tuhan, kau ini Kev seperti bayi beruang yang lucu." Audrey tertawa melihat Kevin yang terlihat manis sekali.
"Ya, Kev adalah anak Mama yang paling manis." Ujar Keysha kemudian ber tos ria dengan Kenzo.
Ayesha merasakan kehangatan dan suasana kekeluargaan di keluarga Kevin. Tidak ada ketegangan dan perdebatan seperti di keluarga mantan suaminya yang dulu.
"Ken.. Kau akan pergi ke perusahaan hari ini?" Tanya Kaisar.
"Agak siangan Pa, aku mau survei rumah sakit yang akan kita pegang renovasinya." Jawab Kenzo.
"Rumah sakit mana, Ken?" Tanya Audrey.
"Rumah skait anak milik dokter Vino, Ma. Tempat Mama menjadi donatur tetap disana."
"Rumah sakit anak dokter Gerald? Baguslah, rumah sakit itu memang perlu perbaikan. Mama harap hasilnya memuaskan."
"Mama bisa percaya hal itu pada Ken. Ken ahli dalam hal itu." Ujar Kenzo percaya diri.
__ADS_1
Selesai sarapan, Kaisar berangkat ke kantor, Kenzo ke rumah sakit sementara Kevin masih ingin cuti pernikahannya. Kenzo mengemudikan mobilnya sendiri, ia menerima panggilan dari salah satu penanggung jawab proyek yang akan di kerjakannya karena sudah ada di lokasi duluan.
Cittttt....
Kenzo mengerem mendadak saat seorang anak kecil menyebrang begitu saja tanpa melihat mobil Kenzo. Kenzo turun dan melihat anak kecil berseragamkan taman kanak kanak itu menangis sambil berjongkok dengan kedua tangan menutup telinganya.
"Hei, kau tidak apa apa?" Tanya Kenzo yang terlihat panik.
Anak kecil bernama Cheryl itu mendongakan wajahnya menatap wajah Kenzo.
"Mereka mengejarku, Uncle." Kata Cheryl menunjuk ke arah dua orang pria berpakaian seperti preman.
"Kau tidak mengenalnya?" Tanya Kenzo dan Cheryl menggelengkan kepalanya.
Kenzo berdiri dan menghadang ke dua pria itu, "Kalian siapanya anak ini?" Tanya Kenzo dengan tatapan tajam.
"Bukan urusanmu." Jawab pria 1 dan hendak memukul Kenzo namun Kenzo menangkap tangannya lalu memelintirnya hingga terdengar suara Krekk dan pria itu mengerang kesakitan.
"Kalian penculik anak anak?"
Pria ke dua itu mencoba menolong temannya namun Kenzo menendangnya dengan kuat hingga jatuh terdorong kebelakang.
Kejadian itu menarik beberapa pengemudi yang melintas dan segera membantu Kenzo.
"Mereka penculik anak, panggil polisi." Kata Kenzo dan beberapa dari orang itu memanggil polisi, ada juga yang mengikat dua pria itu agar tidak kabur.
Kenzo terpaksa menunda pekerjaannya karena harus berurusan dengan polisi sebagai saksi, apalagi anak kecil bernama Cheryl itu tidak mau turun dari gendongan Kenzo dan terlihat ketakutan.
"Kau tau nomer ponsel Ayahmu?" Tanya Kenzo dengan lembut.
Cheryl menggelengkan kepalanya. "Aku tidak memiliki Papa, hanya ada Mama."
"Tau nomer ponselnya?" Tanya Kenzo lagi.
Cheryl menurunkan ranselnya dan memperlihatkan gantungan tas yang berisikan identitasnya. Disana terdapat nomer ponsel seseorang bernama Amanda.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Masuk Season 2 cerita Kenzo dan jodohnya. Tapii Cerita Kevin juga tetap ada ya, mereka satu keluarga jadi ceritanya pasti berkaitan.
Ada yang mau berbaik hati memberiku Vote?
__ADS_1