
"Aku hamil."
Amanda mengusap perutnya yang masih rata itu, lalu ia kembali ke ruangannya dan melihat kembali kalender di ponselnya. Sebagai seorang dokter, meski bukan dokter kandungan, Amanda bisa menghitung berapa usia kehamilannya dari terakhir kali ia mendapatkan masa periodenya. "Tujuh minggu." Gumam Amanda. "Sudah sebesar ini kenapa aku tidak menyadarinya?"
Amanda menggigit bibir bawahnya, ia harus mengatakan hal ini pada Kenzo, namun entah mengapa Amanda menjadi gugup untuk mengatakannya. Amanda belum pernah sekalipun mengatakan kata cinta pada Kenzo, tapi kini bahkan Amanda mengandung kembali benih Kenzo untuk kedua kalinya.
"Aku seperti wanita munafik, belum pernah mengatakan cinta tapi sudah kembali mengandung anak Kenzo." Kata Amanda sambil memejamkan kedua matanya.
Lamunan Amanda terhenti kala ponsel yang masih ia pegang berdering dari nomer yang tak di kenal. Amanda mengangkat telponnya dan ternyata Roy, asisten Kenzo yang menelponnya.
"Nyonya, saya Roy."
"Iya, ada apa Roy."
"Maaf Nyonya, saya ingin menanyakan, jam berapa supir bisa menjemput anda?" Tanya Roy.
"Apa Ken tidak menjemputku? Apa Ken sedang sibuk hari ini?" Tanya Amanda penuh rasa ingin tau.
"Maaf Nyonya, Tuan Kenzo tidak bisa menjemput anda hari ini."
"Kenapa?" Tanya Amanda penasaran.
"Tuan Ken sedang medical check up di rumah sakit Family Medika."
"Medical check up?" Tanya Amanda memastikan.
"Tuan Ken sudah satu minggu ini merasa lambung nya bermasalah karena selalu mual bahkan sampai muntah. Karena itu Tuan Ken menjalankan medical check up." Jelas Roy.
Amanda menghela nafas. "Suruh supir menjemputku sekarang. Aku akan menyusul Ken dan jangan beritahu Ken." Kata Amanda dan Roy segera melaksanakan titah istri bos nya itu.
Dalam waktu tiga puluh menit, Amanda sudah berada di rumah sakit XX menyusul Kenzo, Kenzo tengah beristirahat di kamar VVIP untuk menerima nutrisi dari infusan karena tubuhnya yang merasa lemah.
Amanda masuk dan melihat Kenzo yang tengah berbaring dengan satu tangan menerima infusan dan satu tangannya lagi menutup mata. Amanda mendekat ke arah Kenzo dan terlihat begitu mengkhawatirkannya.
"Ken..."
Kenzo menurunkan satu tangannya dan melihat Amanda di hadapannya. "Amanda.."
Kenzo mencoba duduk dan Amanda membantu menaikan brankarnya agar Kenzo dapat duduk bersandar.
Amanda meraih tangan Kenzo dan menggenggamnya. "Kenapa tidak mengabariku?" Tanya Amanda penuh perhatian.
"Aku takut merepotkanmu." Jawab Kenzo sambil menahan sedikit pusingnya.
"Berarti kamu masih mengaggapku orang lain." Kata Amanda dengan nada sendu. Membuat Kenzo seketika menatap wajahnya.
"Tidak seperti itu, Amanda." sela Kenzo.
"Tapi kenyataannya seperti itu, kamu tidak menganggapku sama sekali." Amanda mencebik.
Kenzo melihat heran ke arah Amanda, lalu menarik dagunya dan mata mereka saling bersitatap. "Apa kau mulai mencintaiku?"
__ADS_1
Amanda menatap dalam mata Kenzo. "Akan ku katakan nanti."
"Kapan?" Tanya Kenzo tak sabar.
"Saat kita selesai bercinta, seperti kamu yang slalu mengatakanya saat kita baru selesai bercinta."
Kenzo tertawa, ia tak menyangka jika Amanda bisa berbicara segamlang ini.
"Ya sudah, ayo kita bercinta." Ajak Kenzo.
"Ish..." Decak Amanda.
"Kenapa?" Tanya Kenzo tak merasa berdosa.
"Kau sedang sakit dan ini di rumah sakit."
"Kalau begitu ayo kita ke hotel, di sebelah rumah sakit ini ada hotel." Ucap Kenzo.
"Kau sedang sakit, Ken."
"Ya, aku sedang sakit dan obatku adalah kamu. Dengan bercinta aku akan sembuh."
"Teori dari mana itu?" Tanya Amanda.
"Dariku dan aku akan mempraktikannya agar kamu percaya." Jawab Kenzo. "Panggilkan suster untuk mencabut infusku."
"Tidak mau."
"Oh ayolah Amanda. Aku butuh bercinta agar aku sembuh."
Kenzo menyipitkan matanya, "Aku tidak sakit, lalu aku kenapa?"
Amanda segera mencari alasan, ia tidak ingin Kenzo mengetahui kehamilan Amanda sekarang, Amanda ingin Kenzo mengetahuinya sendiri atau Amanda akan memberitahukannya nanti saat sudah mengatakan kata cinta pada Kenzo.
"Kau hanya terlalu lelah bekerja." Kata Amanda membuat Kenzo mengangguk.
"Aku bekerja untukmu dan juga Cheryl. Aku bekerja untuk keluarga kecil kita." Kata Kenzo sambil mengusap pipi Amanda.
"Kita pulamg saja ke rumah, entah mengapa hari ini aku rindu sekali pada Cheryl." Ucap Amanda, dan Kenzo melihat kesedihan di wajah Amanda.
"Ada apa?"
Amanda menggelengkan kepalanya. "Rasanya baru kemarin aku melahirkan Cheryl. Hari ini aku begitu merindukannya."
Kenzo bisa memahami perasaan Amanda meski terkesan aneh untuknya karena Amanda menjadi sesensitif ini. "Baiklah, setelah infusku habis kita pulang."
Tidak menunggu lama, Roy menjemput bos dan istrinya itu lalu mengantar pulang. Sepanjang perjalanan, Kenzo menyandarkan kepalanya di bahu Amanda dan Amanda mengusap kepala Kenzo. Kenzo dapat merasakan keperdulian Amanda terhadap dirinya, bahkan Kenzo yakin jika Amanda sudah mencintainya meski belum mengatakannya.
Cheryl berlari ke arah Amanda dan Kenzo saat mereka memasuki rumah. Kenzo segera menangkap Cheryl dan menggendongnya.
"Papa dan Mama pulang cepat sekali." Kata Cheryl.
__ADS_1
"Mama bilang merindukanmu." Jawab Kenzo.
"Papa tidak melindukanku?" Tanya Cheryl sambil memainkan dasi Kenzo yang sudah longgar.
"Sangat merindukanmu, itulah mengapa Papa pulang bersama Mama." Jawab Kenzo.
"Ayo turun, Cheryl. Papa sedang sakit." Bujuk Amanda.
"Papa sakit?"
Kenzo mencium gemas pipi Cheryl, "Papa hanya butuh tidur."
"Kalau begitu ayo tidul sama aku." Ajak Cheryl dan Kenzo pun membawa Cheryl juga Amanda ke dalam kamar.
Amanda memilih membersihkan diri sementara itu Kenzo dan Cheryl tertidur di atas tempat tidur. Selesai membersihkan diri, Amanda duduk di tepi ranjang dan melihat Kenzo dan Cheryl yang tidur dan saling memeluk satu sama lain. Amanda tersenyum sementara tangannya mengusap perutnya yang masih rata itu.
"Keluarga kecil." Gumam Amanda dalam hatinya.
Sedari kecil Amanda slalu bermimpi untuk memiliki keluarga kecil dan kini impiannya terwujud meski dengan awal yang salah tanpa sebuah kesengajaan.
Amanda turun ke bawah dan ikut berkumpul bersama Ayesha dan Audrey.
"Amanda, sini nak." Ajak Audrey dan Amanda duduk di sebelah Ayesha.
"Tumben pulang cepat." Kata Ayesha.
"Iya, Ay. Aku sedang lelah dan ingin istirahat." Jawab Amanda.
"Lho kenapa sekarang tidak istirahat saja di kamar." Sahut Audrey.
"Tidak Ma, setelah mandi aku malah jadi tidak ngantuk. Melihat Ken dan Cheryl tidur, ngantukku jadi hilang." Jawab Amanda tertawa.
Audrey tersenyum. "Mama senang melihat rumah tanggamu dan Kenzo berjalan tanpa masalah. Beri tahu Mama jika Ken menyusahkanmu."
"Tidak, Ma. Ken benar benar bertanggung jawab padaku juga Cheryl."
"Sekarang Ken terlihat lebih dewasa ya, Ma?" Tanya Ayesha.
"Iya Ay, baik Ken juga Kevin terlihat lebih dewasa setelah mereka menikah dan Mama bersyukur mereka mendapatkan istri yang baik seperti kalian."
Ayesha dan Amanda sama sama tersenyum, mereka pun bersgukur mendapatkan ibu mertua yang baik dan sauadara ipar yang juga begitu baik.
Amanda mulai berpikir untuk memberitahu Kenzo tentang kehamilannya, ia juga ingin mertuanya bahagia karena mengetahui akan mendapatkan cucu kembali.
Amanda mengusap perut Ayesha yang sudah membuncit, "Perutmu terlihat besar sekali."
Ayesha tertawa, "Karena ada empat bayi di perutku, Amanda."
"Smoga jika nanti kau hamil, kau juga mendapatkan anak kembar, Amanda." Sahut Audrey mendoakan.
Amanda hanya tersenyum, dalam hatinya pun ingin sekali mengandung bayi kembar agar keluarganya kecilnya menjadi ramai.
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Like, Koment, hadiah dan Vote sangat berarti untuk menaikan semangatku dalam menulis bab selanjutnya 🙏