
Mereka makan siang bersama dengan kebersamaan yang hangat, Ayesha bahkan tidak merasa canggung sama sekali.
Selesai makan siang mereka lanjut bercengkrama di taman belakang. Kevin membicarakan bisnisnya bersama Kaisar sang Ayah, sementara Ayesha bersama Audrey dan juga Keysha membicarakan hal lain seputar perempuan.
"Jadi kamu tidak lagi bekerja, Ay?" Tanya Key.
Ayesha menggelengkan kepalanya. "Kevin bilang dia lebih senang jika aku hanya fokus padanya, tapi Kevin juga tidak memaksa. Jadi aku belum mengambil keputusan dan untuk sementara aku masih mengajukan cuti dulu."
"Lakukanlah apa yang membuatmu nyaman, Ay. Jika tidak bisa meninggalkan pekerjaanmu, berilah pengertian pada Kev, ingatlah dalam berumah tangga itu komunikasi adalah hal paling utama." Kata Audrey dengan bijak.
"Iya. Ma... Kev juga bicara seperti itu padaku."
Audrey merasa lega karena melihat Kevin yang bisa dewasa dalam berumah tangga, juga karena Ayesha bukan wanita keras kepala dan bisa memahami Kevin.
Selesai berbincang santai mereka kembali ke kamarnya masing masing. Untuk pertama kalinya Ayesha masuk ke kamar Kevin di rumah orang tuanya itu.
"Mama benar benar merubah kamarku." Kata Kevin sambil tersemyum saat mengedarkan pandangannya ke sekeliling kamar.
"Memang apa yang di rubah?" Tanya Ayesha.
"Kamar ini berubah lebih cerah, seprai, karpet dan goden nya tidak lagi berwarna gelap, ada bunga yang cantik di atas meja, nakas dan kini ada meja rias di dalam walk in closet, pasti karna Mama ingin membuatmu nyaman disini."
Ayesha pun ikut tersenyum, tak menyangka jika sang mertua memperhatikan hingga sejauh ini. Bahkan di dalam walk in closet, sudah beberapa lemari terisi tas serta sepatu juga makeup dari berbagai branded yang merupakan hadiah pernikahan dari mertuanya itu.
Kevin memeluk Ayesha dari belakang. "Suka?" tanyanya tepat berbisik di telinga sang istri.
Ayesha mengangguk. "Apapun yang di lakukan Mama, aku menyukainya. Bahkan makanan yang tadi aku makan juga enak sekali."
"Mau tinggal di sini?"
Ayesha membalikkan tubuhnya menghadap Kevin. "Tidak ada alasan untukku tidak betah di rumah ini. Aku merasa betah di sini, By..."
**
"Copeeettt." Teriak seorang wanita saat menyadari seseorang mengambil dompet di dalam tasnya.
Teriakan itu membuat semua orang melihat ke arah Ratna yang terlihat pucat karena ketahuan sedang mencopet.
__ADS_1
Ratna berlari sekuat tenaga meski tidak kencang karena kondisinya yang sudah tua ketika banyak orang yang mengejarnya.
Ya, Ratna terpaksa menjadi copet karena tidak mau bekerja yang menurutnya membuatnya lelah dengan gaji tidak seberapa. Awalnya Ratna hanya mencoba coba dan setelah aksinya berhasil Ratna menjadi ketagihan dan terus mencopet.
Namun sialnya hari ini Ratna kepergok oleh orang yang akan di copetnya dan menteriakinya copet, membuat Ratna di kejar oleh masa yang berada di sekitar tempatnya beroperasi.
Ratna menaiki sebuah ojeg online yang baru saja menurunkan penumpangnya, "Ayo bang, cepat pergi." Kata Ratna sambil menepuk pundak ojeg online itu.
Ojeg online itu melihat ke arah Ratna yang tengah di kejar banyak orang dan segera menarik gas motornya untuk melaju meninggalkan pasar.
Nafas Ratna terengah engah merasa bersyukur telah lolos dari kejaran masa, namun Ratna terkejut saat ojeg online itu menurunkan Ratna di pinggir jalan yang cukup sepi.
"Koq berhenti sih bang, takut saya gak bayar ya?" Ketus Ratna.
Ojeg online itu turun dan menghadap ke arah Ratna yang masih duduk di belakang jok motornya lalu membuka helm nya.
"Rama." Pekik Ratna tak percaya.
"Ibu jadi copet sekarang?" Tanya Rama balik.
Rama menghela nafas, dua tahun lebih ia tidak bertemu dan mencari sang ibu tetapi kelakuan Ratna tetap saja tidak berubah.
"Di mana Mbak Mira bu?" Tanya Rama mengalihkan pembicaraan.
"Mira ibu nikahkan dengan lelaki yang sudah punya enam istri, tapi maksud ibu biar hidupnya enak, tapi sama suaminya malah di jadikan taruhan judi dan sekarang Mira mengalami gangguan jiwa, sama suaminya di taruh di rumah sakit jiwa karna ibu gak mau nerima dan akan mengancam melaporkannya."
"Apa?" Pekik Rama. "Ibu menjual Mbak Mira?"
"Ibu tidak menjualnya, hanya menikahkan Mira untuk jadi istri ke tujuh, gak tau kalau suaminya ternyata suka main judi dan mempertaruhkan istri istrinya." Kata Ratna membela diri.
Rama mengusap wajahnya kasar, tidak mengerti jalan pikiran sang ibu. Rama tidak menyangka sang ibu tega melakukan hal keji pada anak perempuannya sendiri.
"Kamu sendiri kenapa pake jaket tukang ojeg?" Tanya Ratna yang melihat Rama memakai jaket berwarna hijau hitam khas driver ojeg online.
"Rama di pecat dari kantor dan sulit mendapatkan pekerjaan karena status terakhir Rama di pecat secara tidak hormat. Semua perusahaan seolah memblacklist Rama dan tidak ada yang mau memperkerjakan Rama."
"Terus dimana wanita ular itu?" Tanya Ratna dan wanita yang di maksud adalah Tiara.
__ADS_1
"Sudah Rama ceraikan karena ternyata anak itu bukan anak Rama, Bu. Rama mencari ibu dan Mbak Mira tetapi gak letemu, sampai Rama habis uang dan menjual mobil lalu membelikan motor ini." Kata Rama bercerita.
"Mendengar hal itu, Ratna bukannya iba melainkan menyalahkan Rama. "Kamu sih, pake selingkuh segala, coba kalau masih sama Ayehsa, bisa naik drajat kita."
"Kok ibu nyalahin Rama? Ibu sendiri yang sering menyiksa Ayesha."
"Iyalah, itu karena ibu tidak tau Ayesha anak konglomerat. Kalau tau pasti ibu baik baikin dan bujuk bujukin supaya mau kembali ke keluarganya dan nerima pernikahan kalian dulu." Ketus Ratna.
Rama hanya menghela nafas nya saja. "Sudahlah, Bu. Ayesha juga sudah bahagia menikah dengan pria lain yang sebanding dengan keluarganya."
"Payah kamu, tidak bisa mengambil hati Ayesha gara gara wanita ular itu. Coba kalau kamu tidak selingkuh, kamu pasti masih kerja di perusahaanmu itu."
Rama hanya menunduk, "Ini karma kita, Bu." Kata Rama.
"Enak saja, ibu sih gak merasa." Balas Ratna tak mau mengakui kesalahannya.
"Sekarang ibu tinggal dimana?" Tanya Rama.
"Kontrakan, tapi sewanya sudah mau habis."
"Ya sudah ayo tinggal sama Rama, dan Rama mau jenguk Mbak Mira."
Setelah mengantar Ratna mengambil barang barangnya dan pindah ke kontrakan Rama, mereka pun mendatangi sebuah rumah sakit jiwa tempat dimana Mira di rawat.
"Harusnya Ibu melaporkan suami Mbak Ratna." Kata Rama dengan kesal.
"Kalau di laporkan, siapa yang biayain Mira disini? Ibu gak mau ngurus Mira, kalau dia lagi kambuh, bisa nyerang siapa aja." Jawab Ratna.
Lagi lagi Rama hanya bisa menggeleng gelengkan kepalanya, tidak pernah bisa mengerti apa yang ada dalam pikiran ibunya. Entah terbuat dari apa hati Ratna hingga memiliki sifat egois dan jahat terhadap anaknya sendiri.
Rama melihat kondisi Mira yang begitu menyedihkan, tatapan kosong dan tidak mengenali siapapun.
"Mbak..." Panggil Rama dan menggenggam tangan Mira.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Mohon maaf baru bisa Update, aku sedang berduka marena Ibuku meninggal dunia dua hari yang lalu. Mohon maklum jika aku jarang up untuk sekarang sekarang ini ya 🙏
__ADS_1