Jodoh Sama Mantan

Jodoh Sama Mantan
BAB 75


__ADS_3

Hubungan Keysha dan Sakha pun hanya sebatas atasan dan bawahan. Keysha masih belum bisa membuka hati apa lagi itu pada Sakha adik dari kekasih hatinya yang sudah meninggal dulu.


Sakha terus memikirkan cara mendekati Keysha. Berbagai cara ia lakukan namun Sakha masih merasa hubungannya dengan Keysha berjakan di tempat.


"Wanita yang unik, sulit sekali di dekati. Pantas saja Kak Zein begitu mencintainya." Gumam Sakha.


Pagi ini Keysha mendapatkan lagi dan lagi satu tangkai bunga mawar putih di atas meja kerjanya, ini bukan kali pertama Keysha mendapatkannya, bahkan sudah hampir satu bulan ini Keysha slalu mendapatkan setangkai bunga mawar putih kesukaannya itu.


"Apa Kak Zein memberitahu Sakha soalku dulu?" Tanya Keysha dalam hatinya.


Keysha tidak mau memikirkannya, Sakha dan Zein adalah orang yang berbeda, namun entah mengapa Sakha seolah menjelma menjadi sosok Zein yang slalu Keysha rindui.


Siang ini tim kreatif akan meeting bersama pimpinan mereka untuk mengetahui sampai dimana kemajuan konsep setiap bulannya untuk memajukan perusahaan mereka.


Keysha menjadi penanggung jawab sekaligus mempersentasikan apa yang sudah direncanakan oleh tim kreatifitasnya. Sakha melihat Keysha dengan intens, membuat Keysha menjadi tidak nyaman. Namun Keysha tetap bersikap profesional hingga persentasinya selesai.


Meeting pun selesai, semua merapihkan berkas berkasnya dan hendak kembali ke meja kerjanya masing masing. Namun Sakha memanggil nama Keysha dengan alasan akan mendiskusikan suatu hal.


Keysha tidak bisa menolaknya, ia tetap mencoba profesional dan mengikuti Sakha ke dalam ruangannya.


"Kha..." Panggil Vivian saat melihat Sakha masuk ke dalam ruangannya.


"Sedang apa kau disini?" Tanya Sakha tak suka.


Vivian melihat ke arah Keysha yang berada di dekat Sakha dan hal itu membuat Vivian merasa geram.


"Kau pasti menggoda Sakha." Tuduh Vivian.


Keysha memutar malas bola matanya, sedari dulu Keysha terlalu malas berurusan dengan Vivian.


"Vivian, keluar dari ruanganku." Tegas Sakha.


"Kha, jangan dekat dekat dia. Dia hanya pembawa sial. Kak Zein meninggal karena wanita ini." Tuduh Vivian lagi.


"Diam, Vi!!." Tegas Sakha. "Kak Zein meninggal karena kecelakaan, bukan karena Keysha." Bela Sakha.

__ADS_1


Vivian mengepalkan tangannya, lagi lagi ia merasa jika akan kalah dari Keysha dalam menjalin hubungan dengan keturunan Abimana meskipun Sakha hanya anak haram yang kini menjadi pewaris tunggal Abimana setelah Zein meninggal.


"Pak Sakha, bisakah kita tunda dulu untuk mebahas pekerjaanku?" Tanya Keysha seolah malas untuk menghadapi Vivian.


"Tidak, biar Vivian yang pergi dari sini." Kata Sakha.


"Kha, ingat ya, keluargaku yang membantumu menjadi pewaris tunggal Abimana, dan ini balasanmu padaku?" Tanya Vivian.


Sakha tersenyum smirk. "Aku tidak pernah berharap mendapat warisan Abimana sepeserpun. Keluargamu lah yang serakah menginginkan harta keluarga Abimana dengan menjeratku." Desis Sakha.


"Aku bisa menghancurkanmu, Sakha." Balas Vivian.


"Silahkan, kau dan keluargamu bukan Tuhan yang bisa menghancurkanku." Kata Sakha tak gentar.


Vivian menghentakan kakinya kemudian pergi meninggalkan ruangan Sakha. Sakha memijat pangkal hidungnya mencoba menjernihkan pikirannya.


Keysha berdehem membuat Sakha melihat ke arah Keysha.


"Key, bisa temani aku ke satu tempat?" Tanya Sakha.


Keysha yang melihat sorot mata sendu Sakha, mengangguk seketika. Sakha membawa Keysha ke sebuah cafe yang berada di dataran tinggi sambil menikmati udara bersih yang jauh dari bisingnya kota. Mereka duduk berdua di balkon cafe yang menyuguhkan pemandangan hijau.


Sakha meminum kopi di cangkirnya, "Aku tidak melibatkanmu." Ucapnya setenang mungkin. "Aku juga memang tidak berniat mendapatkan warisan keluarga Abimana, aku sadar diri jika aku hanyalah anak haram yang tidak di harapkan." Imbuhnya lagi.


Keysha menatap wajah Sakha yang pandangannya lurus kedepan menatap pemandangan di hadapan mereka.


"Jangan mengasihani aku, Key." Sakha tersadar jika sedari tadi Keysha menatapnya. "Aku bisa mengenalmu karena Kak Zein, dan pertemuan terakhirku dengan Kak Zein adalah saat di Rusia Kak Zein menjengukku, ia mengatakan padaku, jika aku harus mengenalmu dan bisa menjagamu jika Kak Zein tidak ada." Ucapnya lalu menoleh ke arah Keysha. "Itulah pesan terakhirnya dan aku tidak menyangka jika pesan terakhirnya membuatku kembali ke negara ini."


"Abaikan apa kata Kak Zein, Kha. Kita bisa jadi teman, atau lebih tepatnya hanya sebatas atasan dan bawahan di tempat kerja." ucap Keysha.


Sakha mengangguk, "Andai aku bisa mengabaikannya pasti aku sudah melakukannya, Key." Sakha menghela nafasnya sejenak. "Aku tidak bisa mengabaikanmu."


"Terimalah Vivian maka kamu akan bisa mengabaikan apa kata Kak Zein, Kha." Ucap Keysha


"Tidak semudah itu, Key. Keluarga Vivian hanya ingin harta keluarga Abimana saja. Dan aku tidak takut kehilangan apapun kecuali apa yang ditipikan oleh Kak Zein padaku." Sakha menatap dalam mata Keysha, "Yaitu kamu."

__ADS_1


"Aku bukan barang, Aku..."


"Ya kamu memang bukan barang yang bisa di titipkan." Sahut Sakha dengan cepat. "Tapi kamu adalah wanita yang slalu Kak Zein banggakan, yang Kak Zein cintai dan ternyata akupun menyukaimu, Key." Aku Sakha.


Keysha tertawa pelan, "Jangan menggombal padaku, Kha. Aku bukan type wanita yang suka di gombalin oleh pria."


Sakha tersenyum, Keysha memang berbeda, ia tidak seperti wanita lain yang senang di puji dan terbuai dengan rayuan.


"Jika aku bukan adik Kak Zein, apa kau akan memberiku kesempatan untuk mendekatimu?" Tanya Sakha membuat Keysha tidak bisa berkta apapun.


Tidak Keysha pungkiri jika Sakha memang pria yang sangat tampan, baik, ramah, juga mapan. Bahkan Sakha tidak serakah dengan harta peninggalan keluarga Abimana, terbukti jika Sakha belum mengambil alih perusahaan Abimana dan malah mengakuisisi perusahaan lain dan mengembangkannya sendiri.


Keysha tidak menjawab apapun, ia hanya memberikan senyum pada Sakha yang Sakha sendiri tidak tau apa arti senyuman itu.


**


Kenzo merasa tubuhnya tidak nyaman, kepalanya pusing dan selalu merasa mual jika mencium aroma makanan. Bahkan Kenzo seperti bermusuhan dengan nasi, karna hanya dengan melihatnya saja, membuat Kenzo mual dan mengeluarkan isi perutnya.


"Oh ada apa denganku? Apa karena asam lambungku?" Tanya Kenzo sambil memijat pelipisnya dan menghirup sapu tangan yang sudah di beri tetesan minyak kayu putih.


Kenzo memutuskan memeriksakan dirinya ke rumah sakit, sudah cukup lama Kenzo tidak melakukan medical check up dan kini ia ingin melakukan semuanya untuk mendeteksi apa yang terjadi pada dirinya.


Amanda merasa heran karena hari ini belum mendapatkan pesan dari Kenzo. Biasanya Kenzo slalu rajin memberinya pesan setiap waktu, misalnya untuk mengingatkan Amanda makan.


Amanda membuka ponselnya namun tak ia dapati satu pesanpun dari Kenzo. Amanda menghela nafas dan menyandarkan tubuhnya di kursi kerjanya. "Apa Ken sibuk sekali hari ini?" Tanya Amanda dalam hatinya. "Apa aku yang telpon saja, ya?" Tanya Amanda lagi namun Amanda menggeleng gelengkan kepalanya.


Amanda membuka aplikasi kalender di ponselnya, ia ingin mengajukan cuti dan mengajak Cheryl berlibur di pantai, namun Amanda mengernyitkan dahinya saat menyadari jika dirinya belum menandai masa periodenya di kalender ponsel miliknya bulan ini.


Amanda membekap mulutnya sendiri dan menyadari jika sudah satu bulan ini tidak mendapatkan masa periodenya, namun Amanda tidak merasakan apapun. "Aku terlalu terlena oleh permainan ranjang Ken setiap malam, sampai aku tidak menyadari jika bulan ini aku tidak datang bulan." Gumam Amanda.


Amanda berdiri dan segera menuju bagian farmasi di rumah sakit tempatnya bekerja, Amanda membeli dua buah tespek dan langsung mencobanya saat itu juga.


Amanda menahan nafasnya saat melihat kedua benda pipih itu, lalu saat sudah terlihat jelas, Amanda menghembuskan nafas kasarnya.


"Aku hamil."

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Yeayyy yang tadi nebak Amanda hamil, kalian luar biasaa 🤩


__ADS_2