
"Kau beri nama dia Cheryl?" Tanya Kenzo.
Amanda mengangguk, "Ku beri nama Cheryl, yang berarti cahaya yang terang. Aku berharap Cheryl menjadi cahaya terangku di hari hariku yang slalu gelap."
"Nama yang cantik." Puji Kenzo.
Amanda mengangguk, "Cheryl sangat berarti untukku."
"Kau tidak mencoba mencari tau siapa Ayah Cheryl?"
Amanda menggelengkan kepalanya. "Aku tidak punya cukup uang untuk kembali ke Inggris dan mencari tau siapa pria yang meniduriku malam itu. Belum lagi harus membuat Passport juga visa untuk Cheryl."
"Apa yang kau lakukan jika bertemu dengan ayahnya Cheryl?" Tanya Kenzo ingin tau.
Amanda menggelengkan kepalanya. "Aku tidak tau, bisa saja pria itu adalah pria yang memang tidak bertanggung jawab, bukankah hanya pria breng*sek saja yang suka membooking kamar di sebuah club? Lagi pula aku tidak banyak berharap."
Kenzo terdiam, semua kata kata Amanda bagai belati yang menghujam jantungnya.
"Bagaimana jika ternyata dia mencarimu?" Tanya Kenzo ingin tau reaksi Amanda.
"Untuk apa? Cheryl adalah milikku seorang, aku tidak ingin dia datang dan mengambil Cheryl dariku."
Kenzo terdiam, ia bingung harus mulai mengatakan dari mana jika pria di malam itu adalah dirinya.
"Beri tahu aku besok kita mau kemana?" Tanya Amanda mengalihkan pembicaraan.
"Ke sebuah yayasan penyalur tenaga kerja untuk pengasuh."
Amanda mengernyitkan dahinya. "Hei, itu mahal sekali. Aku tidak sanggup membayar sewanya."
"Itu akan menjadi urusanku. Mulai hari ini apapun tentang Cheryl akan menjadi urusanku juga." Ucap Kenzo.
"Apa maksudmu, Cheryl masih memilikiku sebagai seorang ibu."
"Amanda.." Panggil Kenzo dengan begitu tenang. "Aku tidak bermaksud menyinggungmu, tapi aku hanya memikirkan masa depan Cheryl, tidak baik untuk Cheryl jika terus terusan ikut bersamamu ke rumah sakit, Cheryl juga harus mengenal dunia lain seperti di tempatnya belajar. Aku hanya membantu dalam hal ini saja, mengadakan pengasuh yang bisa di percaya untuk menjaga Cheryl selama kau bekerja." Kata Kenzo yang membuat Amanda berpikir.
__ADS_1
"Aku tidak ada maksud lain, sebagai teman aku hanya ingin membantumu." Ucap Kenzo lagi untuk meyakinkan Amanda.
Amanda terdiam dan mencoba berpikir dengan jernih, memang benar jika Amanda tidak bisa selalu membawa Cheryl ke rumah sakit terus menerus, Cheryl juga harus mendapatkan pendidikan dan bermain di lingkungan lain.
"Tapi bagaimana jika kejadian penculikan itu terjadi lagi?" Tanya Amanda.
Kenzo mengangguk, "Aku sudah memikirkan hal ini matang matang. Pertama, aku mencari pengasuh dari agensi terpercaya. Yang ke dua, besok aku akan memasang alat alat gps di sepatu Cheryl yang bisa terhubung ke ponselmu juga ponselku. Kita berdua bisa memantau lokasi Cheryl dari mana saja." Ucap Kenzo dan Amanda masih diam berpikir.
"Aku tidak enak padamu, biaya sewa pengasuh saja pasti sudah mahal, apa lagi alat gps."
"Jangan pikirkan hal itu." Pinta Kenzo. "Ijinkan aku untuk menyayangi Cheryl juga. Kita bisa menjadi teman untuk partner yang baik dalam menjaga Cheryl."
Amanda menatap kedua mata Kenzo, mata yang memperlihatkan ketulusan dan tidak ada niat jahat dalam tatapannya. "Kenapa kau mau melakukan hal ini padaku?" Tanya Amanda.
"Kau mau tau jawabannya?" Tanya Kenzo dan Amanda mengangguk. "Jawabanku sama seperti jawabanmu, mengapa kamu mau mengandung, melahirkan dan merawat Cheryl padahal kamu tidak tau siapa ayahnya."
"Itu naluri, Ken." Jawab Amanda.
"Ya, itu naluri dan naluri itu Tuhan yang menciptakan, kita tidak bisa menolaknya meski kita sangat ingin menolaknya. Bukankah begitu?"
"Percaya padaku, ya. Mulai sekarang kita ini teman dan partner yang solid untuk Cheryl." Ucap Kenzo dengan serius.
Amanda mengangguk dan mencoba menerima kebaikan Kenzo padanya.
"Deal?" Tanya Kenzo sambil mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan.
Amanda membalas jabatan tangan Kenzo. "Terimakasih, Ken." Balas Amanda meski masih ada rasa tidak enak di hatinya.
**
Sementara itu, Amanda tengah menatap wajah Cheryl yang tengah tertidur pulas, Amanda mengusap poni Cheryl yang menutupi keningnya, entah apa yang Amanda pikirkan, yang jelas tiba tiba saja perasaan Amanda menjadi tidak karuan. Ada rasa takut, rasa ingin marah, namun entah mengapa Amanda juga merasakan ada rasa nyaman yang menelusup di hatinya.
"Sebenarnya apa tujuan Kenzo? Mengapa aku merasa seperti pernah mengenalnya? Tapi dimana?" Lirih Amanda penuh tanya.
Amanda benar benar merasa tidak asing dengan Kenzo, mencoba menelusuri siapa Kenzo sebenarnya, namun ia tak kunjung mendapati jawaban jawaban itu.
__ADS_1
"Apakah Papamu bisa menerimamu jika tau kamu ada di dunia ini?" Tanya Amanda pada putrinya yang tertidur nyenyak.
Amanda memejamkan kedua matanya, mengenal sosok ayah Cheryl saja tidak, bagaimana bisa Amanda berharap lebih. "Kasihan sekali kamu. Nak. Nasibmu hampir sama seperti Mama, tapi setidaknya kamu lebih beruntung. Memiliki Mama yang akan berjuang mengorbankan apapun untukmu, sementara dulu Mama tidak memiliki siapapun dan terbuang di panti begitu saja."
Amanda membaringkan tubuhnya di sebelah Cheryl, tidur sambil memeluk tubuh mungil Cheryl. Amanda tidak mau berharap lebih pada siapapun. Baginya Chery adalah tanggung jawabnya, Kenzo hanya orang lain yang kebetulan datang untuk membantu mereka karena merasa iba. Selebihnya Amanda tetap mengandalkan dirinya sendiri hingga kehidupan mereka stabil dengan sendirinya.
Berbeda dengan Kenzo, Kenzo pulang dengan perasaan lega, setidaknya masalah Cheryl sudah bisa teratasi, Kenzo memang sudah berniat mencarikan seorang pengasuh untuk Cheryl agar Cheryl tidak selalu ikut ke rumah sakit dan bisa bersekolah kembali.
Kenzo sudah memikirkan matang matang untuk ikut berperan dalam mengasuh Cheryl karna Kenzo yakin jika Chery adalah darah dagingnya sendiri.
Jika besok hasil test DNA menunjukan Cheryl adalah putrinya, Kenzo akan mendekati Amanda dan membuat Amanda untuk jatuh cinta pada Kenzo, Kenzo juga akan berencana mengatakan pada Amanda soal kesalah pahaman saat di Inggris lima tahun silam.
Kenzo menghela nafasnya, 99% Kenzo yakin jika Cheryl adalah putrinya. Rasanya ia tak sabar menunggu hari esok untuk segera mengetahui kebenarannya.
"Amanda...." Gumam Kenzo sambil menatap langit langit kamarnya. "Maafkan aku, Amanda. Aku akan bertanggung jawab penuh. Aku akan membuatmu bahagia, Aku akan menebus semuanya, menjadi Papa yang sempurna untuk Cheryl dan juga suami untukmu."
Kenzo akan fokus pada Cheryl dan Amanda, setelah itu ia akan berterus terang pada keluarganya tentang kesalahannya hingga membuat Cheryl hadir di dunia ini. Kenzo yakin jika orang tuanya akan menerima Amanda dengan tangan terbuka sama seperti saat mereka menerima Ayesha menjadi istri Kevin.
Kenzo hanya berharap jika sang Mama tidak shock mendengar pengakuan Kenzo nanti, Kenzo juga berharap hal yang sama pada Amanda dan berharap agar Amanda mau menerima juga memaafkannya demi Cheryl.
Kenzo mengusap wajahnya kasar, rasanya ia ingin melewati malam ini dengan cepat dan segera hari esok untuk kembali bertemu dengan dua wanita yang kini mengisi hatinya. Cheyl dan Amanda.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Note:
Satu Like,
Satu Vote,
Satu Komentar dari kalian,
Sangat berarti untukku menaikkan Novel ini.
Please jangan jadi silence readers.
__ADS_1