
Belum sempat pertanyaan itu di jawab oleh Amanda. Kevin, Kenzo dan Cheryl datang kembali ke meja mereka.
"Ma, lihat ini. Daddy Kev membelikanku mainan." Kata Chery dengan senang.
"Cheryl bilang apa?" Tanya Amanda mengingatkan.
"Ah, aku lupa." Cheryl menutup mulutnya karena malu. Kemudian Cheryl melihat ke arah Kevin. "Telimakasih Daddy Kev." Ucapnya dengan senyum yang menampilkan jejeran gigi susunya.
Kevin hanya membalasnya dengan tersenyum.
"Ucapkan terimakasih juga pada Mommy Ay, Cheryl." Kata Kenzo mengajarkannya.
"Telimakasih juga Mommy Ay." Ucap Cheryl.
Ayesha juga memberikan senyumnya pada Cheryl.
Kevin dan Ayesha memilih pulang duluan karena Ayesha merasa tubuhnya sangat lelah. Kevin pun terlihat cemas karena melihat Ayesha yang tiba tiba saja wajahnya menjadi sedikit pucat.
Sementara itu Kenzo mengantar Amanda dan Cheryl kembali pulang ke apartemen. Cheryl tertidur dan Kenzo menidurkannya di kamar, lalu Kenzo keluar untuk mengobrol bersama Amanda di ruang tamu.
"Kamu ngobrol apa saja sama Ayesha?" Tanya Kenzo.
"Hanya ngobrol biasa." Jawab Amanda. "Tadinya aku kira dia kekasihmu, karena itu kamu memanggilnya Ay."
Kenzo tertawa, "Malah yang mereka tau, kamu yang kekasihku." Kata Kenzo membuat Amanda menatapnya tajam seketika.
"Lho, kenapa?" Tanya Kenzo. "Kita malah bukan seperti sepasang kekasih, melainkan sudah percis seperti keluarga kecil yang bahagia."
"Kita hanya teman, Ken." Sahut Amanda dengan cepat.
"Tidak, aku ini sudah menjadi Papanya Cheryl. Berarti suamimu juga." Jawab Kenzo dengan santai.
Amanda melempar bantal sofa ke arah Kenzo. "Apa sih?"
Kenzo tersenyum usil melihat Amanda yang terlihat salah tingkah, "Kita bukan remaja, Amanda. Kita sudah dewasa dan pernyataan cinta itu tidak penting. Yang terpenting aku dan kamu sama sama nyaman ya ayo kita jalani."
"Kamu sendiri yang bilang kita ini teman dan hanya jadi partner untuk Cheryl." Balas Amanda.
"Tapi tidak selamanya, Amanda. Aku sudah nyaman sekali bersamamu dan aku berencana menikahimu secepatnya."
__ADS_1
"Menikah?"
Kenzo mengangguk. "Kita akan menjadi orang tua yang sesungguhnya untuk Cheryl."
Amanda berdiri dari duduknya dan menggelengkan kepalanya. "Gila kamu!!"
Kenzo pun ikut berdiri lalu menahan lengan Amanda yang ingin meninggalkannya. "Aku serius, Amanda. Aku ingin menikahimu."
"Menikahiku karena Cheryl? Aku tidak butuh seorang pria dalam hidupku. Kamu datang dan masuk ke dalam hidupku dan Cheryl saja sudah membuatku tidak nyaman, Ken. Aku akan pergi membawa Cheryl dan jangan pernah ganggu kami lagi." Ucap Amanda dengan rasa penuh Amarah sambil mencoba melepaskan cekalan tangan Kenzo.
Namun Kenzo tetap mencekalnya dengan kuat, bahkan Kenzo menarik pinggang Amanda agar Amanda tidak memberontaknya lagi. "Aku tidak bisa melepasmu." Kata Kenzo dengan tatapan serius.
"Kenapa?" Amanda menatap tajam mata Kenzo.
Kenzo menatap dalam mata Amanda, mata yang pernah ia tatap saat lima tahun lalu, mata yang mungkin membuat Kenzo jatuh cinta pada pandangan pertamanya.
"Aku mencintaimu." Kata Kenzo dengan tatapan penuh cinta.
Amanda membuang pandangannya namun Kenzo kembali mengalihkannya dengan menarik lembut dagunya. "Aku Mencintaimu, Amanda."
"Bohong."
Amanda hanya diam, namun matanya tidak lepas dari mata Kenzo.
"Katakan jika memang kau tidak nyaman denganku?" Ucap Kenzo berbisik.
"Katakan, Amanda." Kata Kenzo karena Amanda hanya diam saja.
"Amanda....."
"Lepaskan aku, Ken."
Kenzo membeku,
"Lepaskan aku dan Cheryl." Kata Amanda lagi.
"Berhenti bertanggung jawab soal Cheryl karena Cheryl bukanlah tanggung jawabmu, Cheryl adalah anakku dan hanya akan menjadi tanggung jawabku. Kau tidak ada hubungan apapun dengan Cheryl." Tekan Amanda.
Amanda melepaskan diri dari Kenzo dan segera masuk ke kamar. Ia mengemasi barang barangnya dan juga barang milik Cheryl, Amanda akan pindah ke apartement lamanya karena sewa apartement itu masih ada beberapa bulan lagi.
__ADS_1
Kenzo segera menyusul Amanda ke dalam kamar, "Amanda tolong jangan pergi. Maafkan aku Amanda." Pinta Kenzo yang terlihat panik.
"Aku salah karena aku mengikuti kemauanmu untuk pindah kesini. Stop memberiku bantuan dalam hal apapun, Ken."
"Amanda, jangan pergi, biar aku saja yang pergi. Tolong tetaplah tinggal disini demi Cheryl."
Amanda melihat ke arah Kenzo yang terlihat begitu khawatir.
"Jangan pergi Amanda, tetaplah tinggal disini." Pinta Kenzo lagi.
"Kalau aku disini, aku akan terus bergantung padamu, Ken. Cheryl akan terus menganggapmu sebagai ayahnya dan aku tidak mau." teriak Amanda. Beruntung Cheryl tidur di kamar lain sehingga tidak mendengar perdebatan antara Kenzo dan Amanda.
"Kenapa? Kenapa kau tidak membiarkan Cheryl menganggapku sebagai ayahnya?" Tanya Kenzo frustasi.
"Karena kau bukan ayahnya. Dan hatiku selalu sakit setiap Cheryl memanggilmu Papa, karena panggilan itu membuat Cheryl berharap kau adalah Papa nya sementara diluaran sana, entah di bagian negara mana, Ayah kandung Cheryl tidak bertanggung jawab bahkan pria breng*sek itu tidak mengetahui sama sekali keberadaan Cheryl, kau mengerti itu, Ken?" Amanda meluapkan sesak di hatinya, sesak yang membuat jantung Kenzo seperti di hujam benda tajam.
Amanda menangis menutup wajahnya dengan kedua tangannya, sementara Kenzo membeku mendengar semua isi hati Amanda.
"Jauhi kami, Ken. Kami bukan tanggung jawabmu. Biarkan kami seperti dulu, terbiasa tanpamu." Kata Amanda di sela sela isakan tangisnya.
Kenzo berlutut di hadapan Amanda, ia terlalu pengecut untuk mengakui perbuatan bej*atnya dulu. Kenzo hanya diam dan ikut mengeluarkan air matanya. Luka yang diterima Amanda sangatlah dalam dan semua itu ulah Kenzo.
"Baiklah kalau itu maumu." Kata Kenzo pada akhirnya kemudian berdiri kembali.
Amanda membuka wajahnya dan menunduk tidak berani menatap Kenzo. "Tetaplah tinggal disini, aku janji tidak akan mengganggumu dan Cheryl lagi. Jangan tinggalkan apartement ini apapun yang terjadi." Pinta Kenzo dengan sungguh sungguh.
Kenzo membalikan tubuhnya dan melangkah keluar.
"Ken.." Panggil Amanda dan Kenzo menahan langkahnya tanpa melihat ke arah Amanda. "Terimakasih." Ucap Amanda dengan pelan.
Kenzo kembali melangkah, ia menuju kamar yang ditiduri oleh Cheryl, Kenzo menggenggam tangan mungil Cheryl dan menciuminya. "Maafkan Papa, Papa tetap akan mengawasimu dari jauh. Hiduplah dengan baik, maafkan jika Papa terlalu pengecut untuk mengakuimu sebagai putri kandung Papa." Kata Kenzo berbisik dan mencium kening Cheryl dengan penuh cinta.
Amanda masih di dalam kamarnya dan tidak mampu melihat perpisahan itu. Amanda tidak ingin jatuh terlalu dalam oleh kebaikan Kenzo. Amanda juga tidak ingin Cheryl terus terusan bergantung bahkan sampai terus terusan menganggap Kenzo adalah ayahnya. Amanda hanya ingin memulihkan keadaan untuk terbiasa kembali berdua tanpa adanya Kenzo. Amanda ingin jika Cheryl besar nanti bisa mengerti dan mau menerima jika dirinya memang terlahir tanpa sosok ayah. Amanda yakin jika Cheryl bisa setegar dirinya, mampu menerima kenyataan yang terlahir tanpa tau siapa Ayahnya.
"Maafkan Mama, Cheryl... Maafkan Mama." Lirih Amanda.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Konflik dulu dikitmah ya..
__ADS_1
Udah di kasih dobel Up pdhl aku lg gak semangat karna dr kmrn yg komentar dikit bgt 😁😁