
"Papa, aku haus." Ucap Cheryl membuat seluruh mata memandang ke arah Cheryl yang berwajah polos tapintidak dengan Kenzo yang seolah tersenyum penuh kemenangan.
"Cheryl..." Panggil Amanda dengan pelan.
"Tidak apa, Honey." Kata Kenzo pada Amanda.
"Papa?" Tanya Willy untuk meyakinkan jika yang di dengarnya memang tidak salah.
Kenzo melihat ke arah Willy. "Ya, dia putriku dan ini istriku. Kami sudah menikah lima tahun yang lalu, hanya saja pernikahan kami tidak di publikasi karna saat itu istriku masih mengejar pendidikan kedokterannya di luar negri." Jawab Kenzo membuat Amanda sedikit terkejut.
Wajah Willy pucat pasi setelah mendengar perkataan Kenzo. Dirinya malu karena ingin mengenalkan putrinya pada Kenzo dan bermimpi ingin berbesan dengan keluarga Wiguna.
"Maaf Tuan Willy, jika tidak ada urusan bisnis yang harus dibicarakan, kami undur diri karena putriku ingin ke taman bermain." Kenzo berdiri dengan masih tetap menggendong Cheryl dan tangan satunya menggandeng tangan Amanda, meninggalkan Willy dan Riana yang terlihat malu hingga tidak bisa berkutik.
"Pa, ternyata Kenzo sudah menikah." Lirih Riana.
"Papa tidak tau hal itu, pernikahan itu tidak tercium oleh media." Balas Willy.
"Aku malu, Pa.."
"Papa lebih malu, Ri. Mau di taruh dimana muka Papa jika nanti bertemu dengan Tuan Kenzo ataupun Tuan Kaisar."
Sementara itu, Kenzo membawa Cheryl dan Amanda ke restoran lain. Restoran yang terdapat playgorund dan Cheryl sangat menyukainya.
"Cheryl aktif sekali." Kata Kenzo saat memperhatikan Cheryl yang asik bermain. Bahkan Cheryl terhitung supel karna hanya dalam hitungan menit, ia bisa mempunyai teman baru di lingkungannya.
"Ken.. Jangan membiasakan Cheryl untuk memanggilmu dengan sebutan Papa." Kata Amanda tiba tiba.
"Aku tidak masalah dengan hal itu, Amanda."
"Tapi aku yang masalah. Aku tidak ingin Cheryl bergantung padamu. Meski bagaimanapun kita baru mengenal."
Kenzo diam dan bibirnya terasa kelu. Ia masih belum bisa mengakui perbuatan bedjatnya pada Amanda dulu, meski hasil test DNA belum keluar, namun Kenzo merasa yakin jika Cheryl memang putrinya, sebuah maha karya yang akhir akhir ini ia banggakan.
"Bagaimana jika kita menikah saja?" Tanya Kenzo.
Amanda mengernyitkan dahinya. "Hei jangan bercanda sejauh ini, Ken."
"Aku serius. Aku benar benar menyayangi Cheryl. Cheryl seperti mempunyai magnet yang bisa membuat fokusku hanya tertuju pada dirinya. Aku mengkhawatirkannya, aku juga memikirkan masa depannya, aku ingin menjadi Papanya." Kata Kenzo dengan begitu serius.
Amanda menggelengkan kepalanya. "Kita baru mengenal kemarin, Ken. Menikah tidak sesederhana itu."
__ADS_1
Kenzo terdiam. Ia merutuki sikapnya yang terlalu terburu buru tanpa memikirkan perasaan Amanda. Kenzo juga harus menyiapkan mental untuk memberi tahu kedua orang tuanya tentang kejadian lima tahun lalu hingga kini mempunyai anak berusia empat tahun.
"Jangan larang aku dekat dengan Cheryl." Pinta Kenzo. "Jangan batasi Cheryl juga untuk dekat denganku. Biarkan Cheryl memanggilku Papa karena aku juga menyukai panggilan itu."
"Ini berat untukku, Ken. Sebelumnya kita hanya orang asing. Aku tidak ingin menjadikan Cheryl sebagai alasan untuk hal apapun."
Tiba tiba saja Kenzo menggenggam tangan Amanda, "Amanda, tolong percaya padaku. Aku tidak bermaksud menjadikan Cheryl sebagai alasan dalam hal apapun. Aku benar benar menyayangi Cheryl."
Amanda menarik tangan yang di genggam oleh Kenzo saat Cheryl datang dengan nafas terengah engah.
Kenzo segera memangku kembali Cheryl lalu mengambil tissue dan mengelap keringat di dahi Cheryl. Amanda mengalihkan wajahnya saat melihat pemandangan itu yang membuat dada nya bergemuruh. Begitu banyak pertanyaan di dalam benak Amanda, mengapa Kenzo bisa begitu perhatian pada Cheryl.
"Ayo makan dulu, Papa suapi ya." Kata Kenzo menyebut dirinya Papa dan ada perasaan tercubit di hati Kenzo sendiri.
Cheryl mengangguk dan menerima suapan Spaghetti dari Kenzo.
"Ini enak sekali, Pa."
"Cheryl suka?"
"Suka sekali, Pa." Jawabnya riang.
Kenzo melihat ke arah Amanda yang mengalihkan pandangannya. Kenzo sangat tau jika Amanda belum terbiasa dan merasa risih dengan hal itu.
"Besok Rabu, dan setiap hari rabu, aku tidak ada jadwal praktik."
Kenzo menganggukan kepalanya. "Besok aku akan mengajakmu ke satu tempat. Bersiaplah."
"Mau kemana?"
"Besok akan ku beri tahu." Kata Kenzo dan Amanda hanya diam saja.
Kenzo mengantar Amanda dan Cheryl hingga ke apartemen, "Cheryl tertidur." Kata Kenzo lalu tersenyum melihat Cheryl yang tertidur di pangkuan Amanda.
"Biar aku gendong Cheryl."
"Tidak usah, Ken." Tolak Amanda.
"Bawaanmu sudah banyak, biar aku membantumu menggendong Cheryl." Kata Kenzo lalu memarkirkan mobilnya dan segera turun untuk mengambil alih Cheryl, Amanda pun hanya bisa pasrah mengikutinya.
"Di lantai berapa unitmu?"
__ADS_1
"Lantai 7."
Mereka naik lift hingga tiba di unit apartement yang Amanda sewa.
Kenzo menidurkan Cheryl di tempat tidur lalu mengecup keningnya sekilas dan meninggalkannya. Tentu saja hal itu terlihat oleh Amanda.
Kenzo mengedarkan pandangannya mengamati isi apartement Amanda yang cukup rapih dan minimalis.
"Mau minum?" Tanya Amanda berbasa basi.
"Boleh jika tidak merepotkan." Balas Kenzo.
Amanda membuatkan secangkir teh hangat karna dirinya tidak pernah membeli kopi untuk stock.
"Terimakasih." Balas Kenzo saat secangkir teh berada di hadapannya.
"Boleh aku tau siapa nama lengkap Cheryl?" Tanya Kenzo mencoba membahas Cheryl.
"Hanya Cheryl saja."
Kenzo terdiam dan slalu berusaha hati hati jika ingin membahas sesuatu pada Amanda.
"Dimana ayah Cheryl?" Tanya Kenzo dengan lebih berhati hati.
Amanda terdiam, ia bingung harus menjawab apa. Namun setelah Amanda memikirkannya, Amanda memilih untuk menceritakannya dengan tujuan agar Kenzo mundur setelah mengetahui apa yang terjadi pada Amanda di masa lalu, sama seperti orang lain yang sudah memandangnya hina.
"Aku tidak tau." Jawab Amanda pada akhirnya.
Kenzo diam dan berharap jika Amanda mau bercerita lebih dengannya agar Kenzo semakin yakin dengan apa yang ia duga selama ini.
"Aku anak yatim piatu yang mendapatkan beasiswa untuk berkuliah di luar negri dan mengambil jurusan kedokteran. Saat itu aku tengah merayakan pesta kelulusan kami di sebuah club, namun ada seseorang yang megerjaiku dan memasukan obat pera*ngsang di minumanku. Entah bagaimana ceritanya aku dibawa ke dalam kamar, aku merasa tubuhku panas dan aku membuka pakaianku sendiri hingga aku tidak menyadari jika ada seorang pria yang masuk ke dalam kamarku dan saat itu penglihatanku kabur lalu aku tak sadarkan diri."
Jantung Kenzo berdegup dengan kencang, cerita Amanda sama percis dengan kejadian lima tahun yang lalu.
"Saat aku bangun, aku melihat tubuhku yang tidak memakai apapun dan hanya selimut tebal yang menutupi tubuhku. Tubuhku terasa sakit dan aku melihat noda merah di seprai itu. Aku yang saat itu akan kembali ke tanah air segera berpakaian dan meninggalkan club itu untuk menuju bandara karena penerbanganku akan segera berangkat."
Kenzo masih dengan serius mendengarkan cerita Amanda.
"Hingga satu bulan berlalu, aku merasa tubuhku ada yang berubah, dan ternyata ketakutanku selama ini terbukti, aku mengandung Cheryl dan tidak tau siapa pria yang memberikan benihnya padaku malam itu. Semua orang menatapku sinis, menganggapku wanita rendahan karena mereka mengira aku tidur dengan pria mana saja sampai aku tidak tau siapa ayah Cheryl." Amanda mengusap pipinya yag basah oleh air matanya.
"Kau beri nama dia Cheryl?" Tanya Kenzo.
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Hari ini 1 bab dulu ya, aku mau ke percetakan cari yasin untuk 40 harian ibuku nanti. Tapi tenang aja, sebisa mungkin aku akan terus Up setiap hari 🤗