
Setelah istirahat beberapa hari, Kesehatan Keysha semakin membaik. Keysha pun memutuskan untuk kembali bekerja, sementara itu Sakha akan pulang ke penthouse dan mengerjakan pekerjaannya dari sana, sebab tidak mungkin Sakha kembali ke perusahaan mengingat Toni memberikan alasan pada Vivian jika Sakha tengah bertolak ke Paris untuk mengurus bisnisnya langsung.
Sakha mengantar Keysha menggunakan mobil keluarga Wiguna agar tidak di curigai oleh siapapun.
"Hindari Vivian, ya." Pinta Sakha sebelum Keysha turun dari mobil.
"Aku bisa menghadapi Vivian, Kha. Jangan khawatir begitu."
"Tetap saja aku khawatir karena aku tidak bisa memperhatikanmu secara langsung." Kata Sakha begitu perhatian, membuat Keysha begitu tersentuh.
Keysha mencium pipi Sakha membuat Sakha menoleh ke arah Keysha. Sementara itu Keysha tersenyum melihat wajah Sakha yang terlihat terkejut karena Keysha berani menciumnya duluan.
"Percaya padaku ya, Kha. Aku bukan wanita lemah yang hanya diam saja jika seseorang menggangguku. Aku pasti akan melawan jika seseorang berani mengusikku, itulah yang selalu Ken dan Kev ajarkan padaku. Dan istrimu ini mempunyai ilmu bela diri, setidaknya bisa melindungi dirinya sendiri." Kata Keysha mencoba menenangkan Sakha.
Sakha mengangguk. "Aku percaya, tapi sebisa mungkin hindari Vivian ya."
Keysha hanya bisa mengangguk, setidaknya akan membuat Sakha tenang meski jika nanti Vivian membuat ulah, pastilah akan Keysha lawan.
Sakha mencium kening Keysha lalu mengecup sekilas hidung dan bibirnya. "Aku akan merindukanmu seharian ini." Kata Sakha sambil mencium punggung tangan Keysha.
Keysha hanya tersenyum karena tidak tau harus menjawab apa. Tidak lama kemudian, Keysha turun dari mobil dan masuk ke dalam gedung perkantoran Kha-Fashion.
Sakha mengambil ponselnya dan menghubungi Toni.
"Jaga istriku baik baik, jika Vivian berulah, bertindaklah apapun untuk menjaga istriku." Titah Sakha yang di mengerti oleh Toni.
Keysha segera menuju meja kerjanya, rasanya ia rindu sekali bekerja mengeksplore dirinya di meja ini.
Hampir setiap jam, Sakha mengirimi Keysha pesan. Membuat Keysha tertawa karena Sakha sebegitu mengkhawatirkannya dan merindukan Keysha.
Rupanya Vivian memperhatikan tingkah laku Keysha yang terlihat seperti orang jatuh cinta. Dengan tanpa rasa malu, Vivian menghampiri meja Keysha.
"Nona muda Queen Wiguna sudah sembuh ya?" Tanya Vivian seolah menyindir.
Keysha menatap tajam Vivan karean Vivian membuka identitas dirinya, Keysha tidak ingin semua orang mendekatinya hanya karena Keysha berasal dari keluarga terhormat bahkan menduduki peringkat 10 besar orang terkaya di negaranya.
"Dengan kekuasaan keluargamu, kamu bisa ijin sampai lebih dari tiga hari, harusnya kamu sudah kena SP." Sindir Vivian lagi.
Keysha berdiri dari duduknya. "Kamu iri?" Keysha tertawa, "Kasihan sekali." cibirnya.
Vivian tersulut emosinya dan menggebrak meja Keysha. "Berani ya kamu!!"
__ADS_1
Keysha tersenyum sinis lalu bertolak pinggang, "Kenapa aku harus tidak berani sama cewek seperti kamu? Yang bisanya hanya mengganggu saja."
Vivian mendorong Keysha namun tangannya keburu di cekal oleh Toni. "Vivian apa yang kamu lakukan?"
"Lepas, Ton. Aku mau kasih pelajaran wanita ini." Vivian mencoba berontak.
"Wanita yang bagaimana maksudmu?" Tanya Keysha sinis.
"Wanita pembawa sial, karenamu Kak Zein mengalami kecelakaan, karenamu juga Sakha masuk rumah sakit karena Alergi."
Keysha menganggukan kepalanya sambil tersenyum. "Pergilah sebelum aku kehilangan kesabaranku, kau tau jika aku kesal apa yang bisa ku lakukan? Aku bahkan bisa mencabut rambutmu dengan akar akarnya lalu mematahkan lehermu."
Ucapan Keysha membuat Vivian bergidik lalu pergi dengan wajah kesalnya. Keysha duduk kembali sementara Toni tetap berada di depan meja Keysha.
"Pak Toni ngapain masih disini?" Tanya Keysha.
Toni menjadi salah tingkah, tidak mungkin memperlakukan Keysha seperti istri majikannya sementara pernikahan bosnya bersama Keysha belum di publikasi. Toni pun kembali ke ruangannya lalu memberi kabar pada Sakha.
Sakha yang mendengar laporan dari Toni hanya bisa menghela nafas lalu tersenyum, sepertinya Sakha harus mulai mempercayai Keysha meski Sakha takut Vivian berbuat lebih pada Keysha.
Sore hari, Sakha menjemput Keysha dan hanya menunggunya di parkiran, Keysha langsung masuk ke dalam mobil yang berkacakan gelap itu.
Sakha tersenyum kemudian melajukan mobilnya.
"Ayo, aku juga ingin lihat tempat tinggalku nanti." Jawab Keysha.
Tidak cukup lama, merekapun tiba di penthouse milik Sakha. Penthouse yang cukup besar itu terlihat mewah dan modern namun tetap memiliki konsep minimalis.
Keysha melangkahkan kakinya masuk ke dalam penthouse dan mengedarkan pandangannya. "Apartementmu rapih sekali."
"Karena aku suka kerapihan dan kebersihan, menurutku stres itu bermula dari tempat tinggal yang tidak rapih ataupun kotor." Jawab Sakha.
Keysha tersenyum, "Aku haus, aku ambil minum ya."
"Ambil saja, ini kan apartementmu juga, kamu nyonya di sini, Baby." Kata Sakha membuat Keysha tersenyum.
Keysha mengambil juice kemasan lalu menuangkannya ke dalam gelas, ia juga mengambil cake tiramisu dan duduk di kursi meja bar. Sakha pun menyusulnya dan duduk di hadapan Keysha.
"Lapar ya? Aku pesankan makanan ya." Kata Sakha.
"Tidak, aku hanya tergoda oleh cake tiramisu ini saja." Ucap Keysha dengan cuek dan mulai memakan cake nya. "Mau, Kha?"
__ADS_1
"Aku sudah makan tadi." Ucap Sakha kemudian mengambil minum Keysha dan meminumnya dari gelas yang sama. Keysha tak mempermasalahkannya karena menurutnya mereka adalah suami istri yang harus berbagi dalam hal apapun.
Mereka lanjut berbincang ringan dan hal ini menjadikan mereka semakin mengenal satu sama lain. Hal itu juga membuat Keysha dan Sakha merasa cukup senang dan nyaman.
"Baby, mau mandi disini? Aku sudah menyiapkan beberapa pakaian untukmu disini." Kata Sakha.
"Oh ya? Kenapa tidak bilang dari tadi, tubuhku sudah lengket sekali. Dimana kamarnya?"
Sakha menunjukan kamar pribadinya yang kini sudah menjadi kamar mereka berdua, Keysha pun mengikutinya tanpa ragu.
"Kamarmu simple sekali."
"Kamar kita, Baby."
Keysha mengangguk, "Ya, kamar kita."
"Ayo cepat mandi, agar tidak terlalu malam sampai kerumah orangtuamu." Kata Sakha.
"Aku malas pulang, bisakah jika kita menginap disini saja? Kantor juga dekat dari sini, membuatku bisa sedikit santai." Kata Keysha membuat Sakha sedikit terkejut namun bahagia.
"Benarkah kau mau tinggal disini bersamaku?"
Keysha mengangguk, "Nanti aku akan menelpon Papa. Dan kita juga bisa berangkat ke kantor masing masing, aku akan menelpon supirku untuk menjemputku kemari setiap hari agar tidak ada yang curiga, bagaimana?"
Sakha terdiam, sebenarnya ia tidak ingin merahasiakan pernikahannya bersama Keysha, namun semua ini terpaksa mereka lakukan sampai kasus kecelakaan Zein dapat terungkap.
"Kha..." Panggil Keysha karena Sakha hanya diam saja.
Sakha menatap wajah Keysha dengan tatapan sendu. "Maafkan aku." Ucap Sakha dengan lirih.
"Kha.. Aku tidak apa apa." Jawab Keysha sedikit menenangkan. "Kita hadapi bersama, aku pun ingin kasus kecelakaan Kak Zein terungkap dan kita akan menjalani kehidupan keluarga ini bersama sama."
Sakha merasa begitu terharu, ia tidak menyangka jika Keysha slalu mendukungnya dalam hal apapun.
Sakha mendekatkan wajahnya ke wajah Keysha membuat Keysha memejamkan kedua matanya. Sakha mencium bibir Keysha dan Keysha menggantungkan kedua tangannya di leher Sakha. Mereka berciuman dengan sangat dalam dan Keysha pun membalas juga menikmati ciuman itu hingga Sakha melepaskan pagutannya.
"Bolehkah, Key?" Tanya Sakha ambigu.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Spill jangan Unboxing nya??
__ADS_1
Komentar nya gak Rame, gak di spill ya 😄
Kalo lama Up nya berarti review nya lama dari NT nya ya. Mohon sabar semoga unboxingnya lulus review.