
Kenzo melihat jam di pergelangan tangannya. Ia sudah cukup terlambat dan terpaksa membatalkan janjinya. Cheryl sama sekali tidak mau di tinggal terlebih mereka kini berada di kantor polisi sambil menunggu kedatangan Amanda yang sudah di hubungi oleh pihak kepolisian.
Cheryl terus saja menempel pada Kenzo seolah tidak ingin lepas. Kenzo pun menangkap jika ada orang lain yang merencanakan hal penculikan ini.
"Apa Uncle akan pelgi?" Tanya Cheryl dengan suara cadel khas anak empat tahun.
"Tidak, Uncle akan menunggu Mamamu hingga tiba disini."
"Mamaku seolang doktel, pasti Mama sedang sibuk dan aku mengganggu pekeljaan Mama."
"Mamamu dokter?" Tanya Kevin dan Cheryl mengangguk. "Di rumah sakit mana?"
"Di lumah sakit doktel gelal." Jawab Cheryl. (RS. Dokter Gerald).
Kenzo hanya mengangguk, rumah sakit dokter gerald adalah milik dokter Vino Graldyn yang proyek renovasinya akan Kenzo pegang nanti.
"Cheryl..." Panggil seorang wanita dengan wajah paniknya.
"Mamaaa." Cheryl turun dari pangkuan Kenzo dan berlari ke arah Amanda.
Amanda menggendong Cheryl dan memeluknya. "Kamu tidak apa apa?"
Cheryl menggelengkan kepalanya, "Uncle itu yang menolongku, Ma."
Amanda melihat ke arah Kenzo dan seketika membuat Kenzo membeku.
"Wajah itu." Batin Kenzo.
Amanda mendekat ke arah Kenzo. "Terimakasih, Tuan."
Kenzo masih mematung, ia sangat mengingat wajah wanita yang berada percis di depannya, wanita lima tahun lalu yang tidak sengaja ia tiduri karena sempat mengira jika wanita dalam keadaan mabuk itu adalah seorang wanita bayaran dan ternyata Kenzo salah setelah mengetahui jika dirinyalah yang merenggut mahkota kesucian wanita itu yang pertama.
Kenzo meninggalkan wanita itu begitu saja untuk mencari tau info soal wanita itu, dan benar saja ternyata Kenzo yang salah memasuki kamar. Kenzo yang merasa bersalahpun ingin bertanggung jawab meski tidak tau dengan cara apa, ia kembali ke kamar namun sayang Kenzo tidak mendapati wanita itu karena sudah pergi tanpa meninggalkan jejak. Kenzo hanya mendapatkan noda bercak merah sebagai tanda jika benar dirinyalah yang merenggut kesucian wanita itu.
"Tuan..." Panggil Amanda.
Kenzo terkesiap dan kembali pada kesadarannya. "Ah ya."
"Terimakasih, Tuan." Ucap Amanda dengan senyum manisnya.
Kenzo hanya mengangguk. Kemudian mereka di panggil oleh pihak kepolisian untuk memberikan keterangan, terungkap sudah jika sang pengasuh adalah otak dari penculikan Cheryl dan salah satu preman itu adalah suaminya. Mereka membuat skenario penculikan Cheryl seolah olah mereka di todong dan Cheryl di culik saat akan bersekolah, Beruntung Cheryl adalah anak yang cerdas sehingga bisa lari dari penculik itu dan terselamatkan oleh Kenzo.
Amanda benar benar berterimakasih pada Kenzo dan hal itu di jadikan oleh Kenzo sebuah kesempatan untuk menyelidiki jika mungkin saja Cheryl adalah anak dari hasil kejadian malam itu. Kenzo meyakini jika Amanda wanita yang pernah tak sengaja ia tiduri itu.
Mereka keluar dari kantor polisi, Cheryl yang kembali di gendong oleh Kenzo seolah enggan turun dari gendongannya.
__ADS_1
"Ayo, Cheryl. Kita pulang." Ajak Amanda.
Chery seakan berat turun dari gendongan Kenzo.
"Kau mau eskrim, Princess?" Tanya Kenzo membuat Cheryl berbinar.
Cheryl mengangguk cepat kemudian melihat ke arah Amanda.
"Boleh ya, Ma."
"Uncle Ken mau kerja, Sayang. Kita tidak boleh mengganggu waktunya." Bujuk Amanda.
"Tidak apa apa, ini juga sudah waktunya makan siang." Kata Kenzo. "Aku ingin mentraktir Cheryl eskrim."
Amanda akhirnya mengangguk. Mereka naik
Ke dalam mobil Suv Kenzo karena Kenzo sangat menyukai mobil mobil yang menurutnya cocok untuk kepribadiannya.
"Mobilnya besal." Ucap Cheryl.
Kenzo tersenyum melihat kepolosan Cheryl dan hal itu terlihat oleh Amanda, entah mengapa Amanda merasa senyum Kenzo begitu mirip dengan senyum Cheryl.
Kenzo membawa Amanda juga Cheryl ke sebuah cafe bernuansakan keluarga. Cheryl memesan banana split sementara Kenzo dan Amanda memesan makanan lainnya.
"Kata Chery kamu seorang dokter, dokter apa?" Tanyanya ingin tau.
"Di rumah sakit dokter Vino?"
"Kamu mengenal dokter Vino?" Tanya Amanda.
Kenzo mengangguk, "Aku yang memegang proyek renovasi dan perluasan rumah sakit dokter Vino."
"Benarkah?" Tanya Amanda yang di angguki oleh Kenzo.
Mereka larut dalam obrolan ringan, hingga Kenzo menanyakan soal Cheryl. "Pengasuh Cheryl sudah di tangkap, lalu nanti Cheryl bagaimana?"
Amanda melihat sendu ke arah Cheryl yang sedang asik memakan eskrimnya. "Mungkin untuk sementara, Cheryl tidak bersekolah dulu dan ikut denganku ke rumah sakit."
"Apa kau tidak punya keluarga?"
Amanda menggelengkan kepalanya. "Aku yatim piatu, berasal dari panti asuhan dan tidak memiliki siapapun."
"Bagaimana dengan ayahnya Cheryl? Pasti ada keluarganya kan?" Tanya Kenzo seolah ingin tau.
Amanda terdiam, sudah lama ia memendam hal ini dan tidak menceritakannya pada siapapun.
__ADS_1
"Kau tidak perlu bercerita jika tidak ingin menceritakannya." Kata Kenzo tak memaksa meski dirinya sangat ingin tau.
"Maaf, kita baru mengenal dan aku belum bisa percaya padamu meski kau yang sudah menyelamatkan Cheryl."
"Its oke, no problem." Balas Kenzo.
"Dimana kalian tinggal?" Tanya Kenzo.
"Apartemen XX."
"Kalian tinggal di apartement?" Tanya Kenzo meyakinkan.
Amanda mengangguk. "Aku yang seorang introvert lebih nyaman tinggal di apartement dari pada di perumahan, aku kurang suka bertetangga karena satu hal."
Kenzo menaikan satu halisnya mencoba menanyakan maksud apa yang di katakan oleh Amanda.
"Aku pernah menyewa sebuah rumah di perumahan, namun mereka mencibirku hanya karna Cheryl tidak memiliki ayah dan tidak ada nama ayah Cheryl di kartu keluarga kami. Itulah mengapa aku lebih suka di apartement yang notaben nya lebih privasi dan tidak ikut campur urusan sesama penghuninya."
Kenzo tidak bertanya lebih, ia akan perlahan membuka rahasia ini, namun Kenzo yakin jika Amanda adalah wanita yang pernah ia tiduri dan Cheryl adalah hasil maha karyanya malam itu.
"Sebentar, aku permisi ke toilet dulu." Ucap Amanda.
Kevin mengangguk, "Aku akan menunggu disini bersama Cheryl."
Kesempatan itu pun di manfaatkan oleh Kenzo. "Cheryl, ada semut di rambutmu. Sini biar Uncle ambil." Kata Kenzo dan Kenzo mencabut beberapa helai rambut Cheryl.
"Aw..." Pekik Cheryl.
"Maafkan Uncle, Cheryl. Uncle mengambil semut dan rambutmu ikut terbawa."
"Tidak apa, Uncle." Jawab Cheryl yang merasa tidak masalah dengan hal itu.
Kenzo meraih tissue dan menyimpan helaian rambut Cheryl di dalam tisue itu lalu memasukannya ke dalam sakunya.
"Ryl, bokeh Uncle bertanya?" Tanya Kenzo dan Cheryl mengangguk. "Tapi janji jangan bilang pada Mama ya." Ucapnya lagi dan Cheryl pun mengangguk lagi. "Dimana Papamu?" Tanya Kenzo ingin tau.
"Aku tidak memiliki Papa."
"Kenapa?" Tanya Kenzo lagi.
Cheryl menggelengkan kepalanya. "Mama hanya bilang aku tidak memiliki Papa." Jawabnya. "Kenapa Uncle beltanya hal itu? Apa Uncle mau menjadi Papaku?" Tanya Cheryl yang seketika membuat Kenzo tersedak.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Maaf ya Aku masih jarang Up karena masih di luar kota dan sibuk menyiapkan tahlil Almarhumah ibuku sampai hari ke 7 nya nanti.
__ADS_1
InsyaAllah senin besok aku sudah kembali ke kotaku dan mulai aktif menulis lagi dan meneruskan novel ini lagi.
Terimakasih untuk semua dukungan dari teman teman Readers semua 🙏🥲