
Makan malam di keluarga Wiguna begitu hangat, Kenzo sudah bisa makan nasi seperti biasa dan hal itu menarik perhatian yang lain.
"Kau sudah bisa makan nasi, Ken?" Tanya Keysha.
Kenzo hanya mengangguk.
"Kau berobat ke dokter mana hingga bisa sambuh?" Tanya Keysha lagi.
"Dokter Amanda." Jawabnya dengan tersnyum.
"Haishh, kau bucin sekali, Ken. Malulah pada Cheryl." Balas Keysha.
"Kau juga nanti akan bucin jika sudah menemukan pria yang tepat, Key." Sahut Kevin membela Kenzo.
"Thankyou brother." Kata Kenzo pada Kevin sambil melemparkan sebuah jeruk dan Kevin menangkapnya.
"Sedari kecil, kalian slalu saja membullyku." Kesal Keysha.
"Sudah Kev, Ken. Apa kalian tidak malu pada istri istri kalian?" Sahut Kaisar bagai membela putri kesayangannya itu.
"Key, selanjutnya kau yang harus cepat menikah, jangan sampai kau mengganggu jika nanti kita semua liburan akhir tahun." Ucap Kevin.
"Jodohkan saja dia, Kev." Kata Kenzo.
"Pemilik Kha-Fashion terlihat menyukainya, Key saja yang sulit membuka hati." Kata Kevin lagi membuat Kaisar tertarik.
"Kha-Fashion yang waktu makan malam bersama kita, CEO tempat Key bekerja?" Tanya Kaisar.
Kevin mengangguk, "Iya Pa."
"Kenapa Key? Apa yang kurang dari Sakha Abimana? Papa saja menyukai karakternya, akhir akhir ini berita banyak memberitakannya tentang Sakha Abimana yang menolak warisan kekuarga Abimana dan memilih mengembangkan usahanya sendiri. Papa benar benar salut masih ada anak muda yang tidak tergila gila dengan harta warisan." Kata Kaisar panjang lebar.
"Apa karena Sakha adik dari mendiang Zein, Key?" Kali ini Audrey yang bertanya.
Keysha bagai di introgasi, "Key hanya belum memikirkannya, Pa. Key masih ingin mengeksplore diri di pekerjaan Key."
"Tapi setauku, Sakha begitu menyukaimu, Key." Kata Kevin.
__ADS_1
"Pa, apa Papa dan Mama mempersalahkan asal usul Sakha karena merupakan anak haram keluarga Abimana?" Tanya Kevin pada kedua orang tuanya.
"Tentu saja tidak, manusia tidak boleh melihat manusia dari masa lalunya, yang terpenting adalah saat ini kehidupannya menjadi orang yang baik." Kata Audrey dengan bijak dan Kaisar mengangguki.
"Benar apa kata Mama." Kaisar mendukung ucapan sang istri.
"Key, lihatlah lampu hijau dari Papa dan Mama sudah ada. Bukalah hatimu, atau kau ingin aku mengenalkanmu pria lain? Tapi yang aku lihat tidak ada yang lebih baik dari Sakha." Kevin mencoba membuka pikiran Keysha.
"Kev, urusan hati tidak sesederhana itu. Berhenti berbicara tentang jodohku atau besok aku tidak mau lagi makan malam bersama." Keysha mencebik.
Kaisar memberi isyarat pada Kevin dan yang lainnya untuk tidak meneruskan pembahasan ini dan semuapun mengerti.
Keesokan harinya Keysha bekerja dan kembali bertemu dengan Rama yang ternyata sudah di terima bekerja sebagai administrasi di bagian gudang.
"Mba.." Panggil Rama dan Keysha menghentikan langkahnya.
"Iya Mas?"
"Makasih ya Mba, kayanya Mba bawa hoki untuk saya, buktinya karena saya terima orderan Mba, saya bisa dapat pekerjaan disini." Kata Rama.
"Mari Mas, saya ke atas dulu." Kata Keysha berpamitan.
Rama melihat kepergian Keysha dan tersenyum. "Wanita yang baik. Seperti Ayesha." Gumam Rama.
Rama memang dinterima bekerja di Kha-Fashion sebagai staf administrasi gudang. Dengan gaji yang lumayan, Rama mengambil pekerjaan itu, seperti di tempat bekerjanya dulu, Rama akan memulai dari bawah hingga memiliki jabatan tinggi sebagai manajer.
Rama pun tidak mengatakan pada Ratna jika sudah bekerja di kantor kembali, biarlah Ratna menganggap Rama masih menjalani profesi sebagai ojeg online agar Ratna tidak banyak menuntut.
Hingga hari ini Sakha masih belum masuk kerja, Keysha pun tak melihat keberadaan Vivian dan timbul rasa tidak nyaman saat memikirkan Vivian yang bersama Sakha.
Keysha juga tidak fokus pada pekerjaannya. Bahkan Keysha sampai di tegur oleh pimpinannya karena tidak fokus saat meeting bersama tim nya untuk memikirkan konsep bulan depan.
Jam istirahat, Keysha memilih minum kopi di cafetaria kantor. Cafetaria itu diadakan oleh Sakha agar karyawannya bisa nyaman saat sekedar ingin minum kopi tanpa jauh jauh harus keluar dari kantor. Bahkan cafetaria itu juga menjual berbagai menu dengan harga yang cukup terjangkau layaknya untuk harga anak kost, dan semua ini karena Sakha memikirkan karyawannya agar bisa menghemat uangnya untuk sekedar makan atau membeli cemilan dan minuman.
"Boleh duduk sini, Mbak?" Tanya Rama yang juga sedang beristirahat.
Keysha mengedarkan pemandangannya dan melihat seluruh meja yang sudah terisi penuh. Mau tak mau, Keysha mengijinkan Rama untuk duduk bersamanya.
__ADS_1
"Silahkan, Mas." Kata Keysha.
Rama duduk dihadapan Keysha dan meletakan piring di depannya. Keysha melihat Rama yang hanya makan dengam nasi, sayur dan gorengan.
"Mbak gak makan?" Tanya Rama.
"Masih kenyang, lagi mau ngopi aja." Jawab Keysha. "Mas jangan panggil saya Mba, kayanya umur saya sama Mas nya masih tua an Mas nya deh." Ucap Keysha yang merasa risih karena Rama memanggilnya Mbak setiap kali bertemu.
"Panggil saya Key aja." Kata Keysha lagi dan Rama pun tersenyum.
"Iya Mbak, eh maaf maksud saya Key." Ucap Rama dengan grogi.
Mereka berbincang santai hingga tak terasa waktu istirahat habis, Keysha berpamitan duluan dan meninggalkan Rama yang masih duduk menghabiskan minumannya.
Rama menghela nafas, "Ayo semangat, Ram. Kamu harus rajin agar bisa memulihkan kondisi keuanganmu seperti dulu lagi." Gumam Rama menyemangati dirinya sendiri.
Keysha kembali ke mejanya dan melihat ponselnya. Ingin rasanya ia mengirimi Sakha pesan sekedar untuk menanyakan keadaannya. Namun entah mengapa seperti ada yang menghalanginya. Rasanya berat sekali untuk mengirim pesan pada Sakha.
Sore hari, Keysha mendatangi area pemakanan, kali ini ia diantar oleh supir karena tidak ingin kejadian tempo hari terjadi padanya.
Namun di makam Zein. Keysha melihat Sakha yang berjongkok membersihkan makam Zein dengan mencabuti rumput yang sedikit sudah meninggi. Tanpa ragu, Keysha berjalan cepat mendekat ke arah Sakha.
"Kha..." Panggil Keysha dan Sakha mendongakan wajahnya melihat ke arah Keysha lalu berdiri.
"Kamu udah sehat, Kha?" Tanya Keysha. "Maaf..."
"Tidak apa, Key." Jawab Sakha dengan cepat. "Aku baik baik saja." Sakha melihat ke arah wajah Keysha yang terlihat bersalah. "Aku duluan, ya. Kamu jangan lama lama disini. Ini sudah sore dan sepi." Ucap Sakha lalu melangkah melewati Keysha.
Entah mengapa ada perasaan tercubit di hati Keysha, Sakha seolah enggan berlama lama dengannya. Mungkinkah Sakha marah, atau menghindari Keysha karena tidak ingin celaka seperti Zein jika berdekatan dengan Keysha. Apakah mungkin jika kini Sakha menganggap Keysha adalah pembawa sial sama seperti apa yang sering Vivian lontarkan pada Keysha? Entahlah, Keysha pun tidak menahan Sakha saat Sakha meninggalkannya sendirian di area pemakaman.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Konflik aku mah gak berat berat, asal readers bahagia 🤩
Setuju??
Lunas ya crazy up yang tertundanya..
__ADS_1