
Amanda masuk ke dalam walk in closet, dilihatnya ada banyak baju, tas dan sepatu wanita. Sudah di pastikan jika semua itu pastilah mertuanya yang mempersiapkannya. Amanda juga melihat di sisi lemari yang lain ada perlengkapan dari pakaian hingga assesoris untuk Cheryl.
"Mereka benar benar baik padaku dan Cheryl." Gumam Amanda.
Kenzo menyusul Amanda yang tak kunjung keluar dari walk in closet. Kenzo tau jika Amanda tengah terkejut melihat semua isi walk in closet.
"Mama, Key dan Ayesha yang menyiapkannya untukmu dan juga Cheryl." Sahut Kenzo membuat Amanda sedikit terkejut dan kembali dari lamunannya.
"Ini berlebihan, Ken. Aku tidak enak." Jawab Amanda.
Ingin rasanya Kenzo memeluk Amanda dari belakang dan memberitahu banyak hal, namun hal itu tertahan karena Kenzo takut Amanda merasa tidak nyaman.
"Ini tidak berlebihan, Amanda. Ini juga tidak sebanding dengan pengorbananmu melahirkan dan membesarkan keturunan dari King Wiguna. Dan ini juga tidak sebanding dengan kesalahan yang sudah aku perbuat padamu." Jelas Kenzo.
Amanda mengangguk, lalu ia duduk di sofa kecil yang berada di walk in closet dan Kenzo juga menarik kursi lainnya untum duduk dekat dengan Amanda.
"Aku tidak pernah keberatan mengandung Cheryl dan melahirkannya ke dunia." Kata Amanda dengan tatapan lurus ke depan. "Saat aku tau aku hamil, aku merasa, Cheryl adalah hadiah dari Tuhan yang Tuhan kirimkan untuk menemaniku yang hanya sebatang kara di dunia ini." Amanda tersenyum kala mengingat hal dulu.
Kenzo begitu terharu mendengar apa yang dikatakan oleh Amanda, Kenzo yakin jika Amanda mempunyai hati yang tulus. Ingin rasanya Kenzo memeluk Amanda dan mengucapkan beribu terimakasih karna tak sedikitpun memikirkan untuk melenyapkan Cheryl saat itu.
"Terimakasih, Amanda." Ucap Kenzo pada akhirnya.
Amanda menatap wajah Kenzo yang sedari tadi terus menatapnya. Kemudian Amanda tersenyum dan membuat Kenzo semakin terkesima.
"Aku besok harus kembali bekerja di rumah sakit." Kata Amanda memberitahu.
Kenzo mengangguk tanda mengetahuinya. "Aku juga besok harus kembali bekerja. Jangan pikirkan Cheryl, dirumah ini banyak yang menjaga Cheryl dan memberikannya kasih sayang, ada Mama, Key dan Ayesha."
"Aku tau." Balas Amanda. "Aku bisa tenang bekerja jika Cheryl berada di sini."
"Jam berapa praktikmu selesai?"
"Biasanya jam 3 sore aku sudah selesai di poli gigi anak."
"Supir akan menjemputmu, jika aku bisa selesai lebih cepat, aku yang akan menjemputmu, dan jangan membantah karena aku ini suamimu." Kata Kenzo.
Amanda tertawa saat mendengar Kenzo mengatakan jika dirinya adalah suaminya, membuat Kenzo seketika menarik sudut bibirnya dan tersneyum.
"Kamu cantik kalau tertawa. Aku rasa Cheryl menuruni kecantikanmu."
__ADS_1
Amanda semakin tertawa, "Aku baru tau jika Papanya Cheryl ternyata bisa segombal ini." Cibir Amanda.
"Dan kau harus biasa mendengar kegombalanku setiap hari." Kenzo pun tertawa karena Amanda tertawa.
Mereka larut dalam obrolan ringan, Kenzo akan selalu mendekatkan diri dengan Amanda karena hanya dengan cara ini, benih benih cinta akan tumbuh di hati Amanda untuk Kenzo.
**
Ayesha mendatangi kantor Kevin karena ingin makan siang bersama, Ayesha memberikan senyumnya pada karyawan di Kings Corp, perusahaan milik suaminya itu.
"Nyonya Ayesha." Sapa resepsionist.
Ayesha tersenyum menjawabnya. "Suamiku ada di atas?" Tanyanya dengan ramah.
"Tuan Kevin ada di atas, sedang menerima tamu calon investornya."
"Baik, aku ke atas ya."
"Iya Nyonya."
Ayesha pergi meninggalkan resepsionist dan menaiki lift khsus petinggi perusahaan. Di dalam lift Ayesha sedikit merasa pusing namun Ayesha menahannya karena ia pikir hal itu wajar mengingat Ayesha melewatkan sarapan paginya.
"Ishh, Mbak Lina, jangan panggil aku Nyonya, kita dulu juga sama sama kerja disini." Ayesha tertawa.
"Tapi kan sekarang Nyonya adalah istri Tuan Kevin."
"Tapi kita tetap teman, Mbak." Balas Ayesha. "Ya sudah jika tidak ada bos mu, kita ini teman." Kata Ayesha pada akhirnya.
Lina hanya mengangguk dan tidak menyangka jika Ayesha tetap rendah hati meski ternyata Ayesha bukan anak sembarang orang dan kini sudah menjadi istri dari keturunan King Wiguna.
Ayesha melangkahkan kakinya ke ruangan Kevin dan membuka pintunya, dilihatnya Kevin yang tengah dekat bersama wanita dengan posisi beradu pipi kanan dan kiri bergantian.
"Sayang...." Kevin terkejut saat melihat Ayesha masuk dan seakan memergoki nya sedang bersama wanita lain.
Lina pun baru menyadari jika bos nya sedang menerima tamu wanita dan lupa untuk menahan Ayesha dengan mengalihkannya mengajak Ayesha berbicara.
"Ah, maaf aku ganggu." Kata Ayesha dan melangkah mundur.
Ayesha berjalan cepat menuju lift dan seketika membuat Kevin panik.
__ADS_1
"Sayang.. Tunggu." Panggil Kevin dan mengabaikan teman satu kuliahnya dulu yang akan menjadi investor di Kings Corp mewakili perusahaan suaminya.
Ayesha masuk ke dalam lift dan segera menutup lift nya. Kevin pun berusaha mengejar menaiki lift lainnya.
Di dalam lift, Ayesha merasa dirinya bodoh, untuk apa ia lari, hal itu hanya membuat dirinya seperti wanita lemah, harusnya Ayesha tetap berada di ruangan itu dan dekat dengan Kevin. Tiba tiba saja Ayesha merasakan kepalanya sangat pusing. Belum sempat lift terbuka, Ayesha sudah terjatuh dan tak sadarkan diri. Ketika pintu lift terbuka, office boy yang akan menggunakan lift untuk membersihkan bagian dalamnya, menemukan Ayesha dalam kondisi tak sadarkan diri.
"Nyonya Ayesha." Office boy menahan lift dan berteriak memanggil pegawai yang lain, namun Kevin segera menghampirinya setelah liftnya turun di lantai yang sama dengan Ayesha.
"Sayang." Panggil Kevin sambil menepuk nepuk pipi Ayesha lalu mengangkat tubuh Ayesha yang terasa dingin.
Kevin segera membawa Ayesha menuju rumah sakit terdekat, hingga tiba di rumah sakit pun Ayesha masih belum sadarkan diri dan Ayesha segera di tangani oleh dokter.
Kevin menunggu Ayesha dengan cemas, Kevin merutuki dirinya karena tidak bisa menjaga jarak demgan wanita meski itu hanya urusan pekerjaan.
Kevin menggusar rambutnya, tadi ia sudah meminta Lina untuk menghubungi Kenzo agar menyusul ke rumah sakit.
Benar saja, Kenzo dengan segera menyusul Kevin dan tiba di rumah sakit dalam waktu yang singkat.
"Kev, bagamana dengan Ayesha?"
Kevin menghela nafas, "Masih di periksa."
"Apa yang terjadi?" Tanya Kenzo.
"Sepertinya Ayesha cemburu padaku, tanpa sengaja Ayesha melihat ku sedang beradu pipi kanan dan kiri dengan Irene, teman kuliah kita dulu, Ken."
"Irene?" Tanya Kenzo meyakinkan. "Bukankah dia sudah menikah?"
Kevin mengangguk, "Irene datang ke kantorku untuk menjadi investor di perusahaanku mewakili suaminya." Jelas Kevin.
Kenzo mengangguk paham, kemudia berkata. "Wajar jika Ayesha seperti itu, Ayesha memiliki trauma di selingkuhi oleh mantan suaminya dulu, dan bisa saja Ayesha merasa takut sehingga Ayesha memilih berlari."
Semua kata kata Kenzo memang terdengar masuk akal.
"Bersabarlah Kev, Ayesha hanya memiliki rasa takut yang berlebihan saja, dan itu bukan hal sepele, kau harus memaklumi itu."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Like, Koment, hadiah dan Vote sangat berarti untuk menaikan semangatku dalam menulis bab selanjutnya 🙏
__ADS_1