
Tidak terasa hari syukuran untuk putra Axelle dan Alissa telah tiba. Acara di lakukan begitu meriah dan juga mewah. Axelle segaja membuat acara itu di mension mereka, karena mengingat tubuh mungil putranya yang tidak memungkinkan untuk berpergian. Karena baginya kenyamanan anak dan istrinya adalah hal yang paling utama.
Alissa duduk di samping Axelle dengan mengunakan gaun putih panjang, dan juga kain selendang putih yang menutupi rambutnya. Sehingga membuat kecantikan ibu muda itu semakin terpancar dengan indahnya. Para tamu berdatangan untuk memeriahkan acara pesta itu, bahkan begitu banyak tamu yang terpesona dengan ketampanan bayi mungil itu.
"Kau belum mengatakan siapa nama putramu," ucap Mika sambil mencium gemas wajah gembul putra Axelle yang sedang tertidur lelap di dalam gendongannya.
"Namanya adalah Bryan! Bryan putra Arvinando," ucap Askara langsung memotong ucapan Mika.
"Benar! namanya adalah Bryan yang bermakna berani dan kuat," ucap Alissa tersenyum.
"Bryan! nama yang bagus. Sama seperti dirinya yang sangat tampan," ucap Mika tersenyum.
"Kamu sudah cocok menggendong bayi," ucap Birma mendekati Mika.
Mendengar ucapan Birma, semua orang langsung menatap ke arahnya. Memang mereka melihat hubungan Mika dan Birma yang semakin dekat. Namun, mereka tidak pernah mau mengurusi urusan asmara sahabat mereka itu. Namun, kali ini jiwa kepo Dirga dan Pran sudah tidak bisa di bendung lagi. Mereka merasa penasaran dengan ucapan Birma.
"Maksudnya apa? apa kalian juga mau menikah? memangnya kalian sudah berpacaran?" tanya Dirga menatap binggung Birma.
"Maaf! kami lupa memberi kabar untuk kalian. Kami akan segera bertunangan," ucap Birma tersenyum.
"Apa! jadi aku akan ketingalan lagi?" ucap Askara terkejut karena dia akan keduluan oleh bocil itu lagi.
"Kakak yang sabar! jodoh kakak masih naik Grab menuju ke mari. Kakak tinggal siapkan saja ongkosnya," ucap Axelle terkekeh kecil.
"Dasar adik lakcnut!" ucap Askara memukul pelan legan Axelle.
"Sudahlah! tidak apa-apa aku belum ketemu jodoh. Yang penting aku sudah memiliki satu putra yang sangat tampan," ucap Askara mengambil Bryan dari gendongan Mika.
"Maksudnya!" tanya semuanya binggung.
__ADS_1
"Bryan adalah putraku. Jadi jika kalian mau punya anak, ya cetak lagi," ucap Askara tanpa dosa lalu membawa Bryan pergi menjauh.
"Apa! kakak kira membuat anak itu gampang apa?" tanya Axelle menatap kesal kakaknya itu.
"Apa susahnya? tinggal pergi ke kamar dan kunci rapat-rapat sudah selesai," ucap Askara tanpa beban.
Mendengar ucapan Asakara, Alissa hanya bisa menunduk malu. Memang apa yang di katakan Askara itu benar apa adanya, tetapi perjuangan untuk mengandung dan melahirkan anak itu yang tidak mudah. Askara malah dengan mudahnya mau mengambil Bryan darinya.
"Kakak hanya bercanda! dia tetap putramu. Tapi aku akan menganggapnya seperti putramu sendiri. Dia akan memanggilku Deddy! Deddy Askara," ucap Askara tersenyum sambil menatap lekat wajah mungil itu.
Mendengar ucapan Askara, Bryan langsung tersenyum, sehingga membuat Askara menjadi gemas sendiri. Nando dan Mirna yang melihat kebahagiaan kedua putranya itu hanya tersenyum bahagia. Mereka berharap agar Askara bisa menemukan kebahagiaannya secepatnya. Karena mereka juga ingin melihat Askara menikah dan memiliki keluarga yang bahagia.
Di saat semua orang sedang berbahagia, Alissa hanya diam sambil menatap ke arah pintu utama. Dia seperti sedang menunggu kehadiran seseorang yang sangat dia rindukan. Dia berharap orang itu bisa ikut merasakan kebahagiaan mereka saat ini.
"Kau sedang menunggu siapa, Sayang?" tanya Axelle menatap ke arah pintu utama.
"Tidak ada!" ucap Alissa tersenyum kecil sambil menyeka air matanya.
Mendengar ucapan Axelle, Alissa hanya bisa diam sambil menahan kesedihannya. Memang dia masih sangat kecewa dengan kejahatan Ayah. Namun, tidak bisa di pungkiri, jika ikatan batin seorang ayah dan juga anaknya akan selalu menyatu. Alissa juga ingin Ayah melihat kebahagiaan yang dia alami saat ini.
"Kau tenang saja! besok kita akan berkunjung untuk menemui Ayah," ucap Axelle tersenyum sambil mengelus lembut puncak kepala istrinya itu.
...----------------...
Sesuai janji Axelle. Hari ini mereka akan menemui Ayah di kantor polisi. Dengan penuh kebahagiaan, Alissa memasak makanan kesukaan Ayah. Dia tau selama di penjara Ayah pasti tidak bisa makan enak. Sehingga dia memasak begitu banyak, dengan harapan Ayah bisa merasa senang.
"Kau masak banyak sekali, Sayang!" ucap Axelle yang baru bangun tidur dan melihat Alissa sudah sibuk di dapur bersama beberapa pelayan.
"Ia, Sayang! aku segaja masak banyak untuk Ayah. Pasti selama di penjara Ayah tidak bisa makan enak," ucap Alissa tersenyum semangat.
__ADS_1
Melihat semangat Alissa, Axelle hanya tersenyum kecil. Dia merasa bahagia karena akhirnya Alissa mau membuka pintu maafnya untuk Ayah. Walaupun dia tau itu sangatlah sulit, tetapi dia yakin Alissa akan bisa memaafkan Ayah secepatnya.
"Sudah! sekarang kau mandi dan bersiaplah. Biar bibi yang teruskan pekerjaanmu," ucap Axelle membawa Alissa menuju kamar.
"Bryan di mana? kakak meninggalkannya sendiri di kamar?" tanya Alissa.
"Kau tidak perlu menghawatirkan putra kita. Seperti biasa, Kak Askara akan menculiknya dan membawanya tidur bersamanya," ucap Axelle menggeleng kecil ketika mengingat kelakuan kakaknya yang satu itu.
Seperti yang di katakan Askara, dia akan menganggap Bryan seperti putranya sendiri. Bahkan dia selalu mengambil Bryan secara diam-diam, di saat Alissa dan Axelle sedang tertidur. Bahkan Alissa dan Axelle pernah panik karena tidak melihat keberadaan Brya di dalam kamar. Padahal Bryan sudah tidur dengan tenang bersama Askara di kamarnya.
"Aku rasa sebaiknya kita secepatnya membuat adik untuk Bryan," ucap Axelle tersenyum nakal.
"Enak saja! kakak kira melahirkan anak itu mudah. Aku belum siap," ucap Alissa mencubit kecil perut Axelle.
"Aku juga belum siap kena tonjok lagi! mataku saja masih sakit sampai sekarang," ucap Axelle mengingat kejahilan Bryan saat mau keluar dari perut Alissa.
"Dari pada sibuk memikirkan membuat adik untuk Bryan. Lebih baik kita mencari jodoh untuk Kak Askara," ucap Alissa memberi ide.
"Tidak! Menikah itu bukan hal mudah. Jadi biarkan kakak mencari jodohnya sendiri," ucap Axelle tidak setuju.
"Baiklah! terserah kakak saja," ucap Alissa memanyunkan bibirnya.
"Sayang!"
"Hem!"
"Selagi Bryan bersama Kak Askara. Aku mau sarapan dulu ya," ucap Axelle menaik turunkan alisnya.
"Apa!" ucap Alissa binggung.
__ADS_1
"Kau tidak bisa menolak," ucap Axelle membawa Alissa kedalam gendongannya lalu membawanya ke dalam kamar mereka. Seperti yang di katakan Askara, langsung kunci pintu rapat-rapat.
Bersambung.....