
Ayah duduk terdiam di dalam kontrakannya. Dia menatap sebuah foto kumuh yang memperlihatkan sepasang suami istri, dan juga seorang gadis kecil yang sedang tersenyum bahagia. Dia menatap foto itu dengan penuh kesedihan, hingga tanpa dia sadari air matanya mengalir dengan deras membasahi wajah keriputnya.
Dia melihat senyuman penuh kebahagiaan dari wajah Alissa dan juga almarhumah istrinya. Di sana terlihat kebahagiaan mereka saat masih bersama dahulu. Namun, semua kebahagiaan itu tinggalah kenangan yang tidak bisa di ulang kembali. Istri yang seharusnya dia jaga dan lindungi malah meninggal karena ulahnya sendiri. Sedangkan putrinya harus melewati hidup dengan penuh penderitaan tanpa ada belaian lebut dari kedua orang tuanya.
"Maafkan aku! maafkan aku karena telah menyakiti kalian. Aku menyesal, aku menyesal karena telah menyakiti kalian," ucap Ayah sambil mengusap foto itu dengan lembut.
Jujur Ayah sangat menyesal karena telah merusak kebahagiaan keluarga kecilnya hanya demi kesenangannya sendiri. Dia ingin sekali meminta maaf dan mengatakan semuanya kepada Alissa. Namun, membayangkannya saja rasanya dia tidak sanggup. Dia tidak bisa membayangkan bagaimana perasaan Alissa jika dalang di balik kematian ibunya adalah Ayah-nya sendiri.
Akan tetapi dia juga tidak bisa menyembunyikan semuanya. Dia juga harus mengakui kesalahannya sebelum Alissa mendengar hal itu dari mulut orang lain. Ayah yakin jika perasaan Alissa akan jauh lebih hancur jika dia mengetahui itu semua dari mulut orang lain. Dia mencoba menarik napasnya dan bangkit dari duduknya. Dia keluar dari kontrakan kecilnya dan mengendarai sepeda motornya menemui Axelle.
Dia yakin Axelle pasti punya jalan keluar atas masalahnya. Ayah sengaja menghubungi Axelle dan mengajaknya untuk bertemu tanpa membawa Alissa. Jujur mendengar ucapan Ayah Axelle merasa binggung. Dia merasa heran kenapa Ayah tidak mau dia mengajak Alissa bersamanya. Tidak mau berpikir panjang, Axelle langsung menepis semua pikirannya dan mengendarai motornya menuju tempat yang di janjikan Ayah.
Sesampainya di sebuah taman yang ada di pinggir kota, Axelle melihat Ayah duduk seorang diri sambil menatap ke danau yang ada di taman itu. Axelle langsung turun dari motornya dan berjalan menghampiri Ayah. Dia duduk di sling pria paruh baya itu dan melihat pria itu sedang memandangi sebuah foto kumuh dan juga kotak perhiasan yang ada di tangannya.
"Maaf! Axelle datang terlambat. Apa Ayah sudah lama menunggu?" tanya Axelle menatap lekat Ayah.
"Tidak apa-apa! ayah juga baru saja datang," ucap Ayah tersenyum.
Mendengar ucapan Ayah, Axelle hanua tersenyum lalu menatap foto yang ada di tangan Ayah. Dia menatap foto gadis kecil yang sangat lucu di foto itu. Dari senyuman dan tatapan gadis itu, Axelle langsung bisa menebak jika gadis kecil yang ada di foto itu adalah istrinya.
"Apa itu foto Alissa? ternyata dia sangat lucu saat kecil," ucap Axelle tersenyum.
"Ia! dia adalah istrimu. Dia sangat lucu 'kan?" tanya Ayah tersenyum sambil terus menatap foto itu.
__ADS_1
"Dulu Alissa selalu tersenyum bahagia. Bahkan senyuman yang kau lihat di foto ini tidak pernah hilang dari wajahnya. Dia memiliki wajah yang cantik seperti ibunya, bukan hanya wajahnya. Tapi juga dia memiliki hati yang sangat cantik, melebihi kecantikan wajahnya," ucap Ayah tersenyum mengingat kebahagiaannya bersama anak istrinya dulu.
"Tapi semuanya telah sirna karena kejadian itu," ucap Ayah menitikkan air matanya.
"Kejadian?" tanya Axelle mengerutkan keningnya binggung.
"Ibu Alissa meninggal karena kecelakaan. Saat dia pergi berbelanja ke pasar, dia di tabrak hingga tewas," jelas Ayah sambil menatap lurus ke depan dengan tatapan kosongnya.
"Dan yang menabraknya adalah Ayah!" ucap Ayah tidak sanggup lagi membendung air matanya.
Dia menanggukupkan kedua tangannya menutup wajahnya sambil menagia kesegukan. Sedangkan Axelle hanya bisa menatap Ayah dengan penuh kebingungan. Dia belum bisa mencerna ucapan Ayah, dia berusaha meresapi ucapan Ayah yang tidak masuk akal menurutnya.
"Maksud Ayah?" tanya Axelle menatap Ayah dengan penuh kebingungan.
"Apa!" ucap Axelle sedikit meninggikan suaranya.
Jujur saja, dia belum bisa percaya dengan apa yang dia dengar barusan. Mana mungkin seorang suami dengan tega membunuh istrinya sendiri. Istri yang seharusnya di lindungi hingga akhir hayatnya, malah menghumbuskan napas terakhirnya di tangan suaminya sendiri. Suami macam apa pria yang ada di sampingnya itu, hingga dia tega membunuh istrinya sendiri hanya demi bisa bersatu dengan wanita lain.
"Maafkan, Ayah!" hanya kata-kata itu yang bisa keluar dari mulut Ayah.
Bahkan dia tidak berani untuk mengangkat Kepalanya. Dia terus menunduk tidak berani menatap menantunya itu, dia tidak bisa membayangkan jika hal itu terjadi kepada putrinya. Sudah pasti hatinya akan sangat hancur.
"Kenapa Ayah tega melakukan itu? apa tidak ada terlintas di hati nurani Ayah bagaimana perasaan Alissa jika mengetahui hal ini?" tanya Axelle menatap Ayah dengan tatapan penuh rasa tidak percaya.
__ADS_1
"Ayah tau! dia pasti akan sangat marah. Dia akan membenci ayah," ucap Ayah menunduk penuh dengan rasa bersalah menyelimuti hatinya.
"Ayah akan menebus kesalahan ayah. Ayah akan menyerahkan diri, untuk mendapatkan semua hukuman untuk semua kesalahan ayah," ucap Ayah kembali sambil menatap lekat wajah Axelle.
"Ayah tau kau adalah pria yang bertanggung jawab. Kau pasti bisa menjaga putri ayah dan mengantikan tugas ayah. Ayah percayakan putri ayah kepadamu, ayah mohon kau jagalah dia. Jangan pernah kau sakiti dia, karena dia sudah sangat menderita selama ini. Ayah mohon, jika suatu saat nanti kau telah bosan kepadanya, tolong jangan kau sakiti dia. Pulangkan saja dia kepada ayah, karena ayah akan dengan senang hati menerimanya kembali," ucap Ayah mengengam tangan Axelle dan menatapnya dengan penuh permohonan.
"Axelle janji! axelle akan menjaga putri ayah, seperti axelle menjaga diri axelle sendiri," ucap Axelle tersenyum sambil membalas gengaman Ayah.
"Tolong kau berikan ini kepadanya. Dia tidak mempunyai foto ibunya. Ayah yakin, dengan melihat foto ini, dia akan merasa senang," ucap Ayah memberikan foto yang ada di tangannya kepada Axelle.
"Dan ini! ini adalah cincin pernikahan ibu Alissa. Tolong kau berikan ini kepada Alissa ya," ucap Ayah memberikan kotak perhiasan yang berisi cicin almarhumah ibu Alissa.
"Ia! axelle akan memberikan ini kepada Alissa," ucap Axelle menerima kotak perhiasan itu.
"Satu lagi! tolong kau sampaikan maaf ayah kepadanya," ucap Ayah memeluk Axelle sambil berusaha menahan tangisnya.
"Ayah tenang saja! aku akan berusaha untuk membujuk Alissa agar bisa memaafkan semua kesalahan Ayah," ucap Axelle membalas pelukan Ayah.
"Ayah pamit! tolong jaga putri ayah," ucap Ayah melepaskan pelukan Axelle lalu melangkahkan kakinya meninggalkan Axelle.
Axelle hanya bisa menatap kepergian Ayah dengan penuh kesedihan. Dia tidak tau harus mengatakan apa kepada Alissa nantinya, dia tidak bisa membayangkan bagaimana perasaan Alissa setelah mengetahui segalanya. Namun, dia juga tidak bisa menyembunyikan kebenaran ini. Dia harus mencari waktu yang tepat untuk menceritakan semuanya kepada Alissa.
Bersambung.....
__ADS_1