
"Sayang! kau makan dulu ya. Kasihan bayimu jika kau tidak mau makan seperti ini," bujuk Mirna mencoba untuk menyuapi Alissa.
"Ia, Sa! kau harus makan. Ingat kandunganmu," ucap Mika berusaha membujuk Alissa.
"Nyonya mau apa? biar bibik buatkan. Asalkan nyonya makan ya. Kasihan kandungan nyonya jika nyonya terus seperti ini," ucap Bik Ijah ikut membujuk Alissa.
"Ma!" ucap Alissa lirih sambil menatap Mirna yang sedang duduk di sampingnya.
"Ia, Sayang? kau mau bicara apa? katakan kepada mama. Kami di sini akan setia mendengar ceritamu," ucap Mirna membelai lembut rambut panjang Alissa.
"Apa Alissa jahat, Ma? Alissa tadi tidak memperdulikan Ayah saat dia terjatuh di depan Alissa. Alissa adalah seorang putri yang sangat jahat, Ma. Alissa harus meminta maaf kepada Ayah. Alissa harus menolong Ayah," ucap Alissa menangis kesegukan mengingat perlakukanya kepada Ayah tadi pagi.
"Tidak, Sayang! kau tidak jahat. Bahkan kau adalah seorang putri, seorang istri dan menantu yang sangat baik. Jadi tidak ada mengatakan kau jahat sayang," ucap Mirna dengan lembut sambil terus berusaha menenangkan Alissa.
"Ia, Nyonya! Nyonya adalah wanita yang berhati lembut. Jadi tidak ada yang mengatakan jika Nyonya itu jahat," ucap Bik Ijah ikut menenangkan Alissa.
"Kau tenang saja, Al. Aku yakin Kak Axelle akan membawa Ayah pulang dengan selamat. Jadi kau tidak perlu merasa cemas seperti itu. Lebih baik kau sekarang makanlah, nanti setelah Ayah pulang kau minta maaflah kepadanya," ucap Mika tersenyum sambil menyendokkan makanan ke mulut Alissa.
"Ia, Sayang! kau makanlah. Ingat kandunganmu. Jika Ayah tau kau tidak bisa menjaga cucunya dengan baik, sudah pasti dia akan semakin kecewa kepadamu," ucap Mirna tersenyum sambil menghapus air mata Alissa.
Melihat perlakuan Mirna, Alissa merasa sosok ibu yang telah lama pergi meninggalkannya kini datang kembali. Dia merasakan kehangatan yang luar biasa di setiap sentuhan lembut yang di berikan Mirna kepadanya. Berada di samping Mirna membuatnya merasa sangat nyama, bahkan dia merasa sosok ibunya telah hadir kembali di dalam tubuh Mirna.
__ADS_1
"Ma! apa boleh aku memelukmu. Setelah kejadian lima belas tahun lalu aku tidak pernah lagi merasakan hangatnya pelukan seorang ibu," ucap Alissa menatap lekat Mirna.
Deg....
Jantung Mirna langsung berdetak kencang mendengar ucapan Alissa. Memang wajar Alissa tidak pernah lagi merasakan hangatnya pelukan seorang ibu, karena ibunya sudah meninggal. Sangat berbeda dengan kedua putranya. Dia masih hidup sampai sekarang, bahkan dia masih tinggal satu atap dengan kedua putranya. Tetapi kedua putranya tumbuh besar tanpa kehadiran pelukan hangat darinya. Ibu macam apa dia? yang tega membiarkan kedua putranya di asuh oleh pembantu agar dia bisa bebas bersenang-senang keluar sana.
"Tentu saja, Sayang! kau boleh memeluk mama sepuasmu," ucap Mirna merentangkan kedua tangannya sambil menitikkan air matanya.
Alissa langsung menghamburkan pelukannya kepada Mirna. Dia memeluk erat tubuh Mirna sambil menangis menumpahkan semua kesedihannya selama ini. Pelukan Mirna begitu hangat, sama seperti pelukan ibunya yang selalu dia dapatkan pada tubuh munggilnya dulu.
Melihat itu, Mika dan Bik Ijah hanya bisa menatap mereka dengan penuh haru. Mika langsung memeluk Bik Ijah sambil menatap haru kedekatan Alissa dengan mertuanya. Walaupun dulu Mirna tidak menyukai Alissa, akan tetapi kini dia dapat menerima kehadiran Alissa dengan sepenuh hatinya. Bahkan kini Mirna sangat menyayangi Alissa seperti putrinya sendiri.
Duar.....
Dor.... dor....
Sebuah bom rakitan yang diciptakan oleh Axelle dan para sahabatnya meledak di bagian pertahanan markas geng motor Drank. Bukan hanya suara ledakan bom, tetapi suara senjata api juga saling bersahutan. Sehingga membuat para penjaga yang berada di sana langsung berjatuhan satu persatu.
Melihat serangan yang datang secara tiba-tiba, para geng motor Drank dan juga para preman yang berjaga langsung berhamburan keluar untuk mempertahankan penjagaan. Mereka tidak akan membiarkan Axelle dan anak buahnya masuk ke markasnya dengan mudah. Namun, bagaimanapun mereka memperkuat pertahan mereka, tidak akan membuat Axelle gentar sedikitpun.
"Kau telah berani mengusik ketenangan ku. Maka lihatlah, akan aku tunjukkan siapa diriku yang sebenarnya," batin Axelle menatap tajam markas itu lalu menyuruh seluruh anak buahnya untuk terus maju.
__ADS_1
Birma dan Pran bertugas untuk membawa pasukannya untuk menyerang dari depan. Mereka akan membuat keributan yang sangat besar agar para penjaga markas itu pokus berjaga ke depan, agar Axelle bisa menyusup dari belakang bersama anak buahnya yang lainnya. Sedangkan Dirga bertugas mengawasi area sekitar markas itu.
Dia meluncurkan begitu banyak dron agar dia bisa melihat dengan jelas pertahanan markas itu. Axelle dan yang lainnya memang bergerak dengan sangat cepat, sehingga membuat para penjaga markas itu langsung kewalahan.
"Bos! markas kita sudah di serang. Bahkan jumlah mereka jauh lebih bayak dari yang kita bayangkan," ucap salah satu penjaga melapor kepada Niko dan juga ketua geng motor Drank.
"Apa! mana mungkin," ucap mertua geng motor itu pucat ketakutan.
"Benar, Bos. Bahkan mereka memiliki senjata yang lengkap. Bahkan mereka juga sudah meledakkan beberapa bom untuk menghancurkan pertahanan kita," jelas penjaga itu.
"Sial! cepat hubungi papa. Kirim semua anak buahnya ke mari," perintah ketua geng motor itu mengacak-acak rambutnya frustasi.
"Baik, Bos!" ucap penjaga itu lalu menghubungi bantuan.
"Bagaimana ini?" tanya Niko dan Tini panik.
"Bagaimana kau bilang. Ayo serang mereka. Gunakan ini," ucap ketua geng motor itu memberikan senjata api kepada Niko.
"Kalau tau begini lebih baik aku mati di tangan papamu saja. Dari pada aku mati mengenaskan di tangan Axelle," oceh Niko merenungi nasipnya.
Bersambung.....
__ADS_1