
Karena kondisi Aliasa yang sedang hamil muda, Axelle segaja meminta salah satu mobil Askara untuk kendaraan mereka ke kampus. Axelle mengendarai mobilnya dengan sangat hati-hati. Bahkan dia sangat memperhatikan setiap lobang agar tidak menimbulkan benturan yang akan membuat Alissa tidak nyaman. Melihat kelakuan Axelle yang begitu fosesif akan kandungannya, Alissa hanya membuang napasnya pelan.
"Sayang! jika kau mengendari mobilnya seperti ini kapan kita sampai ke kampusnya," ucap Alissa kesal ketika melihat mereka masih sampai di pertengahan jalan.
Biasanya mereka hanya membutuhkan waktu lima belas menit untuk sampai ke kampus. Namun, sekarang mereka sudah menghabiskan waktu tiga puluh menit, akan tetapi mereka masih berada di pertengahan jalan. Bayangkan bagaiamana pelan nya Axelle mengemudikan mobilnya agar janin Alissa tidak kenapa-napa.
"Palingan setengah jam lagi," ucap Axelle santai sambil menghentikan mobilnya ketika di depan ada polisi tidur.
Dia melihat ke luar jendela dan menekan pegal gasnya dengan sangat hati-hati. Bahkan untuk melewati polisi tidur itu mereka membutuhkan waktu lima menit. Melihat kelakuan suaminya itu, Alissa langsung memukul keningnya pelang sambil menatap kesal suaminya yang super fosesif itu.
Brakkk.....
Tiba-tiba Axelle melihat seorang pengendara motor yang terpeleset saat ingin mendahului mobilnya. Melihat itu, Axelle langsung menghentikan mobilnya lalu turun untuk membantu pengemudi sepeda motor itu.
"Bapak tidak apa-apa?" tanya Axelle membantu pria tua itu untuk berdiri.
"Tidak apa-apa, Nak!" ucap Ayah bangkit dan berusaha untuk mendirikan sepeda motornya kembali tanpa menatap ke arah Axelle.
"Tangan bapak terluka," ucap Axelle melihat tangan Ayah yang terluka.
__ADS_1
Mendengar ucapan Axelle, Ayah langsung menatap ke arah Axelle.
Deg...
Jantung Ayah langsung berdetak kencang melihat raut kepanikan yang terpancar dari wajah menantunya itu. Jika Axelle tau jika dia adalah Ayah istrinya yang selalu membuat istrinya menderita. Apakah raut kepanikan itu akan tetap terpancar dari wajahnya ketika melihat Ayah terluka seperti ini, ataukah akan berubah menjadi raut kebencian karena penderitaan yang di alami istrinya selama ini.
"Sayang!" ucap Alissa mendekati Axelle dan Ayah.
Melihat kedatangan Alissa, Ayah langsung menatap putrinya itu dengan tatapan penuh kerinduan. Ingin sekali Ayah memeluk tubuh Alissa untuk melepaskan seluruh kerinduannya selama ini. Dia ingin minta maaf karena telah membawa putri semata wayangnya itu ke lembah penderitaan yang sangat menyakitkan.
Melihat sosok pria yang sedang berada di samping suaminya, Alissa langsung meneteskan air matanya. Dia menatap Ayah dengan tatapan penuh kebencian. Dari tatapan Alissa, Ayah dapan melihat dendam dan amarah yang memuncak yang terpancar kepadanya. Melihat tatapan putrinya itu, Ayah hanya bisa diam menunduk sambil menahan air matanya.
"Ayo kita berangkat. Sebentar lagi kita akan masuk kelas," ucap Alissa datar lalu kembali melangkah kakinya menuju mobil.
"Tapi sayang! bapak ini terluka," ucap Axelle tidak tega meninggalkan Ayah seorang diri. Apalagi dengan kondisi Ayah yang sedang terluka.
"Orang yang hanya mementingkan dirinya sendiri tidak pantas untuk di kasihani. Karena dia juga tidak pernah mengasiani orang lain. Biarkan dia sendiri, karena dia memang pantas hidup sendiri," ucap Alissa dengan bibir bergetar karena menahan tangisnya.
"Alissa! Ayah minta maaf. Ayah minta maaf karena tidak pernah memperdulikanmu. Maafkan Ayah karena tidak bisa menjadi Ayah yang baik untukmu," ucap Ayah berjalan mendekati Alissa sambil menatapnya dengan tatapan penuh penyesalan.
__ADS_1
Mendengar ucapan Ayah, Alissa langsung tersenyum sinis. Dia memutar tubuhnya lalu menatap Ayah yang berdiri di depannya dengan tatapan penuh kebencian. Rasa kasih sayang Alissa kepada Ayah telah terkubur dalam-dalam bersama semua kenangan buruknya selama tinggal di neraka yang di ciptakan oleh Ayah kandungannya sendiri.
Melihat keadaan Ayah yang sedang terluka, Alissa tidak merasa kasihan sedikitpun. Karena dia juga selalu mendapatkan luka yang lebih parah dari yang Ayah dapatkan saat ini. Bahkan bukan hanya mendapatkan luka fisik, akan tetapi dia juga selalu mendapatkan luka batin karena ucapan dari orang-orang yang tidak punya hati seperti Ayah dan ibu tirinya.
"Minta maaf! kau kira dengan kata maafmu itu semua luka yang kau lukiskan di dalam hatiku bisa sembuh begitu saja? Tidak! kau salah besar. Kau yang telah melukiskan kebencian yang terukir di dalam hatiku. Jadi kau tidak akan bisa menghapusnya dengan mudah. Apalagi dengan kata maaf yang keluar dari mulut kotormu itu," ucap Alissa menatap tajam Ayah.
Mendengar ucapan Alissa, Axelle dapat menebak jika pria tua yang berdiri di depannya adalah Ayah mertuanya. Memang dia tidak tau permasalahan Ayah dengan Alissa. Akan tetapi sebagai suami, Axelle harus mengajarkan istrinya itu.
"Sayang! kau tidak boleh bicara seperti itu kepada Ayah. Karena bagaimanapun dia tetap Ayahmu yang harus kau hormati," ucap Axelle menatap Alissa dengan tatapan penuh rasa tidak percaya.
"Tidak apa-apa, Nak! Ayah bukanlah Ayah yang baik. Jadi wajar saja jika istrimu sangat membenci Ayah. Jika kau tau kenapa istrimu sangat membenci Ayah, Ayah yakin kau juga akan membenci Ayah juga," ucap Ayah tidak mau menjadi bahan pertengkaran antara putri dan juga menantunya itu.
"Ayah permisi dulu ya. Kalian pergilah, nanti kalian terlambat," ucap Ayah menitikan air matanya lalu meninggalkan Alissa dan Axelle mengunakan sepeda motornya.
Melihat kepergian Ayah, Alissa langsung meneteskan air matanya. Dia menatap kepergiaan Ayah sambil menangis kesegukan. Kakinya bergetar seakan tidak sanggup lagi menopang berat tubuhnya. Melihat itu, Axelle langsung memeluk tubuh istrinya itu sambil berusaha menenangkannya. Dari reaksi Alissa dia dapat merasakan semua kesedihan dan penderitaan yang Alissa pendam seorang diri.
"Kau tenang saja, Sayang. Semua penderitaanmu sudah berakhir dan akan di gantikan dengan kebahagiaan yang tiada batasnya," ucap Axelle mengelus rambut Alissa sambil mencium keningnya dengan lembut.
Bersambung......
__ADS_1