
"Alissa! bisa kakak bicara dengan Axelle sebentar?" tanya Askara menatap Alissa.
Mendengar ucapan Askara, Alissa langsung menatap Axelle untuk meminta pendapatnya. Tentu saja Axelle langsung menganguk. Melihat Axelle yang mengangguk, Alissa langsung tersenyum kecil. Dia langsung melangkahkan kakinya menuju balkon dan menatap langit malam.
"Kau di sini saja!" ucap Axelle sehingga membuat Alissa langsung menghentikan langkahnya.
"Kak! Alissa adalah istriku. Jadi dia berhak tau apapun tentangku," ucap Axelle kembali.
"Baiklah! Al, kau duduklah. Obati luka Axelle," ucap Askara menarik kursi dan duduk di depan adiknya itu.
"Baik, Kak!" ucap Alissa duduk di samping Axelle lalu mengoleskan salep ke luka Axelle.
"Apa kenal siapa yang mengeroyokmu?" tanya Askara menatap Axelle lekat.
"Kenal! kakak tidak perlu cemas. Merek bukan kakak tiri Alissa," ucap Axelle langsung bisa menebak pikiran Askara.
Askara menduga jika yang mengeroyok Axelle adalah geng Niko. Karena dia tau jika Niko adalah komplotan preman yang selalu membuat ulah di mana-mana. Terlebih lagi Askara tau, jika Niko sedang mengincar Alissa untuk di jual kepada pria hidung belang. Hal itu membuat Askara menjadi khawatir jika Niko akan melakukan segala hal untuk mendapatkan keinginannya.
"Jadi siapa?" tanya Askara menatap lekat Axelle.
__ADS_1
"Geng motor Drak!"
"Geng motor yang selalu membuat pengendara resah karena ulah mereka itu,"
"Ia, Kak! Mungkin mereka tidak senang karena kalah dalam balapan kemarin,"
"Ya, Sudah! kau istirahatlah. Besok kau harus kuliah," ucap Askara mengelus lembut puncak kepala Axelle.
"Aku sudah menjadi suami. Jadi kakak jangan memperlakukanku seperti anak kecil terus," ucap Axelle merasa risih dengan kelakuan kakaknya itu.
"Tapi bagiku kau tetap adik kecilku. Walaupun kau sudah menjadi ayah sekalipun," ucap Askara tersenyum.
"Oh ia! aku dengan kau sangat pintar memodifikasi mobil. Apa kau mau memodifikasi mobil kakak. Kakak akan membayarmu dengan mahal," ucap Askara setelah mengetahui bakat tersembunyi adiknya itu.
"Kenapa harus ke sana? kenapa kau tidak membuka bekelmu sendiri?"
"Aku masih mengumpulkan uang untuk itu. Lagi pula Papa Birma memberiku gaji yang cukup besar. Jadi aku akan membuka bekelku sendiri secepatnya,"
"Baiklah! aku akan menyuruh asistenku untuk mengantarkannya besok," ucap Askara tersenyum.
__ADS_1
"Kakak bangga kepadamu. Semoga setelah melihat kesuksesanmu papa dan mama bisa bangga kepadamu. Kau jangan berkecil hati ya. Kakak akan selalu mendukungmu," ucap Askara menatap haru perjuangan adiknya itu.
"Terima kasih, Kak! maaf karena selama ini aku telah membenci kakak,"
"Ia! kakak mengerti. Sekarang kau istirahatlah," ucap Askara tersenyum lalu bangkit dari duduknya.
"Kau juga istirahatlah. Besok kau juga harus kuliah," ucap Askara mengusap lembut puncak kepala Alissa.
Alissa hanya tersenyum menganguk melihat kasih sayang kakak iparnya itu. Walaupun terlihat dingin dan arrogant, akan tetapi kakak iparnya itu memiliki hati yang sangat lembut. Alissa dapat melihat kasih sayang yang tulus yang di berikan Askara kepadanya dan juga Axelle. Pertama kali mendapat kasih sayang dan perhatian dari orang-orang di sekitarnya, Alissa merasa sangat beruntung dan bahagia.
Askara langsung keluar dari kamar Alissa dan Axelle. Sebelum menutup pintu dia melihat kemesraan Alissa dan Axelle. Dia hanya bisa diam sambil menatap hari kebahagiaan adiknya itu. Dia tidak merasa bahagia karena Axelle telah mendapatkan kebahagiaannya. Walaupun kedua orang tua mereka terus mengucilkannya. Namun, Axelle akhirnya bisa menemukan wanita yang sangat mencintainya dan juga menerimanya apa adanya.
Dari sana Askara dapat melihat kebahagiaan dalam berumah tangga yang sebenarnya. Pasangan suami istri yang saling menghargai dan saling mendukung satu sama lain. Bahkan selama mereka menikah, Askara belum pernah melihat mereka bertengkar. Walaupun hanya pertengkaran kecil.
"Kau telah mengajarkan kakak arti sebuah hubungan yang sebenarnya. Kakak berharap suatu hari nanti kakak juga bisa menemukan kebahagiaan kakak," batin Askara lalu menutup pintu kamar Alissa.
Dia langsung melangkahkan kakinya menuju kamarnya. Saat ingin masuk ke kamarnya, Askara dapat mendengar pertengkaran papa dan mamanya. Namun, kali ini dia mendengar suara wanita lain di sana. Suara wanita yang sangat dia kenal. Wanita yang telah menyakiti hatinya hanya karena harta semata
Bersambung.....
__ADS_1
Rekomendasi karya teman๐๐