
Keadaan di area markas Drank terlihat sangat hancur. Mayat bertebaran di mana-mana, Birma dan Pran menghajar setiap lawan yang mendekat dengan membabi buta. Sudah lama mereka tidak berperang seperti ini. Dulu sebelum Axelle bertemu dengan Alissa, mereka sering melakukan tawuran bahkan berperang seperti ini. Jadi mereka sudah terbiasa dalam urusan seperti ini.
Apalagi kini mereka berada di dalam jalan yang benar. Mereka ingin menyelamatkan seseorang yang sangat berharga di dalam sana. Saat ini, tidak ada yang lain dalam pikiran mereka selain membawa Ayah pulang dengan selamat. Mereka tidak ingin melihat Alissa bersedih, karena jika Alissa bersedih, maka Axelle akan merasa gagal sebagai suami.
Melihat kegilaan Dirga dan Pran, Niko yang bertugas untuk menjaga area depan menjadi semakin panik. Bahkan dia hanya diam mematung melihat kegilaan Birma dan Dirga. Dia tidak tau harus berbuat apa, mau kabur, tetapi dia tidak tau harus kabur dari mana. Semua jalan telah di penuhi dengan orang-orang yang saling menyerang satu sama lain. Dia tidak mau menjadi sasaran empuk kegilaan Birma beserta anak buahnya yang lainnya.
"Mati aku! aku harus berbuat apa?" batin Niko memegang senjatanya sambil gemetar ketakutan.
Tiba-tiba nyalinya yang selama ini dia bangga-banggakan tiba-tiba menghilang seketika. Bahkan tidak ada lagi gaya sok jago yang di lontarkan kepada Alissa dan Axelle selama. Semua keberanian dan juga kekuatan yang dia bangga-banggakan selama ini tiba-tiba menghilang bagaikan tertelan bumi. Tidak ada lagi omogang tinggi ataupun ancamab yang menakutkan, yang ada hanyalah wajah pucat dan tangan gemeteran.
"Kau ngapain di sini? ayo serang. Biasanya kau yang paling berani, tapi di mana keberanianmu yang kau perlihatkan selama ini?" tanya salah satu temannya menatap kesal Niko yang hanya diam menatap dari kejauhan.
__ADS_1
"Ini situasinya beda. Bisanya anggota kita jauh lebih hebat dari lawan. Kalau ini mah, anggota kita sudah pasti kalah sebelum berperang," ucap Niko mengusap keringatnya yang terus bercucuran, padahal dia belum menyerang sama sekali.
"Jadi kau meragukan kekuatan, Bos! aku yakin sebentar lagi dia akan mengirim bala bantuan. Apa kau lupa jika bos memiliki anggota yang sangat banyak di setiap sudut kota ini," ucap pria itu menatap kesal Niko.
"Ya sudah! kau bantu mereka. Apa kau lupa jika urusan serang menyerang itu tugasmu. Kalau aku hanya urusan kutip mengutip dan malak memalak," ucap Niko mengingat pekerjaannya yang memang bertugas untuk mengutip uang lapak kepada para pedagang.
"Kau memang banci, Ko. Gayamu aja yang selangit. Tapi nyalimu tidak jauh lebih kecil dari ujung kukuku ini," ucap pria itu menatap kesal Niko.
Sedangkan Tini terus berjalan mondar-mandir di depan ruang tahanan Ayah dengan penuh ketakutan. Dia menatap ketua geng motor itu yang sedang berbicara dengan anggotanya untuk mengatur strategi mereka selanjutnya. Jika dia tau kejadiannya akan seperti ini, maka dia akan lebih memilih untuk menjadi pemuas nafsu kepala preman itu.
"Kita harus berbuat apa? jumlah mereka sangat banyak," ucap Tini begitu panik.
__ADS_1
"Kau diam saja! apa kau lupa jika ini adalah tujuan kita. Kita akan membunuh Axelle dan juga teman-temannya dan menjadikan istrinya sebagai tawanan kita. Hanya saja, kita salah prediksi sedikit. Tapi kau tenang saja, papa sedang menuju ke mari bersama anggotanya yang lainnya," ucap ketua geng motor itu terlihat santai.
Dia tetap yakin jika dia akan bisa mengalahkan Axelle, karena dia tidak tau jika sekarang Askara dan Nando telah berada di belakang Axelle. Bahkan Askara telah membawa seluruh pengawalnya dan beberapa kelompok pembunuh bayaran terhebat di kota mereka untuk membantu Axelle dan yang lainnya.
Sedangkan Ayah di dalam tahanan itu terus menangis kesegukan. Dia tidak menyangka jika menantunya akan melakukan ini semua hanya untuk menyelamatkannya. Padahal dia sudah pasrah akan kehidupannya, karena dia yakin jika tidak akan ada orang yang akan menolongnya. Namun, ternyata dia salah besar, menantunya rela berperang melawan seluruh preman dan juga brandal itu hanya itu menyelatkannya.
Sangat berbeda dengan dirinya dulu. Dia hanya diam ketika melihat putrinya di tindas dan di perlakukan dengan sangat buruk di depannya. Bahkan dia juga ikut menyiksa putrinya sendiri. Ayah seperti apa dirinya, akan tetapi walaupun seperti itu, Axelle masih mau berjuang mati-matian untuk menyelamatkannya. Alangkah beruntungnya dia memiliki menantu dan putri seperti Axelle dan Alissa.
"Ya Allah! Terima kasih, karena kau telah mengirimkan menantu yang sangat bertanggung jawab untukku. Dia rela mempertaruhkan nyawanya hanya untuk menolongku. Aku mohon lindungilah dia beserta seluruh anggotanya, jangan biarkan luka segorespun yang melukai tubuhnya. Karena jika itu terjadi, aku tidak akan bisa memaafkan diriku," batin Ayah terus berdoa untuk keselamatan Axelle dan teman-temannya.
Bersambung.........
__ADS_1