Jodohku Brandal Kampus

Jodohku Brandal Kampus
Part 53


__ADS_3

"Ma! apa Ayah sudah membawa Alissa kembali? ingat waktu kita tinggal sedikit," ucap Niko menatap Tini yang sedang duduk santai di sofa.


"Belum! Ayahmu juga belum pulang sejak semalam. Padahal biasanya dia tidak pernah seperti ini," ucap Tini mengingat jika Ayah belum pulang juga setelah pertengkaran mereka semalam.


"Apa mama bertengkar dengan Ayah?" tanya Niko menatap tajam Tini.


"Ia! habisnya Ayahmu tidak mau mendengarkan mama. Jadi mama terlebih dulu emosi. Lagi pula mama hanya manusia biasa yang punya batas kesabaran," ucap Tini.


"Mama ini kenapa sih. Kenapa mama tidak bisa berusaha membujuk Ayah sebentar saja. Padahal selama ini mama selalu bisa menjinakkan Ayah. Tapi sekarang tidak?" tanya Niko kesal.


"Ya, mama tidak tau. Mama yakin sebentar lagi Ayah juga pulang. Mama yakin dia tidak akan bisa meninggalkan mama. Karena Ayah sangat mencintai mama," ucap Tini penuh keyakinan.


"Baiklah! kita tunggu sampai siang. Jika tidak, mama harus menemui Alissa secara langsung," ucap Niko.


"Kenapa harus mama? kenapa tidak kau saja?" tanya Tini.


"Ma! jika aku yang menemui Alissa, pasti suaminya itu akan langsung mengajarku. Mama tau sendiri 'kan jika suami Alissa sudah mengenalku. Lebih baik mama saja yang membujuk Alissa. Aku yakin dia akan termakan dengan ucapan manis mama," ucap Niko berusaha membujuk Tini.


"Mama harus berkata apa kepadanya?" tanya Tini mengerutkan keningnya binggung.

__ADS_1


"Mama bilang saja Ayah sakit parah, atau apalah itu. Yang pasti mama harus terlihat sedih agar dia percaya. Setelah itu mama bawa dia ke tempat ini, di sana akun dan teman-temanku akan menunggu mama," jelas Niko.


"Jika mama gagal?" tanya Tini.


"Mama harus berhasil. Aku tau mama bisa, apa mama mau aku mati di tangan para preman itu," ucap Niko memasang wajah memelasnya.


Mendengar ucapan Niko, Tini langsung bangkit dari duduknya. Tentu saja dia tidak mau jika sampai putranya mati sia-sia di tangan para preman. Dia akan melakukan apapun agar putranya selamat dari tangan bos preman yang mata keranjang itu. Apa lagi mengingat mahar yang di janjikan kepala preman untuk mereka. Sehingga membuat Tini semakin semangat untuk membujuk Alissa.


"Baiklah! mama akan pergi menemui Alissa. Mama akan membawanya kepada bosku itu," ucap Tini tersenyum sinis.


"Baiklah! mama datang saja ke kediaman keluarga Arvinando. Aku akan memperhatikan mama dari kejauhan," ucap Niko langsung mengatur strateginya.


Tini berlahan menatap ke gerbang yang sedang di jaga oleh beberapa pengawal keluarga Arvinando. Dia mencoba merapikan penampilannya, tidak lupa dia juga merapikan make up nya dan mengoleskan lipstik merah merona di bibirnya. Dia yakin Arvinando akan terpesona dengan kecantikannya. Jika menaklukkan hari Ayah saja dia merasa sangat mudah, bagaimana mungkin dia tidak bisa menaklukkan hati Nando yang terkenal kaya itu.


"Jika aku gagal membujuk Alissa. Tapi setidaknya aku bisa dekat dengan keluarga Arvinando. Mana tau si hot deddy itu bisa tertarik denganku. Jika sampai itu terjadi, aku akan jadi nyonya besar di mension mewah ini," batin Tini bersorak ria sambil membahayakan bagaimana nantinya jika sampai dia berhasil menaklukkan hati Nando.


"Sudah! lebih baik aku fokus kepada Alissa terlebih dulu. Untuk urusan hit deddy ku, aku akan mengurusnya nanti," gumam Tini lalu berjalan mendekati para pengawal yang sedang berjaga di gerbang.


"Maaf! di sini tidak membutuhkan pelayan baru," ucap salah satu pengawal menghentikan langkah Tini.

__ADS_1


"Apa! mereka kira aku mau melamar jadi pelayan. Enak saja, mereka kira aku ini apaan," batin Tini kesal sambil menatap pengawal itu.


Tini berusaha menarik napasnya pelan dan berusaha mengontrol emosinya. Dia tidak boleh gegabah kali ini. Dia harus menurunkan egonya demi keselamatan putranya, dan juga mahar lima ratus juta yang di janjikan kepala preman itu.


"Maaf! saya datang ke sini bukan untuk melamar jadi pelayan. Tapi saya ingin menemui putri saya," ucap Tini menunjukkan wajah sedihnya.


Mendengar ucapan Tini, para pengawal itu langsung saling lempar tatapan. Mereka mengira jika Tini sedang stress dan nyasar ke mension tuan besar mereka.


"Maaf! putri anda tidak ada di sini," ucap pengawal itu.


"Tidak! putri saya ada di sini. Namanya Alissa, dia pergi dari rumah semenjak sebulan lalu. Kami sudah mencarinya kemana-mana. Tapi kami tidak menemukannya. Hingga ada seseorang yang melihat jika dia tinggal di sini," ucap Tini.


"Apa yang dia maksud Nyonya Muda?" tanya pengawal itu bertanya kepada pengawal yang lainnya.


"Nyonya Muda! Apa Alissa menikah dengan putra keluarga Arvinando? gila! pakai pelet apaan itu anak?" batin Tini mendengar percakapan para pengawal itu.


"Anda tunggu di sini. Saya akan bertanya kepada Nyonya Muda dulu," ucap pengawal itu langsung masuk kedalam mension.


Mendengar ucapan pengawal itu, Tini hanya mengangguk kecil. Dia menatap mension itu penuh dengan kekaguman. Dia tidak menyangka jika Alissa bisa menjadi bagian dari keluarga Arvinando. Tini langsung saja memutar otaknya dan akan memperalat Alissa kembali. Dia tidak boleh menyia-nyiakan kesempatannya sebagai besan dari keluarga Arvinando.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2