
Alissa duduk termenung seorang diri di taman belakang. Beberapa hari ini dia sangat merindukan Ayah. Dia juga mencoba menyuruh orang untuk mencari keberadaan Ayah. Namun, sampai sekarang dia belum bisa menemukan keberadaan pria yang telah membesarkannya itu. Dia merasakan kecemasan yang tidak menentu kepada Ayah. Dia takut jika terjadi sesuatu kepada Ayah saat ini. Sudah cukup dia kehilangan sosok ibu dalam kehidupannya. Jangan sampai dia kehilangan Ayah juga.
"Sayang!" ucap Axelle tiba-tiba memeluk Alissa dari belakang sambil mencium lembut wajah istrinya itu.
"Sayang! bikin kaget saja," ucap Alissa tersenyum sambil memegang tangan Axelle yang melingkar di dadanya.
Melihat tatapan istrinya itu, Axelle langsung bisa menebak jika istrinya itu sedang banyak pikiran. Dia perlahan melepaskan pelukannya lalu duduk di samping Alissa. Dia menatap lekat wajah istrinya itu lalu meletakkan kepala Alissa di bahunya.
"Ada apa? sepertinya kau sedang banyak pikiran," tanya Axelle sambil mengusap lembut rambut Alissa.
"Aku merindukan ayah," ucap Alissa di sedikit mengangkat kepalanya untuk menatap wajah suaminya itu.
Degt.....
Jantung Axelle langsung berdetak kencang mendengar ucapan istrinya itu. Dia mencoba menarik napasnya pelan dan berusaha berpikir bagaimana caranya mengatakan semuanya kepada Alissa. Mungkin ini adalah waktu yang tepat untuk mengatakan semuanya. Karena lambat laun dia juga harus mengatakannya semuanya kepada Alissa.
"Tunggu sebentar," ucap Axelle mencoba bangkit dari duduknya.
Axelle melangkahkan kakinya menjauhi istrinya itu. Dia berjalan memasuki mension dengan sambil mengusap wajahnya kasar. Melihat kepergian suaminya itu, Alissa hanya bisa mengerutkan keningnya binggung. Dia menatap kepergian Axelle dengan tatapan penuh tanda tanya.
Axelle berlari kecil menuju kamarnya. Sesampainya di kamar, dia langsung membuka laci yang ada di lemari pakaiannya. Dia menatap kotak perhiasan dan juga foto keluarga Alissa sewaktu kecil yang di berikan Ayah kepadanya. Dia menatap foto itu dengan lekat lalu membuat napasnya kasar. Dia mencoba mempersiapkan dirinya untuk mengatakan semuanya keoada Alissa.
"Sayang! aku tau ini akan terdengar sangat menyakitkan untukmu. Tapi aku yakin, kau adalah wanita yang kuat. Kau pasti bisa menerima semua kenyataan ini dengan lapang dada," batin Axelle meyakinkan dirinya lalu kembali melangkahkan kakinya menemui Alissa.
__ADS_1
Dia melihat Alissa yang masih duduk di kursi tadi menunggu kedatangannya. Melihat wajah istrinya itu, tiba-tiba langkah Axelle langsung berhenti. Dia tidak tau harus melakukan apa, dia takut akan menyakiti perasaan istrinya jika dia menceritakan semuanya. Namun, dia tidak punya pilihan lain. Dia harus mengatakan hal yang sangat menyakitkan itu kepada istrinya.
Axelle berusha untuk menarik napasnya pelan dan mencoba meyakinkan dirinya. Dia yakin istrinya itu akan kuat menerima semua kenyataan ini. Lagi pula istrinya itu tidak sendiri, ada dia dan juga keluarganya yang akan selalu mendukung istrinya itu. Dia yakin keluarganya pasti bisa memberi kekuatan kepada Alissa untuk menerima semua kenyataan pahit ini.
"Kau harus bisa. Ingat, ini adalah wasiat Ayah yang harus kau sampaikan kepada istrimu. Lagi pula apa yang kau takutkan? istrimu adalah wanita yang kuat. Pasti dia akan bisa menerima semua kenyataan ini. Lagi pula sekarang ada kau dan keluargamu. Pasti kalian bisa memberikan dukungan keoadanya," batin Axelle mencoba meyakinkan dirinya.
"Sayang! kenapa kau berdiri di situ?" tanya Alissa menatap binggung suaminya yang terus berdiri tidak jauh darinya.
Mendengar pertanyaan Alissa, Axelle langsung sadar dari lamunannya. Dia menarik napasnya pelan lalu berjalan mendekati istrinya itu. Dia duduk di samping Alissa sambil menatap wajah teduh istrinya dengan tatapan penuh kehangatan.
"Sayang! kau kenapa? lalu apa yang ada di tanganmu itu?" tanya Alissa menatap kotak perhiasan dan juga foto yang ada di tangan Axelle.
Walaupun tidak bisa melihat dengan jelas gambar di foto itu, Alissa bisa melihat jika foto itu adalah foto sebuah keluarga. Dia terus menatap foto itu dengan tatapan penuh kebingungan. Sedangkan Axelle terus menundukkan kepalanya tidak tau harus memulai dari mana. Dia tidak tau harus mengatakan apa kepada istrinya itu.
"Sayang!" ucap Alissa kembali lalu memegang pundak suaminya itu.
Jujur dia tidak kuat untuk membuka mulutnya. Dia yakin, setiap kata yang akan terucap dari mulutnya akan menyakiti perasaan istrinya. Padahal dia sudah berjanji untuk tidak membuat air mata kembali mengalir dari mata indah istrinya itu. Namun, kali ini dia malah di hadapkan pada posisi yang sangat menyakitkan. Di mana dia harus menyampaikan hal yang akan merusak mental istrinya itu.
"Kau kenapa? kenapa kau seperti ketakutan seperti itu? apa kau ada masalah?" tanya Alissa menatap lekat wajah tampan pria yang paling dia cintai itu.
"Tidak! aku tidak ada masalah. Aku hanya ingin menyampaikan hal penting untukmu. Tapi kau harus janji dulu," ucap Axelle menatap istrinya itu dengan tatapan yang tidak dapat di artikan.
"Janji apa?" tanya Alissa menatap lekat mata Axelle.
__ADS_1
"Kau janji jangan menagis. Apalagi sampai melakukan hal yang buruk. Kau harus kuat, kau jangan sampai lemah karena hal ini," ucap Axelle dengan mata Berkaca-kaca.
Mendengar ucapan suaminya itu, Alissa langsung mengerutkan keningnya binggung. Dia menatap wajah Axelle dengan tatapan penuh kebingungan. Berlahan pikiran yang tidak-tidak langsung muncul di pikiran Alissa.
"Jangan katakan kamu punya wanita lain di belakangku," ucap Alissa dengan mata Berkaca-kaca.
"Tidak! tidak, sayang. Tidak ada wanita lain di belakangmu. Karena kau adalah wanita satu-satunya dalam hidupku setelah mama," ucap Axelle menatap lekat wajah Alissa.
"Lalu foto apa itu?" tanya Alissa menunjuk foto yang ada di tangan Alissa.
"Ini!" ucap Axelle gugup lalu memberikan foto itu kepada Alissa secara terpaksa.
Alissa langsung melihat foto foto itu dan melihatnya dengan seksama. Berlahan air mata Alissa langsung bercucuran deras melihat foto yang ada ditangannya. Dengan seketika ingatan yang kembali pada kejadian lima belas tahun lalu. Dia mana dia harus kehilangan cahaya kehidupannya untuk selama-lamanya.
"Ibu!" hanya itu kata-kata yang bisa keluar dari bibir Alissa.
Dengan sigap, Axelle langsung membawa Alissa kedalam pelukannya. Dia mencoba menenangkan istrinya itu, dan berusaha menyiapkan dirinya untuk menyampaikan hal yang paling menyakitkan dalam kehidupannya dan istrinya itu.
Alissa berlahan menenggelamkan wajahnya di dada bidang Axelle. Dia menumpahkan semua kesedihannya dan menagis kesegukan. Axelle membiarkan Alissa meluapkan semua kesedihannya, dan berharap istrinya itu bisa merasa tenang setelah mengeluarkan semua beban yang tersimpan di dalam hatinya.
"Menangislah! menangislah sekuat yang kau mau. Keluarkan semua beban yang ada di dalam hatimu. Jangan biarkan kesedihan itu tetap tersimpan di hatimu," ucap Axelle mencium puncak kepalan Alissa sambil mengusap punggung istrinya itu dengan lembut.
Hal yang paling menyakitkan dalam kehidupan kita adalah ketika kita kehilangan penerang dalam kehidupan kita. Kita memang bisa hidup dengan kasih sayang yang di berikan dari banyak orang. Akan tetapi, dari kasih sayang yang di berikan semua orang kepada kita, akan hanya ada satu yang akan tulus menyayangi kita. Bahkan dia lebih meyayangi kira dari pada dirinya sendiri.
__ADS_1
Dia selalu mementingkan kebahagiaan kita tanpa memikirkan kebahagiaannya sendiri, yang bisa menahan semua pedihnya kehidupannya, asalkan dia bisa melihat kita tersenyum. Dia adalah seorang IBU, wanita yang telah melahirkan kita dan mempertaruhkan nyawanya sendiri. Kehilangan seorang ibu, itu sama saja kita akan kehilangan cahaya dalam kehidupan kita.
Bersambung......