
Indah tersenyum sendiri sambil menatap Nando yang sedang sibuk menyetir. Dia tidak tau di bawa kemana, tetapi yang pasti dia merasa jika dia akan menjadi Nyonya Arvinando secara resmi. Bahkan dia tidak perduli jika dia akan menjadi istri kedua dari hot deddy di sampingnya, karena dia yakin jika dia akan bisa memiliki Nando seutuhnya.
"Sayang! aku mau es krim," ucap Indah manja ketika melihat toko es krim yang mereka lewati.
"Kau mau rasa apa?" tanya Nando tersenyum manis.
"Aku mau rasa coklat," ucap Indah dengan manja.
"Baiklah! kau tunggu di sini. Biar aku belikan untukmu," ucap Nando tersenyum lalu turun dari mobilnya.
Indah hanya mengangguk sambil menatap kepergian Nando. Dia tersenyum penuh kemenangan karena dia bisa mengenggam Nando kembali. Walaupun dia tidak tau dia akan di bawa ke mana, tetapi setidaknya dia masih mendapatkan perhatian dari Nando. Setelah beberapa menit, akhirnya Nando kembali membawa satu kantongan penuh es krim untuk Indah.
"Ini es krim pesananmu," ucap Nando memberikan satu kantong es krim di tangannya.
"Terima kasih, Sayang!" ucap Indah tersenyum lalu menyantam es krim itu.
Nando hanya tersenyum mengangguk lalu kembali mengemudikan mobilnya. Karena terlalu asik memakan es krim dan juga memainkan ponselnya, Indah sampai tidak sadar di bawa ke mana oleh Nando. Sehingga akhirnya mobil Nando berhenti di perkarangan rumah sakit dan memarkirkan mobilnya di halaman rumah sakit itu.
"Kita sudah sampai! ayo turun," ucap Nando tersenyum.
"Kita sudah....," belum selesai mengucapkan kata-katanya, Indah langsung diam ketika melihat mereka telah sampai di mana.
Indah menatap rumah sakit di depannya lalu menatap Nando penuh dengan kebingungan. Dia berpikir kenapa Nando membawanya ke tempat ini, padahal dia tidak sakit sama sekali. Perasaannya langsung menjadi tidak enak, dia berusaha berpikir keras bagaimana caranya agar tidak masuk ke rumah sakit ini bersama Nando.
"Hai, Sayang! akhirnya kau datang juga," ucap Mirna berdiri di samping kaca di samping Nando.
"Mirna!" ucap Indah semakin gugup.
Melihat kehadiran Mirna di sana, berbagai tanda tanya langsung bermunculan di pikiran Indah. Dia berpikir karas akan semua yang ada di depannya, rumah sakit, Mirna istri tua Nando, kedua hal itu membuat kepalanya langsung di penuhi berbagai tanda tanya.
"Kenapa Mirna ada di sini? lalu rumah sakit ini?" tanya Indah menatap Mirna dan juga rumah sakit di depannya dengan penuh kebingungan.
"Sudah! kau tidak perlu binggung seperti itu. Bukankah kita berdua adalah istrinya Mas Nando? walaupun kita berbeda jauh, aku adalah istri sah, sedangkan kau cuman istri simpanan," ucap Mirna sedikit menekan di kata simpanan.
__ADS_1
"Dasar nenek peyot! kau lihat saja nanti. Aku akan menyingkirkanmu secepatnya," batin Indah menatap geram Mirna.
"Sudah! ayo turun," ucap Nando turun dari mobilnya.
"Turun!" ucap Indah gelagapan.
"Ia! ayo turun. Apa kau mau terus berada di mobil ini?" tanya Indah tersenyum.
"Tapi kita mau ke mana? siapa yang sakit?" tanya Indah kebingungan.
"Tidak ada yang sakit. Kami hanya ingin melihat keadaan cucu kami. Apa kau tidak mau ikut?" tanya Mirna tersenyum.
"Cucu?" tanya Mirna mengerutkan keningnya binggung.
"Sudah jangan banyak tanya! kau mau ikut atau tidak?" tanya Mirna ketus.
"Sayang! kau tidak boleh begitu. Dia juga istriku, apa kau lupa dengan perjanjian kita?" tanya Nando menoel kecil hidung Mirna.
"Sayang! ayo turun. Kau juga istriku, jadi kau juga berhak melihat kebahagiaan kami," ucap Nando tersenyum sambil membukakan pintu untuk Indah.
Mendengar ucapan Nando, Indah langsung tersenyum bahagia. Dia yakin jika Nando telah memaksa Mirna untuk menerima dirinya. Tentu saja Indah merasa bangga, akhirnya dia berhasil meluluhkan hati Nando. Sehingga membuat Nando memaksa Mirna untuk menerima kehadirannya. Namun, Indah tidak menyadari makna dari kata-kata terakhir Nando yang menyembunyikan arti yang sangat mendalam.
"Baiklah! aku juga ingin melihat cucu kita," ucap Indah tersenyum bahagia.
"Oh ia! aku baru saja di belikan satu kantong es krim. Apa kau mau?" tawar Indah menunjukkan es krim yang di beli Nando tadi.
"Maaf! saya tidak suka menerima apapun yang tidak khususkan untuk saya. Jika itu di belikan untukmu, berarti itu milikmu. Saya bisa membeli yang baru," ucap Mirna tersenyum.
Mendengar ucapan Mirna, Indah langsung tersenyum kecil. Dia merasa jika Indah cemburu kepadanya. Memang Indah memang tidak peka, atau dia memang tidak tau malu. Sehingga dia tidak mengerti makna dari kata-kata yang di lontarkan Mirna dan Nando kepadanya. Kalau satu sarafnya sudah putus, memang sulit untuk memahaminya.
"Sudahlah! apa Axelle dan Alissa sudah ada di dalam?" tanya Nando membuang napasnya kecil.
"Sudah! ayo kita masuk," ucap Mirna merangkul tangan Nando.
__ADS_1
"Mas! aku lelah. Nanti jika aku jatuh gimana?" ucap Indah dengan manjanya.
"Sayang! kau mengalah ya. Ingat dia sedang mengandung anakku," ucap Nando menatap Mirna dengan permohonan.
"Baiklah! semoga saja bayinya nanti perempuan. kau gandeng saja dia. Aku akan berjalan di belakang kalian," ucap Mirna tersenyum.
"Ayo, Mas!" ucap Indah tanpa tau malu langsung merangkul mesra Nando.
Mereka berjalan melewati koridor rumah sakit secara bersama-sama. Indah terus saja melingkar tangannya di lengan Nando dengan begitu mesranya. Sedangkan Mirna hanya menatap sinis Indah dari belakang. Terlihat jelas jika Indah segaja bermanja-manja di depan Mirna agar Mirna cemburu.
Melihat itu, semua pengunjung yang mereka lewati hanya menatap aneh mereka. Bagaimana tidak Nando berjalan dengan mesra dengan wanita lain, sedangkan di belakangnya Mirna berjalan seorang diri. Sebenarnya Nando merasa risih dengan tatapan mereka, tetapi itu semua karena ulahnya juga. Jadi dia harus menerima semua konsekuensinya.
Hingga akhirnya mereka sampai di ruangan dokter kandungan yang akan memeriksa keadaan kandungan Alissa. Tidak banyak pikir, mereka langsung masuk dan melihat Axelle dan Alissa sudah menunggu mereka di dalam.
"Akhirnya papa datang juga," ucap Axelle sambil menatap sinis Indah yang berada di samping Nando.
"Maafkan papa! apa Alissa sudah selesai?" tanya Nando mengusap puncak kepala Alissa dengan lembut.
"Sudah, Pa!" ucap Alissa tersenyum.
"Papa terlambat. Jadi papa tidak bisa melihat cucu papa," ucap Nando menunduk sedih.
"Tidak apa-apa. Bulan depan Alissa 'kan harus periksa lagi," ucap Alissa tersenyum.
"Kalau sudah selesai. Sekarang periksa kandungannya. Karena dia juga sedang mengandung penerus keluarga Arvinando," ucap Mirna menatap tajam Indah.
"Baik, Nyonya," ucap Dokter kandungan yang mereka percayakan untuk mengontrol kandungan Alissa.
"Ayo, Nyonya!" ucap Dokter itu menyuruh Indah untuk berbaring.
"Apa! kandunganku?" tanya Indah kelagapan.
Bersambung....
__ADS_1