Jodohku Brandal Kampus

Jodohku Brandal Kampus
Part 78


__ADS_3

"Sayang! malu sama Ayah dan papa," ucap Axelle megacak-acak rambut Alissa.


"Ayah, Papa?" tanya Alissa mengerutkan keningnya binggung lalu menatap Ayah dan Nando yang diam mematung melihat melakukannya itu.


"Kenapa kau tidak bilang dari tadi?" tanya Alissa menduk menyembunyikan wajah memerah nya sambil mencubit perut Axelle.


"Bagaimana aku mengatakannya? orang kau tidak memberiku kesempatan untuk bicara," ucap Axelle terkekeh kecil melihat wajah Alissa yang memerah.


"Memang kalau orang sedang jatuh cinta, dunia ini terasa miliknya berdua. Sedangkan kita hanya di anggap setan yang bergentayangan," ucap Nando tersenyum kecil sambil berjalan menghampiri Mirna yang berdiri di belakang Alissa.


Melihat Nando yang menghampirinya, Mirna hanya diam menunduk seperti orang baru pacaran saja. Memang mereka telah menikah selama dua puluh enam tahun. Tetapi semenjak dua puluh tahun lalu, mereka menjadi menjaga jarak sehingga kini menimbulkan kecangunggan dia antara mereka berdua.


"Apa kau tidak menanyakan keadaanku? sebagai seorang suami, aku juga mengharapkan kekhawatiran dari istriku," ucap Nando menatap lekat Mirna.


"Apa kau baik-baik saja? apa kau berhasil mencebloskan mereka semua ke penjara?" tanya Mirna menatap lekat Nando.


"Aku baik-baik saja! semua orang yang telah berani mengusik kehidupan putra dan menantu kita telah aku bereskan semuanya. Sekarang kita bisa hidup dengan bahagia, dan membuka lembaran baru bersama keluarga kita," ucap Nando tersenyum sambil merangkul mesra Mirna.


"Gak pengantin baru, gak pengantin lama! semua sama saja. Sama-sama bikin iri," ucap Mika mengentakkan kakinya kesal melihat kemesraan kedua pasangan itu.


Mendengar ucapan Mika, Nando malah semakin mempererat rangkulannya. Dia malah sengaja memanas-manasi Mika dan Birma, sehingga membuat kedua jomblo itu menatap kesal keusilan Nando.


"Kak halalin aku dong. Biar kita bisa membalas mereka," ucap Mika merengek manja sambil duduk di samping Birma.


"Enak aja! emang kau kira semudah itu," ucap Birma kesal sambil menepis tangan Mika yang melingkar di lengannya.

__ADS_1


Menikah itu bukanlah hal yang mudah, apalagi bagi Birma yang masih kuliah bahkan kuliahnya saja belum selesai. Karena menikah itu bukan hanya sekedar bisa bermesraan dan bisa melakukan semuanya dengan bebas. Akan tetapi, menikah itu membutuhkan pertanggung jawaban yang sangat besar. Karena setelah menikah, Birma akan menjadi kepala keluarga yang harus memikul semua tanggung jawabnya seorang diri.


"Apa susahnya! tinggal pergi saja ke KUA sudah selesai," ucap Mika sembarangan.


"Memangnya kau mau setelah menikah nanti kau hidup susah? aku belum punya pekerjaan, bahkan aku juga belum lulus kuliah," ucap Birma mengusap wajahnya kasar.


"Jadi jika kakak sudah lulus kuliah dan bekerja, kakak mau dong menikah denganku," ucap Mika menatap Birma dengan penuh semangat.


Mendengar pertanyaan Mika, Birma langsung terdiam sejenak. Dia kembali memikirkan apa yang telah dia ucapkan tadi. Ketika mengingat apa yang telah dia ucapkan, Birma langsung malu sendiri.


"Tidak!" ucap Birma ketus.


"Kenapa? aku bisa menjadi istri yang baik untuk kakak. Bahkan aku akan jauh lebih baik dari Alissa," ucap Mika memelas.


"Tidak! aku belum memikirkan soal pernikahan. Aku lebih suka menikmati masa mudaku. Jadi jika kau mau menunggu tinggu saja, tapi aku tidak janji," ucap Birma ketus sambil memalingkan wajahnya dari Mika.


"Diam kau!" ucap Birma melemparkan bantal kepada Axelle.


Melihat pertengkaran Axelle dan Birma, semua orang yang ada di sana hanya bisa terkekeh kecil. Ayah yang melihat senyuman indah yang melingkar di wajah Alissa, hanya bisa menatap putrinya itu dengan mata berkaca-kaca. Dia bersyukur putrinya itu akhirnya berasa di tengah-tengah keluarga yang bahagia.


Alissa yang melihat tatapan Ayah, berlahan menunduk sedih. Ingin sekali dia memeluk Ayah dan menanyakan bagaimana keadaannya, akan tetapi ntah mengapa perasaannya seperti tidak iklhas. Bayangan kekejaman Ayah bersama Tini kembali terbayang di ingatannya. Melihat itu, Axelle langsung mengusap punggung Alissa pelan lalu menatapnya dengan erat.


"Semua keluarga memiliki masalah yang berbeda-beda. Setiap orang tua juga memiliki kekurangan mereka masing-masing. Tidak ada manusia yang sempurna di dunia ini, begitu juga orang tua kita. Tapi sebagai anak, kita harus memaafkan kesalahan mereka. Karena kita juga belum tentu menjadi anak yang mereka inginkan," ucap Axelle tersenyum sambil mengelus lembut puncak kepala Alissa.


"Datangilah Ayah! tanyakan keadaannya. Jika perlu peluklah dirinya dengan erat. Karena kita tidak akan tau sampai berapa lama lagi kita akan bisa merasakan hangat pelukannya," ucap Axelle tersenyum.

__ADS_1


"Tapi, Kak!" ucap Alissa dengan bibir bergetar dan air mata yang mengalir membasahi wajahnya.


"Apa kau ingin hidup tenang? atau kau ingin terus hidup dengan terus berselimut dendam, dan membuat hidupmu jauh dari yang namanya ketenangan," ucap Axelle menatap lekat wajah Alissa.


"Jika kau ingin hidup tenang dan bahagia bersama calon bayi kita. Maka, maafkanlah Ayah. Lupakan semua masa lalu yang tidak perlu kau ingat. Mari kita buka lembaran baru bersama-sama. Bersama Kak Askara, Papa dan Mama, beserta Ayah," ucap Axelle menatap kedua orang tuanya dan juga Ayah secara bergantian.


Mendengar ucapan Axelle, Ayah hanya bisa diam menunduk sambil meneteskan air mata penyesalannya. Dia bahkan tidak sanggup mengangkat wajahnya dan menatap besan beserta menantunya itu. Sedangkan Alissa hanya diam sambil menatap Ayah dengan tatapan yang tidak dapat di artikan. Air matanya terus menetes membasahi wajahnya sebagai saksi bagaimana perasaannya saat ini.


Axelle berlahan turun dari bangsalnya lalu menuntun Alissa mendekati Ayah. Sebagai seorang suami, dia harus bisa mendidik istrinya dengan baik. Dia harus mengajarkan hal yang baik untuk istrinya, termasuk memaafkan ayahnya sendiri. Karena baik buruknya seorang Ayah dia tetaplah Ayah kandung Alissa.


"Ayah!" ucap Alissa langsung memeluk Ayah lalu menangis dalam dekapan Ayah.


Ayah hanya bisa meneteskan air matanya, sambil membalas pelukan Alissa. Dia memeluk putrinya itu dengan erat sambil mencium lembut puncak kepalanya. Ayah merasakan ketenangan yang luar biasa saat berada di dalam pelukan Alissa. Dia terus menangis mengingat semua penderitaan yang telah dia berikan kepada putrinya itu.


"Maafkan Ayah, Sayang! maafkan ayah!" hanya kata-kata itu yang bisa keluar dari mulut ayah saat ini.


"Alissa sudah memaafkan ayah. Ayah jangan tinggalkan alissa lagi ya. Tinggallah bersama kami," ucap melepaskan pelukannya.


"Apa ayah boleh tinggal bersama kita?" tanya Alissa meminta izin kepada Axelle.


"Tentu saja! kita adalah keluarga, jadi kita akan saling membantu satu sama lain," ucap Nando tersenyum.


"Maaf, Sayang! ayah tidak bisa. Ayah harus mengelus kesalahan ayah yang paling besar," ucap Ayah menunduk sedih sambil meneteskan air matanya.


"Ayah adalah dalang dari kecelakaan ibumu. Ayah yang merencanakan itu semua sehingga ibumu harus pergi meninggalkanmu sendirian,"

__ADS_1


Bersambung.....


__ADS_2