
"Ayah tidak apa-apa?" tanya Axelle menyentuh wajah Ayah yang di penuhi luka lebab.
"Tidak! Ayah tidak apa-apa. Bagaimana dengan dirimu?" tanya Ayah meneriksa tubuh Axelle.
Deg...
Jantung Ayah rasanya ingin berhenti berdetak ketika melihat luka tembakan yang ada di lengan Axelle. Ayah langsung meneteskan air matanya dan menyalahkan dirinya atas luka yang di alami Axelle. Tentu saja dia tidak terima jika menantunya terluka hanya demi ingin menyelamatkan pria pecundang seperti dirinya. Seharusnya Axelle membiarkan dirinya mati di tangan para brandalan itu, jika mengingat perbuatannya kepada Aliasa selama ini.
"Kau terluka? seharusnya kau tidak perlu mengorbankan nyawamu hanya untuk menyelamatkanku. Karena aku tidak pantas mendapatkannya," ucap Ayah meneteskan air matanya.
"Siapa bilang ayah tidak pantas di selamatkan? ayah adalah ayah dari wanita yang sangat aku cintai. Jadi aku akan melakukan apapun untuk melindungi Ayah. Termasuk mempertaruhkan nyawaku sendiri," ucap Axelle menghapus air mata Ayah.
"Tapi, Nak! ayah tidak pantas di sebut sebagai ayah," ucap Ayah.
"Siapa bilang? ayah itu adalah ayah yang hebat. Karena ayah mau berubah dan menyesali semua perbuatan Ayah. Bahkan di luar sana banyak seorang ayah yang tidak mengakui kesalahannya sampai dia mati. Tapi ayah dengan berani meminta maaf kepada putri ayah," ucap Axelle tersenyum sambil berusaha menghibur Ayah.
"Sudah! ayah jangan sedih lagi. Alissa sedang menunggu ayah. Dia pasti sangat sedih jika ayah tidak ikut pulang denganku. Jika Alissa sedih, pasti cuci ayah juga akan sedih," ucap Axelle tersenyum sambil membantu Ayah untuk bangkit.
"Cucu?" tanya Ayah mengerutkan keningnya binggung.
"Ia! Alissa putri Ayah sedang mengandung. Jadi Ayah sebentar lagi akan punya cucu. Apa Ayah tidak mau melihat cucu Ayah lahir kedunia ini?" tanya Axelle tersenyum.
"Benarkah? Alissa putriku sebentar lagi menjadi ibu?" tanya Ayah tersenyum haru.
"Ia! ayo kita pulang. Ayah sudah merindukan putri Ayah 'kan?" tanya Axelle tersenyum.
"Axelle! awas,"
Bughh....
"Ayah!" pekik Axelle penuh amarah.
Ayah yang melihat Tini ingin memukul Axelle dari belakang langsung memeluk Axelle, sehingga kayu balok yang cukup besar berhasil menghantam punggungnya.
"Matilah kau!" pekik Tini sambil kembali mengangkat kayu balok ada di tangannya lalu bersiap untuk memukul punggung Ayah sekali lagi.
__ADS_1
Melihat itu, dengan cepat Axelle membalikkan tubuh Ayah, sehingga pukulan Tini meleset dan tidak mengenai punggung Ayah.
"Dasar wanita berhati iblis!" teriak Axelle penuh amarah lalu menangkap kayu yang ada di tangan Tini.
Axelle langsung membuang kayu yang berhasil dia rampas dari tangan Tini. Dia menatap tajam Tini dan bersiap untuk menerkam wanita iblis yang tidak tau diri di depannya. Dia tidak akan memikirkan wanita ataupun pria, karena baginya yang berani menyakiti orang yang dia sayangi harus mendapatkan balasan yang setimpal.
Melihat tatapan Axelle yang begitu tajam, Tini langsung melangkah mundur. Tangan dan kakinya langsung bergetar ketakutan. Namun, langkahnya terhenti tubuhnya terhalang tembok yang ada di belakangnya. Tini hanya bisa diam sambil menatap Axelle yang terus mendekatinya.
Tidak ada belas kasihan, Axelle langsung mencengkram leher Tini sehingga tubuh Tini langsung terangkat ke atas. Karena tidak bisa bernapas, Tini mencoba memegang tangan Axelle dan berharap Axelle akan memaafkannya.
"Jangan bunuh aku!" ucap Tini sambil berusaha menahan sakit pada menahan sakit para lehernya.
Mendengar ucapan Tini, Axelle langsung tersenyum sinis. Dia tidak menyangka jika wanita yang berhati iblis seperti Tini ternyata takut untuk mati juga.
"Ternyata kau takut mati juga," ucap Axelle tersenyum sinis.
Bughh.....
Axelle langsung melemparkan tubuh Tini ke sembarang arah.
Perlahan mata Axelle teralihkan oleh satu kayu rotan yang tergeletak di dekatnya. Melihat itu, Axelle langsung mengingat tato biru yang ada di paha Alissa. Mengingat itu, Axelle langsung mengambil kayu rotan itu dan menatap Tini dengan tatapan membunuh.
"Kau sangat suku membuat tato pada tubuh istriku 'kan? bagaimana jika tato itu aku kembalikan kepadamu," ucap Axelle tersenyum sinis sambil berjalan mendekati Tini.
"Ja... jangan!" ucap Tini penuh permohonan sambil merangkak untuk menjauhi Axelle.
"Jangan!" ucap Axelle tersenyum sinis.
Plak...
"Arghh!" pekik Tini sambil memegangi pahanya yang terasa panas.
"Bagaimana? sakit 'kan? ini yang selalu di rasakan istriku saat hidup bersamamu," teriak Axelle sambil terus memukul tubuh Tini mengunakan rotan itu.
Tini hanya bisa menagis kesegukan menerima setiap pukulan yang dirasakan Tini. Apa yang dia alami saat ini, adalah karena ulahnya sendiri. Karena dia selalu menyiksa Alissa selama tinggal bersamanya. Bukan hanya kekerasan fisik, Alissa juga kerab caci maki darinya. Bahkan Alissa juga sering menahan lapar karena membawa uang tidak seperti yang dia inginnkan.
__ADS_1
"Axelle! sudah," ucap Birma mencoba menenangkan Axelle.
"Lepaskan aku! aku akan membalaskan semua yang istriku alami karena ulang wanita ini," ucap Axelle melepaskan pegangan Birma dengan kasar.
"Bawa wanita itu! pastikan dia mendapat hukuman yang pantas," ucap Birma kepada polisi yang telah berdatangan.
Nando memang sengaja membawa polisi untuk menyelesaikan masalah ini. Ternyata kepala preman dan juga putranya adalah buronan polisi karena telah melakukan perdangangan manusia dan juga barang ilegal lainnya.
"Baik!" ucap Polisi itu langsung menyeret Tini keluar.
Bukan hanya Tini, kepala geng motor dan juga kepala preman beserta para anak buahnya juga di amankan oleh polisi.
"Dia masih hidup?" tanya Axelle menatap kepala preman itu yang masih hidup.
"Tentu saja! lagi pula papa tidak selicik itu," ucap Nando tersenyum sambil memukul lengan Axelle.
"Aw! sakit, Pa!" pekik Axelle ketika Nando tidak sengaja memukul lengannya yang terkena luka tembakan.
"Sudahlah! ayo kita ke rumah sakit. Ayah juga butuh pengobatan pada luka yang dia dapatkan," ucap Askara tersenyum sambil membawa Axelle keluar dari gedung itu.
Birma dan Orang mencoba menuntun Ayah keluar dari gedung itu mengikuti langkah Axelle dan Askara.
"Biarkan aku yang membantu besanku! karena sebentar lagi kami akan sama-sama menjadi kakek," ucap Nando tersenyum lalu merangkul tubuh Ayah.
"Paman benar! ternyata paman sudah tua juga ya," ucap Birma dan Orang serentak.
"Tentu saja! umur boleh tua, tapi jiwa masih tetap muda," ucap Nando tersenyum.
Mendengar ucapan Nando, Axelle dan Askara langsung menghentikan langkahnya. Mereka menatap Nando dengan tatapan membunuhnya, sehingga membuat tawa Nando langsung menghilang seketika.
"Papa hanya bercanda!" ucap Nando terkekeh kecil.
"Maaf, Tuan! apa kami bisa meminta keterangan dari anda?" tanya kepala Polisi menghampiri Ayah.
"Penjelasan kau bilang? apa kau tidak lihat besanku ini sedang terluka. Pangkatmu saja yang tinggi, tapi di mana otakmu? orang lagi kesakitan malah di mintai penjelasan," oce Nando melampiaskan kekesalannya kepada kepala Polisi itu.
__ADS_1
Bersambung......