
Birma mencari keberadaan Mika sekeliling mall. Dia menatap setiap pengunjung dan berusaha mencari keberadaan Mika. Akan tetapi dia tetap tidak menemukan sosok yang dia cari di antara kerumunan pengunjung yang berlalu lalang di sekitarnya. Dia memang salah karena telah mengabaikan Mika dan asik sendiri dengan pekerjaannya, sekarang dia harus tanggung akibatnya dengan mencari keberadaan gadis menyebalkan itu.
Di saat Birma sedang sibuk mengelilingi mall untuk mencari keberadaan Mika, orang yang dia cari malah asik makan di kantil mall. Dia menyantap makanannya sambil mengerutu seorang diri. Birma memamg keterlaluan, dia mengajak Mika untuk datang ke mall ini dengan alasan menemaninya berbelanja.
Namun, dia malah asik sendiri dan tidak memperdulikan Mika yang berada di belakangnya. Karena merasa di abaikan, Mika memilih untuk meninggalkan Birma secara diam-diam dan pergi ke kantin. Kebetulan juga perutnya sangat lapar. Dari pada dia terus mengikuti Birma, lebih baik dia mengisi perutnya saja.
"Dasar! pria menyebalkan. Kenapa sih tidak ada peka-pekanya sedikit saja. Semua orang juga tau jika wanita itu ingin di hormati dan di perhatikan. Tapi jangan di perhatikan, di anggap saja tidak!" gerutu Mika sambil memasukkan makanan ke dalam mulutnya.
Dia menatap ponselnya yang sedari tadi berbunyi, tetapi dia hanya melirik sekilas tanpa ada niat untuk mengangkatnya. Dia membiarkan Birma kewalahan sendiri untuk mencari keberadaannya. Lagian salah sendiri, memabawa anak orang, tetapi hanya di anggap sebagai pajangan.
"Itu anak di mana sih?" gumam Birma mengacak-acak rambutnya frustasi.
Dia menghempaskan tubuhnya di kursi. Dia mencoba berpikir tenang dan mengingat bagian mana yang belum dia kunjungi untuk mencari keberadaan Mika. Hingga akhirnya dia mengingat jika dia belum memeriksa kantin. Dia perlahan melirik jam tangannya dan melihat jika jam sudah menunjuk ke pukul dua siang.
Melihat itu, dia langsung memukul keningnya pelan. Dia terlalu asik memilih barang yang ingin di beli sampai lupa jika mereka belum makan siang. Apalagi mengingat jika Mika sangat rakus dalam urusan makanan, pasti gadis itu sudah kelaparan karena ulahnya.
"Kenapa aku bisa sebodoh ini, Sih! seharusnya aku belajar dulu kepada Axelle. Anak satu itu memang bejat, tapi jika urusan wanita aku akui, dia tidak ada tandingannya," gumam Birma menyadari kebodohannya.
Tidak mau membuang-buang waktu, Birma langsung melangkahkan kakinya menuju kantin. Sesampainya di kantin, dia menatap satu persatu pengunjung yang ssedang mengisi perut mereka di kantin itu. Hingga akhirnya dia melihat seorang gadis yang makan seorang diri dengan ekspresi kesal yang menghiasi wajah cantiknya.
Melihat kekesalan yang terungkir di wajah Mika, Birma langsung menelan ludahnya kasar lalu berjalan mendekati Mika. Dia duduk di kursi yang ada di depan Mika sambil menatap wajah cantik gadis itu dengan tatapan intens. Mika yang menyadari kedatangan Birma hanya diam sambil melirik pria itu sekilas.
"Baru ingat jika datang ke mall ini berdua," ucap Mika ketus sambil terus menyantap makanannya.
"Aku minta maaf!" ucap Birma menunduk merasa bersalah.
Mendengar ucapan Birma, Mika hanya menatapnya sekilas sambil terus menyantap makanannya. Memang dia adalah pengagum berat Birma, tetapi dia juga punya harga diri. Masa ia, dia akan diam saja saat Birma mengabaikannya begitu saja.
__ADS_1
"Makanannya enak ya?" tanya Birma melihat Mika yang makan begitu lahapnya.
"Tidak!" ucap Mika singkat.
"Aku lihat kau sangat lahap memakannya. Coba aku cobain sedikit," ucap Birma menatap makanan Mika.
"Enak aja minta-minta. Pesan sendiri," ucap Mika ketus sambil menjauhkan piringnya dari Birma.
"Cantik-cantik galak amat, Sih!" gumam Birma kesal lalu pergi untuk memesan makanan untuknya.
Mendengar gumaman Birma, Mika hanya memanyunkan bibirnya lalu kembali menyantap makanannya. Setelah beberapa menit, akhirnya Birma kembali dengan mampan yang berisi beberapa jenis makanan, tidak lupa dengan jus segarnya. Dia meletakkan mampan itu di depan Mika dan menyantapnya satu persatu.
Mika yang melihat chicken steak milik Birma. Dia menatap chicken steak itu sambil menelan ludahnya kasar. Melihat tatapan Mika, Birma hanya tersenyum kecil sambil terus melanjutkan makannya tanpa memperdulikan tatapan Mika. Mika ingin meminta chicken steak itu dari Birma,, tetapi dia juga merasa gengsi.
"Kau mau?" tanya Birma membuka suara.
Melihat kelakuan Mika, Birma hanya bisa menggeleng kecil sambil menatap chicken steak miliknya yang telah di rampas Mika. Sedangkan Mika terus menyantap chicken steak itu tanpa rasa bersalah sedikit pun. Tidak mau membuat masalah menjadi lebih panjang, Birma memilih untuk mengalah dan membiarkan Mika menghabiskan chicken steak itu seorang diri dan menyantap makanannya dengan lahapnya.
Setelah selesai, Birma langsung menatap Mika yang ada di depannya. Sedangkan Mika memilih untuk memainkan ponselnya tanpa memperdulikan Birma. Dia ingin memberi Birma pelajaran, agar pria kulkas itu tau bagaimana rasanya jadi dirinya yang selalu di abaikan dan di anggap tidak ada.
Baru beberapa menit di abaikan, Birma langsing merasa tidak nyaman. Dia menatap Mika dengan perasaan yang tidak menentu. Ntah kenapa melihat Mika yang mendiamkannya begitu saja, membuat perasaan Birma menjadi tidak tenang. Dia berusaha menarik napasnya pelan dan berusaha untuk membujuk Mika.
"Kau masih marah?" tanya Birma menatap Mika.
"Tidak! untuk apa aku marah?" tanya Mika sambil terus memainkan ponselnya.
"Karena aku mengabaukanmu," ucap Birma menunduk.
__ADS_1
"Baru sadar jika kakak telah mengabaikanku sedari tadi?" tanya Mika dengan nada ketus.
"Maafkan kakak! habisnya kau sih yang main pergi saja tampa memberitahu kakak," ucap Birma memelas.
"Jadi kakak menyalahkanku?" tanya Mika menatap tajam Birma.
"Tidak! kakak tidak menyalahkanmu," ucap Birma gugup.
"Ini anak kalau marah semakin mengemaskan," batin Birma menatap gemas ekspresi Mika yang begitu mengemaskan.
"Kenapa kakak melihatku seperti itu?" tanya Mika menatap tajam Birma.
"Tidak ada! kakak baru sadar jika kau itu cantik," ucap Birma tersenyum.
Mendengar gomabalan Birma, Mika langsung tersenyum manja. Dia merapikan rambutnya lalu menatap Birma sambil tersenyum sendiri.
"Kakak tadi mau beli apa? ayo biar Mika temani," ucap Mika dengan lembut.
Melihat Mika yang langsung berubah seratus derajat, Birma hanya bisa terkekeh kecil. Ternyata semarah-marah apapun wanita, jika di puji dan di perhatikan maka dia akan luluh sendiri tanpa harus di bujuk.
"Kenapa kakak tertawa? kakak menertawaiku?" tanya Mika menatap tajam Birma.
"Tidak! kakak tidak menertawaimu. Kakak," ucap Birma tidak tau harus berkata apa.
"Kakak apa?" tanya Mika sedikit meninggikan suaranya.
"Maafkan kakak ya. Lebih baik kita beli barangnya tadi. Setelah itu kita mampir di toko es cream. Kakak akan mentraktirmu," ucap Birma tersenyum sambil berusaha membujuk Mika.
__ADS_1
Bersambung......