
Mika menatap aneh Alissa yang terus diam termenung selama jam pelajaran berlangsung. Tidak biasanya sahabatnya itu seperti itu, terlebih lagi melihat sikap Axelle yang tidak seperti biasanya kepada Alissa. Sehingga membuat Mika menjadi binggung sendiri akan sikap pasangan suami istri itu. Dia berpikir apakah sahabatnya itu sedang ada masalah dengan Axelle, memang rumah tangga itu tidak pernah jauh dari yang namanya masalah.
Akan tetapi, yang Mika binggung kan kenapa tiba-tiba masalah itu muncul di saat keadaan Alissa yang sedang hamil muda seperti ini? karena tidak mau berburuk sangka, akhirnya Mika memilih untuk bertanya kepada Alissa. Mungkin dengan bercerita kepadanya, Alissa akan merasa sedikit lega.
Walaupun belum paham soal rumah tangga, tetapi Mika akan membantu permasalahan sahabatnya ini. Karena memang itu gunanya sebuah persahabatan. Saling mendukung satu sama lain, selalu bersama dalam suka maupun suka. Karena Mika tau, Alissa tidak akan punya tempat bercerita selain dirinya.
"Lis! kau kenapa? aku lihat sepertinya kau sedang banyak pikiran," tanya Mika duduk di samping Alissa.
"Tidak apa-apa, Mik. Aku hanya kurang enak badan saja," ucap Alissa berbohong.
"Kau sakit? tapi tubuhmu tidak panas," ucap Mika memeriksa suhu tubuh Alissa.
Mika langsung membuang napasnya kasar. Dia tau jika Alissa sedang menyembunyikan sesuatu darinya. Memang mereka belum lama kenal, akan tetapi Mika tau persis bagaimana sifat sahabatnya itu. Jadi, Alissa tidak akan bisa menyembunyikan apapun darinya.
"Aku tau! kau sedang banyak pikiran 'kan? ayo ceritakan kepadaku. Mana tau aku bisa mencari solusi dari masalahmu," ucap Mika tersenyum sambil mengengam tangan Alissa.
Walaupun selalu bersikap heboh dan cerewet, akan tetapi Mika memiliki pemikiran yang sangat dewasa. Itulah sebabnya kenapa Alissa langsung bisa akrab dengannya. Bukan hanya bisa menjadi sahabat, akan tetapi Mika bisa menjadi kakak yang selalu memberikan kasih sayangnya kepada Alissa.
__ADS_1
Alissa hanya bisa menarik napasnya pelan sambil menatap lekat Mika. Memang dia sekarang sedang membutuhkan tepat untuk bercerita. Memang dia bisa bercerita kepada Axelle suaminya, akan tetapi dia tidak mau menambah beban pikiran Axelle. Sudah cukup Axelle harus bekerja mati-matian untuk membahagiakannya. Dia tidak mau membuat Axelle juga ikut kepikiran dengan masalahnya dengan Ayah.
"Aku tadi bertemu dengan Ayah. Dia jatuh tepat di depan mobil kami," ucap Alissa menunduk sambil meneteskan air matanya.
"Lalu! apa kau menolongnya?" tanya Mika menatap lekat Alissa.
"Axelle yang menolongnya," ucap Alissa menunduk.
Jujur dia memang masih sangat kecewa dengan sikap Ayah selama ini. Ingin sekali dia memaafkan Ayah dan melupakan semua perbuatan Ayah kepadanya. Karena bagaimanapun dia adalah Ayah kandungnya. Namun, dia juga hanyalah manusia biasa yang tidak pernah lumput dari rasa amarah dan dendam. Melupakan semua perbuatan Ayah kepadanya tidaklah mudah untuknya. Karena semua perbuatan Ayah telah tersimpan dengan jelas di memorinya. Bahkan telah meninggalkan luka yang teramat dalam pada hatinya.
"Kau kasih marah kepada Ayahmu?" tanya Mika menatap lekat mata Alissa.
Mendengar pertanyaan Mika, Alissa hanya bisa menunduk sambil menganggukkan kepalanya pelan. Melihat itu, Mika langsung memeluk sahabatnya itu dan mencoba untuk berbicara baik-baik dengannya. Dia berharap Alissa akan mau mendengarkan ucapannya dan bisa memaafkan Ayah, walaupun Alissa belum bisa memaafkan Ayah, tetapi setidaknya Alissa harus tau baktinya sebagai anak.
"Aku tau kau masih marah kepada Ayahmu. Tapi tidak sepantasnya kau membiarkan Ayah terluka didepan matamu. Bukan hanya Ayah, bahkan kita juga harus menolong setiap orang yang terluka di depan kita. Walaupun itu seekor binatang. Kau boleh marah, kau boleh membenci Ayahmu. Tapi jangan biarkan amarahmu membutakan hati nuranimu," ucap Mika menyadarkan Alissa.
Alissa hanya diam menunduk mendengar ucapan Mika, memang tidak sepantasnya dia bersikap seperti tadi kepada Ayah. Apalagi melihat kondisi Ayah yang sedang terluka. Memang amarahnya sudah menguasai dirinya, sehingga dia menjadi kehilangan jati dirinya sendiri.
__ADS_1
"Sayang! kau sudah makan?" tanya Axelle masuk ke kelas Alissa di ikuti oleh ketiga sahabatnya.
Melihat kedatangan para pangeran kampus itu, para mahasiswi yang ada di sana langsung menatap kagum ciptaan Allah yang maha sempurna itu. Bukan hanya para mahasiswi, bahkan Mika langsung melupakan masalah Alissa dan langsung menghampiri Birma.
"Hai, Kak!" ucap Mika merangkul mesra lengan Birma sambil menatap ketampanan Birma dengan penuh kekaguman.
Birma hanya bisa tersenyum kecil dan pasrah dengan kehidupannya. Karena bagaimanapun dia menghindar, Mika aka terus menempel kepadanya. Awalnya dia memang risih dengan melakukan Mika, tetapi lama kelamaan dia merindukan sikap Mika yang selalu heboh ketika berada di dekatnya.
"Belum!" ucap Alissa berusaha menutupi kesedihannya.
"Ayo kita makan di kantin. Jangan sampai bayi kita merengek meminta makan terlebih dulu," bisik Axelle sambil mengelus perut Alissa.
"Apa kau mau di gendong?" tanya Axelle bersiap untuk menggendong Alissa.
"Aku masih bisa berjalan. Jadi kau tidak perlu terlalu fosesif seperti ini," oceh Alissa merasa tidak nyaman dengan sikap Axelle yang terlalu fosesif terhadap kandungannya.
Bersambung.....
__ADS_1