Jodohku Brandal Kampus

Jodohku Brandal Kampus
Part 55


__ADS_3

Mirna duduk terdiam di sudut ranjangnya. Setelah pertengkarannya dengan Axell dan Askara membuat Mirna lebih sering murung di kamarnya. Terlebih lagi mengingat ucapan Bik Ijah yang begitu menusuk hatinya. Dia tidak menyangka jika mereka bisa berkata seperti itu kepadanya.


Memang dia selalu berpoya-poya dan suka menghamburkan uang dengan bersenang-senang. Namun, dia melakukan itu untuk menghilangkan semua beban pikirannya, karena Nando yang suka main perempuan. Sebagai seorang istri, tentu saja dia merasa sakit hati ketika mengetahui jika suaminya memiliki wanita idaman lain di belakangnya.


Karena semua beban yang dia tanggung sendiri, dia malah berubah menjadi iblis yang sangat menyeramkan di depan kedua putranya. Dia tidak tau harus mengadu kepada siapa. Hatinya sangat hancur bersama impiannya yang dia bayangkan selama ini. Dia kira pernikahannya dengan Nando akan bahagia selamanya, akan tetapi dia salah besar. Pernikahannya malah hancur karena kelakuan sang suami yang suka main wanita.


"Kenapa hidupku menjadi seperti ini. Putraku membenciku, suamiku menghianatiku, dan Bik Ijah juga. Dia mengatakan jika aku adalah ibu yang kejam. Apa aku sejahat itu?" gumam Mirna frustasi.


Selama ini dia memang terlihat kuat. Dia kelihatan sedang baik-baik saja. Akan tetapi itu semua hanya terlihat dari luarnya saja. Sebenarnya dia sangat rapuh, sehingga membuatnya selalu hilang kendali. Ibu mana yang tidak menyayangi anaknya. Sama sepertinya, dia juga sangat meyayangi kedua putranya.


Hanya saja karena beban pikirannya yang begitu berat, dia malah sibuk menenangkan pikirannya tanpa memperdulikan kedua putranya. Emosi akan kelakuan suaminya membuatnya hilang kendali. Dia malah menjadi wanita yang egois dan tidak lagi memperdulikan persaan kedua putranya. Sehingga membuatnya terlihat sangat kejam di mata kedua putranya.


Nando yang baru pulang dari kantor tidak sengaja melihat keadaan istrinya yang sedang terpuruk. Ada rasa sakit di hatinya ketika melihat Mirna duduk meringkuk di atas ranjang mereka sambil menangis kesegukan. Dia sadar karena terlalu sibuk dengan kantor dan juga wanita-wanitanya, dia lupa memperhatikan perasaan Mirna. Bahkan dia lupa kapan dia berbincang-bincang hangat dengan Mirna. Selama ini mereka terlalu sibuk bertengkar dan saling menyalahkan, tanpa menyadari kesalahan mereka masing-masing.

__ADS_1


Nando perlahan melangkahkan kakinya mendekati Mirna. Dia menatap keadaan Mirna yang sangat kacau dengan tatapan penuh rasa iba. Dia mencoba duduk di samping Mirna dan mengelus rambut panjang istrinya. Mirna yang merasakan sentuhan Nando, langsung mengangkat kepalanya dan menatap Nando.


"Kau tidak apa-apa?" tanya Nando mengusap air mata Mirna.


"Tidak! aku tidak apa-apa," ucap Mirna memalingkan wajahnya lalu menghapus air matanya.


Mirna menarik napas pelan dan berusaha mengatur emosinya. Dia tidak boleh terlihat lemah di depan Nando. Dia harus kuat agar Nando tidak bisa meremehkannya.


"Apa kau masih memikirkan ucapan Axelle dan Askara?" tanya Nando menatap lekat mata Mirna yang membengkak.


"Aku tau aku telah salah karena telah menyakiti perasaanmu. Sebagai kepala keluarga seharusnya aku menjadi penyejuk keluarga kita. Tapi aku malah menghancurkan kebahagiaan kita. Melihat cara Axelle memperlakukan Alissa, aku sadar jika seorang istri tidak hanya membutuhkan materi, tapi juga waktu dan perhatian dari suaminya," ucap Nando penuh penyesalan.


"Baru sadar! di mana kau selama ini?" tanya Mirna tersenyum sinis.

__ADS_1


"Kau tidak perlu mencari kesalahan orang lain, tanpa menyadari kesalahanmu. Karena jika kau terus melihat kesalahanku tanpa menyadari kesalahmu, maka keluarga kita tidak akan pernah bahagia. Begitu juga denganku. Lebih baik kita mengoreksi diri kita masing-masing terlebih dulu. Setelah kau menyadari kesalahanmu, maka kita akan bicara lagi," ucap Nando membuang napasnya kasar.


Dia tau jika dia terus berbicara, pasti mereka akan kembali bertengkar. Karena Mirna akan terus menyalahkannya dengan kata-kata pedas yang begitu menusuk hatinya. Dia tau jika dia salah, tapi setidaknya Mirna juga harus bisa menjaga tutur katanya saat bicara dengannya. Karena sebagai kepala keluarga dia juga berhak untuk di hormati.


"Lebih baik kita introspeksi diri terlebih dulu. Setelah itu baru kita lanjutkan pembicaraan kita. Aku mau pergi," ucap Nando bangkit dari duduknya.


"Kau mau ke mana? apa kau ingin mememui wanita itu?" tanya Mirna dengan mata yang berkaca-kaca.


"Ia! aku ingin mengakhiri semuanya. Aku telah menyadari kesalahanku, dan aku akan mencoba memperbaiki semuanya. Demi kebahagiaan kedua putra kita," ucap Nando menatap Mirna.


"Aku harap kau bisa menjaga sikapmu kepada menantu kita. Ingat, sama sepertimu, dia juga seorang wanita. Aku harap kau bisa menjaga tutur katamu kepadanya," ucap Nando kembali lalu melangkah kakinya meninggalkan Mirna.


Mendengar ucapan Nando, Mirna hanya terdiam membisu. Dia menatap punggung Nando dengan tatapan kosong. Dia mulai mencerna ucapan Nando yang terus tergiang di pikirannya. Dia memang tidak menyukai Alissa, karena dia takut jika Alissa hanya ingin memanfaatkan Axelle. Terlebih lagi dia tidak tau asal-usul Alissa.

__ADS_1


Bersambung......


__ADS_2