
"Argh!" teriak Indah sesampainya di dalam ruangannya. Dia melemparkan semua benda yang ada di dekatnya sambil berteriak frustasi.
"Sial! wanita itu telah berani melawanku untuk yang kedua kalinya. Lihat saja, aku tidak akan tinggal diam," ucap Indah mengepalkan tangannya frustasi.
Dia berlahan menatap jam dinding yang terpajang di dalam ruangannya. Dia kemudian mengingat jika jam pelajarannya belum habis, tetapi dia memilih untuk pulang saja. Ucapan Alissa yang sangat menohok membuat pikirannya menjadi kacau. Sehingga membuatnya tidak akan konsentrasi saat mengajar nantinya. Dia akan memikirkan cara untuk membalas ucapan Alissa yang telah mempermalukannya di depan kelas nanti saja.
Indah perlahan melangkahkan kakinya menuju parkiran. Saat melewati teman sekelas Alissa, Indah melihat para mahasiswa/i seperti sedang mengosipkannya. Dia dapat melihat cara para mahasiswa itu yang menatapnya dengan sinis, sebagai seorang dosen tentu saja Indah tidak akan terima. Namun, dia hanya bisa memilih untuk diam dan mengurus para mahasiswanya itu nanti saja.
Setelah sampai di parkiran, Indah langsung melakukan mobilnya menuju kantor Nando. Dia tidak akan terima di campakkan begitu saja. Apalagi melihat kebahagiaan Mirna dengan Nando yang selalu di perbincangkan di media sosial. Sehingga membuat Indah semakin panas dan bersumpah akan kembali menghancurkan kehidupan mereka.
Sesampainya di kantor Nando, Indah langsung menyerobot masuk. Dia berjalan dengan santainya menuju ruangan Nando, bahkan dia tidak mendengarkan ucapan resepsionis yang melarangnya untuk masuk.
"Maaf! Tuan Nando sedang sibuk. Jadi dia tidak bisa di ganggu," ucap resepsionis menghalangi jalan Indah.
"Aku tidak perduli! aku ingin bertemu dengannya saat ini juga," ucap Indah tegas sambil terus melangkahkan kakinya.
"Ada apa ini?" tanya Askara dingin sambil menatap datar wanita yang tidak tau malu di depannya.
"Maaf, Tuan. Saya sudah katakan jika Tuan Besar sedang sibuk. Tapi dia terus memaksa untuk masuk," ucap Resepsionis itu menunduk.
"Kau kembalilah bekerja," ucap Askara.
"Baik, Tuan!" ucap Resepsionis itu menunduk lalu kembali ke meja kerjanya.
"Kau semakin lama semakin tampan saja," ucap Indah menatap pesona Askara yang semakin terpancar.
"Bagi wanita sepertimu, setiap pria yang mengenakan setelan jas rapi akan selalu terlihat tampan, apalagi memiliki uang dan kekuasaan. Bukan hanya pria! Bahkan seekor anjing saja, pasti terlihat tampan di matamu," ucap Askara tersenyum sinis lalu melangkahkan kakinya menjauhi Indah.
"Oh! jika kau ingin menemui papa, kau temui saja," ucap Askara sambil terus melangkahkan kakinya.
Mendengar ucapan Askara, Indah hanya bisa mengepalkan tangannya geram. Baru saja dia dibuat kesal oleh ucapan Alissa. Namun, sekarang dia malah mendapatkan ucapan yang lebih menohok dari Askara. Dia menatap punggung Askara dengan dengan penuh kekesalan, lalu melangkahkan kakinya memasuki ruangan Nando.
__ADS_1
Dia langsung main masuk saja tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu. Tentu saja perbuatannya itu langsung di sambut dengan tatapan tajam dari Nando. Namun, dia sama sekali tidak mengiraukan tatapan membunuh yang terpancar dari mata Nando. Dia tetap berjalan mendekati Nando.
"Apa kau tidak tau sopan santun? ha!" bentak Nando sambil menatap geram Indah.
"Kenapa kau membentakku seperti itu? apa kau lupa jika aku sedang mengandung anakmu?" tanya Indah dengan manja.
Mendengar ucapa Indah, Nando hanya tersenyum sinis. Dia menatap Indah dengan tatapan yang tidak bisa di artikan.
"Benarkah! kalau begitu ayo ikut aku," ucap Nando bangkit dari duduknya.
"Ikut! ikut ke mana?" tanya Indah binggung.
"Kau ikut saja," ucap Nando tersenyum kecil lalu melangkahkan kakinya keluar dari ruangannya.
Melihat sikap Nando yang tiba-tiba berubah, Indah langsung mengerutkan keningnya binggung. Dia menatap Nando dengan tatapan penuh kebingungan. Berlahan dia mengingat ucapan Askara diluar tadi, Askara mempersilahkannya menemui Nando tanpa harus melakukan perdebatan terlebih dulu dengannya.
"Apa mereka sudah mau menerimaku?" batin Indah tersenyum penuh kemenangan lalu melangkahkan kakinya mengikuti Nando.
...----------------...
"Tidak! apa Alissa ada bersamamu?" tanya Birma waspada.
"Tidak! tadi Alissa sudah pulang dengan Kak Axelle. Memangnya kenapa?" tanya Mika binggung.
"Ya, sudah! ayo naik. Pakai ini dulu," ucap Birma memberikan helm untuk Mika, lalu mengunakan helmnya.
"Ayo cepat!" ucap Birma menghidupkan motornya.
"Kenapa kakak buru-buru?" tanya Mika binggung.
"Kau tidak usah banyak tanya. Mau ikut atau tidak?" tanya Birma tegas.
__ADS_1
Mendengar ucapan Birma, Mika memilih untuk diam. Dia duduk di boncengan Birma, lalu melingkarkan kedua tangannya di perut Birma dengan erat. Melihat kelakuan Mika, Birma hanya tersenyum lalu melajukan motornya keluar dari pekarangan kampus.
Birma memang sengaja pergi diam-diam bersama Mika, dia tidak memberitahu satupun dari sahabatnya. Karena dia tau, jika mereka tau sudah pasti mereka akan menjadikannya sebagai bahan candaan. Karena Birma pernah mengatakan jika dia tidak akan pernah jatuh cinta kepada Mika, tentu saja dia tidak mau menjilat ludahnya sendiri di depan para sahabatnya. Walaupun lama kelamaan akan ketahuan juga, tetapi setidaknya Birma masih punya waktu untuk menyiapkan mentalnya untuk menerima ucapan dari para sahabatnya itu.
Mika tersenyum hangat sambil terus memeluk erat Birma dari belakang. Dia tidak pernah membayangkan jika akhirnya dia bisa pergi seperti ini dengan Birma. Walaupun hanya di bawa keliling kota dan minum es cendol, tetapi Mika sudah merasa sangat bahagia asal bisa pergi persama Birma. Hingga akhirnya Birma menghentikan motornya di sebuah mall, tentu saja hal itu membuat Mika menjadi binggung sendiri.
"Apa Kak Birma ingin mengajakku berbelanja sepuasnya? wah! ternyata bukan hanya tampan. Ternyata Kak Birma juga sangat pengertian. Memang calon suami idaman," batin Mika menatap kagum Birma.
"Kau jangan kepedean dulu. Aku mengajakmu ke sini untuk membantuku membeli hadiah," ucap Birma seperti bisa membaca suara hati Mika.
"Hadiah?" tanya Mika mengerutkan keningnya.
"Jangan banyak tanya. Cepat turun," ucap Birma dingin.
"Baru saja di puji sebagai cowok pengertian. Tapi ternyata nyebelin," oceh Mika lalu turun dari motor Birma.
Mendengar ocehan Mika, Birma hanya diam lalu melepaskan helmnya. Dia melihat Mika yang kesusahan untuk membuka helm yang menempel di kepalanya. Mau tidak mau, Birma harus membukakan helm Mika.
"Sini! buka helm saja tidak bisa. Dasar manja," oceh Birma.
"Memang wanita itu kuadratnya di manja. Kakak saja yang tidak peka," oceh Mika menatap kesal Birma.
"Sudahlah! ayo masuk," ucap Birma melangkahkan kakinya memasuki mall itu.
Melihat Birma yang meninggalkannya, Mika hanya bisa memanyunkan bibirnya kesal lalu melangkahkan kakinya mengikuti Birma dari belakang. Birma terus melangkahkan kakinya sambil menatap satu persatu barang yang ada di depannya.
"Mik! kau kira lebih bagus yang mana?" tanya Birma binggung harus memilih yang mana.
"Mik!" ucap Birma sekali lagi, tetapi tetap tidak ada jawaban.
"Mik! kau dengar...." ucap Birma sambil membalikkan tubuhnya, tetapi dia tidak melihat jejak Mika di sana.
__ADS_1
"Di mana itu anak?" gumam Birma berusaha mencari keberadaan Mika.
Bersambung......