
Ayah duduk meringkuk di sel sudut sel tahanan. Dia terus menangis menysali semua perbuatan yang telah dia lakukan. Dia dengan tega membunuh istrinya sendiri, bahkan membuat putri kandungnya hidup di penderitaan yang sangat menyakitkan. Dia merasa sebagai manusia terhina di dunia ini. Dia bahkan merasa jika dia tidak pantas disebut sebagai seorang manusia.
"Maafkan ayah, Nak! ayah tau kau pasti akan sangat membenci ayah. Ayah memang tidak pantas untuk mendapatkan maaf darimu," batin Ayah terus menangis merenungi semua kesalahannya.
Setelah menceritakan semuanya kepada Axelle, Ayah langsung menyerahkan dirinya ke polisi. Dia benar-benar ingin menebus semua kesalahannya sebelum dia menghembuskan napas terakhirnya. Dia ingin pergi meninggalkan dunia ini dengan keadaan tenang, tanpa ada lagi beban atas semua kesalahan yang dia lakukan selama ini. Dia ingin sebelum dia meninggal, dia sudah mendapatkan kata maaf dari Alissa. Agar dia bisa pergi dengan tenang.
Axelle sengaja secara diam-diam untuk memberikan keringan hukuman untuk Ayah. Dia juga memerintahkan agar Ayah di berikan sel sendiri tanpa harus bergabung dengan tahanan lainnya. Dia tidak mau jika sampai mertuanya itu di siksa oleh tahanan lainnya. Karena bagaimanapun Ayah tetaplah Ayah kandung dari istri yang sangat dia cintai.
Axelle sengaja diam-diam memerintahkan itu semua, karena dia tau, jika Ayah mengetahuinya pasti Ayah akan menolak dan ingin mendapatkan hukuman yang berat. Memang Ayah pantas mendapatkan hukuman yang sangat berat. Namun, sebagai manusia, Axelle sadar jika Ayah juga manusia biasa yang tidak luput dari dosa. Bahkan Axelle bersyukur karena Ayah telah menyadari semua kesalahannya dan mau menebus semua kesalahan yang pernah dia lakukan.
Padahal bisa saja Ayah menyembunyikan semua kebenaran ini dan memilih hidup bahagia dengan Alissa. Namun, Ayah sadar, jika ada Allah yang telah menyaksikan semua perbuatannya. Jadi, bagaimanapun dia menyembunyikan semua kesalahannya. Pasti suatu saat akan ketahuan juga. Baginya lebih baik Alissa mengetahui segalanya dari dirinya, dari pada Alissa harus tau dari orang lain, sehingga membuat kebencian yang semakin besar tumbuh di hati putrinya itu.
"Ada orang yang ingin bertemu denganmu," ucap seorang penjaga membuka sel tahanan Ayah.
Mendengar ucapan penjaga itu, Ayah langsung mengangkat kepalanya dan menatap penjaga itu dengan intens. Dia mencoba berpikir siapa yang datang menemuinya, karena dia tidak memiliki siapapun selain Alissa. Apa Axelle sudah menceritakan semuanya kepada Alissa? Apa Alissa mendatanginya untuk melampiaskan semua kekesalannya dan membalas kematian ibunya?
Berbagai pertanyaan terus melintas di pikiran Ayah. Dia bertanya-tanya dalam hatinya siapa yang datang menemuinya. Jika benar itu Alissa, dia merasa jika belum sanggup untuk bertemu dengan putrinya itu. Dia belum sanggup menatap wajah putrinya setelah apa yang dia lakukan selama ini.
__ADS_1
"Ayo cepat! keluarlah, waktumu tidak banyak," ucap penjaga itu menarik Ayah untuk keluar dari tahanan.
Tidak ada pilihan lain, Ayah melangkahkan kakinya dengan berat menuju ke ruang tunggu. Dia terus bergulat dengan pikirannya sambil melangkahkan kakinya. Dia mencoba mempersiapan dirinya untuk menerima setiap ucapan yang akan di lontarkan Alissa nantinya. Dia akan terima jika Alissa mencacinya, karena dia memmag pantas mendapatkan itu.
Sesampainya di ruang tunggu, dia melihat sepasang suami istri yang sedang menunggunya. Dia melihat pasangan itu dengan air mata yang langsung mengalir membasahi wajah keriputnya. Rasanya dia tidak tau harus berbuat apa, selain menangis. Dia tidak sanggup menatap wajah putri semata wayangnya itu.
"Alissa!" ucap Ayah menatap mata Alissa yang memancarkan begitu besar kekecewaan kepadanya.
"Maafkan ayah, Nak! ayah salah. Ayah terlalu di butakan oleh nafsu dunia. Sehingga ayah tega menyakiti wanita sholeha seperti ibumu," ucap Ayah langsung bersujud di kaki Alissa.
Dia mencium kaki putrinya itu sambil meneteskan air matanya. Memang dia tau jik dia tidak pantas untuk meminta maaf kepada putrinya itu. Karena dia telah menyakiti hati putrinya itu begitu dalam. Dia tidak bisa membayangkan bagaimana perasaan Alissa ketika mendengar jika orang yang membunuh ibunya adalah Ayah kandungnya sendiri.
Namun, sangat di sayangkan. Pria itu adalah Ayah kandungnya sendiri. Ayah yang seharusnya menjadi panutan untuknya dan juga suaminya. Namun, ternyata ayahnya itu adalah contoh yang sangat buruk, jangankan di contoh, di lihat saja dia merasa tidak pantas.
Kesalahan Ayah cukup besar. Bukan hanya menyiksa dirinya, tetapi Ayah jugalah yang mengakibatkan dia kehilangan sosok penerang dalam kehidupannya. Bahkan Ayah melakukan itu semua hanya demi bisa hidup dengan manusia berhati iblis seperti Tini.
"Kenapa Ayah melakukan itu? kenapa Ayah begitu tega?" tanya Alissa dengan bibir bergetar sambil terus mengalirkan air matanya.
__ADS_1
"Sayang! kau yang tenang dulu. Kita bicarakan ini dengan baik-baik," ucap Axelle berusaha menenangkan Alissa.
Mendengar ucapan Axelle, Alissa berusaha menenangkan dirinya. Dia menarik napasnya dalam, sambil memijit kepalanya yang terasa pusing. Axelle yang melihat itu labgsung memegang bahu Alissa lalu mendudukkannya di kursi. Dia terus berusaha menenangkan istrinya itu, karena dia tidak mau jika sampai terjadi sesuatu pada kandungan Alissa yang akan membahayakan Alissa bdan juga bayi dalam kandungannya.
"Kau yang tenang ya, Sayang. Ingat, kau sudah janji," ucap Axelle mengingat janji Alissa sebelum berangkat.
Mendengar ucapan Axelle, Alissa berusaha menenangkan dirinya. Dia duduk dan mengatur napasnya dengan tenang. Melihat Alissa sudah mulai tenang, Axelle langsung memberinya minum dan mencoba mengusap punggungnya pelan.
Alissa terus menatap pria paruh baya yang ada di depannya itu. Dia tidak tau apa yang ada di dalam pikiran pria itu, sehingga dia begitu tega membunuh wanita yang telah menjadi ibu dari anaknya sendiri. Ayah yang melihat tatapan Alissa, hanya bisa diam menunduk tidak berani menatap wajah putrinya itu. Bahkan dia belum pernah melihat tatapan Alissa yang di penuhi kebencian yang tertuju padanya seperti saat ini.
"Maafkan ayah, Nak! maafkan ayah," hanya kata-kata itu yang bisa dikatakan oleh Ayah kepada putrinya itu.
"Memang kata maaf bisa membuat hati kita lega karena telah mengakui kesalahan kita. Tapi kata maaf tidak selamanya bisa cukup untuk menebus semua kesalahan yang telah kita lakukan. Memang, mengucapkan kata maaf itu sangat mudah, itulah sebabnya orang selalu merasa sepele, karena setelah berbuat kesalahan dia bisa langsung mengucapkan kata maaf dengan mudah," ucao Alissa menatap tajam Ayah.
Mendengar ucapan Alissa, Ayah hanya bisa diam sambil menunduk. Memang kata maaf tidak akan bisa menebus semua kesalahannya. Itulah sebabnya kenapa dia lebih memilih untuk menyerahkan diri ke kantor polisi. Agar dia bisa mendapatkan hukuman yang pantas untuknya atas semua perbuatannya selama ini.
"Ayah tau! Ayah tau maaf tidak akan bisa membangkitkan ibumu kembali. Maaf juga tidak akan bisa menghapus luka yang telah ayah ungkir di dalam hatimu. Tapi percayalah, ayah sudah menyesali semuanya. Ayah ingin menebua kesalahan ayah dengan berasa di tempat ini," ucap Ayah menunduk sambil berusaha menahan tangisnya.
__ADS_1
"Asal Ayah tau, aku tidak pernah menyesal kenapa aku di lahirkan ke dunia ini dengan takdir yang begitu menyakitkan. Karena aku yakin, setiap luka yang telah Allah torehkan kepadaku, akan di balas dengan kebahagiaan yang berlimpah. Aku juga tidak pernah menyesal karena selalu di jatuhkan tanpa ada uluran tangan yang bersedia membantuku, karena dari sana aku belajar bagaimana caranya bangkit dengan kakiku sendiri. Tapi yang paling aku sesalkan di dunia ini. Kenapa aku harus tercipta dari benih pria yang tidak punya hati sepertimu," ucap Alissa dengan penuh penekanan di kata-kata terakhirnya.
Bersambung......