
Ayah duduk terdiam di kontrakannya. Kontrakan yang begitu sempit dan juga sunyi menjadi saksi penyesalan atas perbuatannya selama ini. Dia menangkup kan kedua tangannya di wajahnya sambil menangis kesegukan. Di menyesal karena telah menjadi suami dan Ayah yang buruk untuk Alissa dan Almarhum istrinya. Hanya demi nafsu duniawi dia rela membunuh istrinya sendiri. Bahkan dia juga rela menyiksa putri kecilnya yang seharusnya dia lindungi.
Setelah pertengkarannya dengan Tini, dia memilih untuk keluar dari rumah yang di penuhi orang tidak punya hati itu. Dia lebih baik tinggal seorang diri dari pada harus tinggal satu atap dengan orang yang ingin menjual puterinya. Ayah ingin sekali menemui Alissa dan menyuruhnya untuk berhati-hati. Namun, dia tidak punya keberanian untuk itu.
"Bagaimana kabarmu, Nak? kau pasti sangat bahagia dengan kehidupan barumu. Kau memiliki suami yang sangat tampan dan juga pemberani. Sangat bertolak belakang dengan Ayah yang seorang pengecut," ucap Ayah menatap foto Alissa.
Dia mengingat dengan jelas saat Axelle menolongnya dari para berandal itu. Dari sana dia dapat melihat jika Axelle adalah pria yang baik. Terlebih lagi ketika dia melihat kemesraan Axelle dan Alissa beberapa hari lalu. Membuat Ayah semakin yakin jika Alissa hidup dengan bahagia di istana megah itu.
"Ayah berjanji akan menebus semua kesalahan Ayah, Nak. Ayah akan melindungimu dari wanita serakah itu," ucap Ayah mengusap air matanya.
Dia harus bertindak cepat sebelum Tini dan Niko berhasil menyerahkan Alissa ke tangan pria hidung belang itu. Dia keluar dari rumah kontrakannya dan pergi mengunakan sepeda motornya. Dia berniat untuk menemui Askara dan mengatakan jika Alissa dalam bahaya. Setelah beberapa hari memperhatikan keadaan mension keluarga Arvinando, akhirnya Ayah mengetahui jika Axelle memiliki kakak yang sangat menyayanginya. Dia yakin Askara akan membantunya untuk melindungi Alissa.
Ayah melajukan sepeda motornya menuju ke mension keluarga Arvinando dengan kecepatan tinggi. Dia menyiapkan seluruh mentalnya untuk bicara dengan Askara. Dia tau jam segini Axelle dan Alissa telah pergi ke kampus. Jadi Alissa tidak akan melihatnya saat berkunjung ke kediaman Arvinando. Setelah sampai, Ayah menghentikan sepeda motornya di depan mension keluarga Arvinando. Dia menatap mension mewah itu dengan tatapan penuh kesedihan.
"Maaf! anda mencari siapa?" ucap pengawal yang berjaga di depan gerbang.
"Apa Tuan Askara ada di dalam? saya ingin bertemu," ucap Ayah.
__ADS_1
Melihat penampilan Ayah, para pengawal itu langsung mengingat Tini. Pengawal itu dapat menebak jika Ayah adalah salah satu keluarga dari wanita yang telah membuat kerusuhan di mension majikannya itu.
"Maaf! Tuan Askara sedang tidak ada di dalam. Lebih baik anda pulang saja," ucap pengawal itu dengan dingin.
"Maaf! apa kalian tau dia pergi ke mana? saya ingin menyampaikan hal penting kepadanya," ucap Ayah dengan tatapan permohonan.
"Tidak! lebih baik anda kembali saja," ucap pengawal itu dengan tegas.
"Baiklah! saya akan menunggunya di sini," ucap Ayah tidak mau membuang-buang waktu.
Ayah memilih duduk di depan gerbang untuk menunggu Askara. Walaupun cuaca sedang panas trik dia tidak perduli sama sekali. Dia akan menunggu sampai Askara pulang. Melihat Ayah yang bersikeras para pengawal itu memilih untuk mendiamkannya. Lagi pula Askara memang sedang pergi menemani Alissa dan Axelle ke rumah sakit.
"Alah! mungkin dia sama seperti wanita yang menemui Nyonya Alissa beberapa hari lalu," ucap pengawal lainnya.
Mendengar pembicaraan para pengawal itu, Ayah langsung menebak jika wanita yang mereka maksud adalah Tini. Ayah tidak menyangka jika Tini sampai berani menemui Alissa sampai ke sini. Mendengar keberanian Tini, Ayah semakin merasa cemas. Saat sedang sibuk dengan pikirannya, Tiba-tiba sebuh mobil mewah keluar dari mension. Ayah yang duduk di depan gerbang tidak sengaja menghalangi mobil mewah itu.
Nando yang melihat Ayah duduk di depan gerbang langsung mengerutkan keningnya binggung. Sedangkan para pengawal langsung menyuruh Ayah untuk bergeser karena telah menghalangi jalan Tuan Besar mereka.
__ADS_1
"Hai! kau minggirlah!" ucap salah satu pengawal menyuruh Ayah untuk bangkit dari duduknya.
Mendengar perintah para pengawal itu, Ayah langsung bergerak dan mendorong sepeda motornya menjauhi gerbang. Dia mengusap keringatnya yang bercucuran dengan deras karena tubuhnya terpapar matahari yang begitu cerah. Nando terus menatap Ayah dengan tatapan penuh kebingungan. Dia merasa heran kenapa pria itu rela panas-panasan di depan gerbang mensionnya.
"Siapa pria itu?" tanya Nando kepada salah satu pengawalnya.
"Saya tidak tau, Tuan. Dia sedang menunggu Tuan Askara," jelas pengawal itu.
"Bawa dia ke mari," perintah Nando menatap Ayah dengan penuh rasa penasaran.
Mendengar perintah Nando, pengawal itu langsung mengangguk patuh. Dia berjalan mendekati Ayah dan menyuruh Ayah untuk menemui Tuan Besarnya. Ayah hanya bisa mengangguk patuh dan mengikuti para pengawal itu. Karena Ayah hanya ingin meminta bantuan untuk melindungi putrinya.
"Maaf, Tuan!" ucap Ayah menduk tidak berani menatap wajah Nando.
"Siapa kau?" tanya Nando datar.
"Saya adalah Ayah Alissa, Tuan. Saya mohon maaf karena telah menghalangi jalan Anda,"
__ADS_1
Bersambung.....