Jodohku Brandal Kampus

Jodohku Brandal Kampus
Part 95


__ADS_3

Nando duduk di kursi tunggu sambil menatap Mirna yang mondar-mandir di depannya. Kelakuan istrinya yang begitu bar-bar saat di jalan tadi membuat jantungnya tidak karuan sampai saat ini. Bahkan pistolnya yang di rebut paksa oleh Mirna tadi sampai sekarang masih melekat di tangan istrinya itu. Dia tidak berani mengatakan sepatah katapun untuk meminta pistol itu, karena dia takut dia akan menjadi sasaran empuk kekesalan istrinya.


"Ma, Pa! bagaiamana keadaan Alissa? apa keponakanku sudah lahir?" tanya Askara berlari mendekati Mirna dan Nando di ikuti Birma dan yang lainnya di belakangnya.


"Alissa masih di dalam! dia masih di tangani dokter," ucap Nando sambil berusaha mengatur napasnya.


"Alissa baik-baik saja 'kan? kenapa papa terlihat cemas seperti itu? apa terjadi sesuatu dengan Alissa?" tanya Askara panik melihat wajah Nando yang pucat.


"Alissa tidak apa-apa. Dia sedang menunggu sampai jalan bayinya terbuka semua,"


"Tapi kenapa papa terlihat sangat cemas seperti itu?" tanya Askara binggung.


"Coba kau lihat apa yang ada di tangan mamamu," ucap Nando menunjukkan pistolnya yang ada di tangan Mirna.


"Astaga, Ma! kenapa mama memegang pistol di tempat umum seperti ini?" tanya Askara terkejut.


"Tidak apa-apa! mama hanya berjaga-jaga saja," ucap Mirna santai lalu memberikan pistol itu kembali kepada Nando.


Mendengar ucapan Mirna, semua orang yang ada di sana hanya bisa menantapnya binggung. Mereka tidak menyangka jika Mirna ternyata sangat bar-bar. Bahkan wajah pengemudi mobil yang sok jago tadi sudah babak belur karena ulahnya.


"Apa yang sudah terjadi, Pa?" tanya Askara menatap binggung Nando.


"Lebih baik kau bereskan kekacauan yang telah mamamu buat. Papa akan kirim lokasinya kepadamu," ucap Nando tidak mau jika sampai kelakuan Mirna tadi menjadi masalah besar.


Mereka memang orang terpengaruh di kota mereka. Namun, menodongkan senjata kepada orang lain di depan umum tetap saja salah. Lebih baik mereka membersihkan nama baik mereka secepatnya. Sebelum ada orang yang menjatuhkan mereka karena kelakuan Mirna tadi.

__ADS_1


"Baik, Pa!" ucap Askara mengangguk patuh lalu pergi ke lokasi kegaduhan yang di buat Mirna tadi.


Sedangkan Axelle di dalam ruang persalinan dengan setia menunggu istrinya. Dia memberi dukungannya kepada istrinya itu. Jujur melihat istrinya kesakitan, hati Axelle terasa begitu sangat hancur. Dia terus mengenggam tangan Alissa sambil menitikkan air matanya. Jika bisa, dia ingin mengantikan posisi Alissa saat ini. Setiap triakkan yang keluar dari mulut Alissa, sama saja seperti sembilu yang menancap di lubuk hatinya.


"Kau yang kuat ya, Sayang. Kau pasti bisa. Demi bayi kita," ucap Axelle mencium tangan Alissa sambil mengelus rambutnya lembut.


"Sakit, Kak!" ucap Alissa lirih, sambil menitikkan air matanya.


"Aku tau, Sayang! kau pasti sangat kesakitan. Kau boleh gigit lengan kakak. Gigit saja," ucao Axelle memberikan lengannya kepada Alissa.


"Tidak! aku bisa menahannya," ucap Alissa menepis tangan Axelle lalu mencengkram bantalnya dengan harapan rasa sakitnya bisa berkurang.


Melihat itu, Axelle langsung mengengam tangan Alissa. Dia mengelus perut istrinya itu dengan lembut. Dia berharap dengan sentuhannya rasa sakit yang di rasakan Alissa bisa berkurang. Melihat tubuh Alissa yang semakin melemah, dokter langsung memberi tindakan cepat.


"Jalannya sudah terbuka semua, Nyonya! sekarang nyonya bersiaplah," ucap Dokter yang menangani Alissa mulai bersiap untuk membantu persalinan.


Mendengar ucapan dokter itu, Alissa langsung mengumpulkan semua tenangnya. Dia harus kuat demi bayi mereka. Dia tidak mau mengecewakan semua orang yang menunggu kelahiran bayi itu. Termasuk suaminya, Axelle. Mereka sudah menyiapkan semuanya untuk menyambut kedatangan bayi mungil itu, jadi dia harus kuat. Dia tidak boleh lemah.


"Aku kuat! aku pasti bisa," batin Alissa menatap Axelle yang terus menitikkan air matanya sambil menggam erat tanganya.


"Aku percaya kepadamu! kau pasti bisa, Sayang!" ucap Axelle memberi semangat kepada Alissa.


Mendengar ucapan Axelle, Alissa langsung mengangguk pelan. Sebagai tanda jika dia akan mampu melewati ini. Dia dan bayinya akan selamat dan mereka akan bisa berkumpul kembali.


"Ayo, Nyonya! tarik nafas, buang pelan. Tarik... buang... sekarang tarik.... lalu dorong,"

__ADS_1


Arghhhh.....


Sudah beberapa kali Alissa mencoba mengejan, tetapi hasilnya sama saja. Bayi yang ada di dalam perutnya tetap tidak mau keluar. Melihat itu, dokter langsung membuat keputusan besar. Di mana Alissa harus melakukan persalinan secara Caesar. Karena mengingat keadaan Alissa yang mulai melemah ditambah lagi bayinya yang harus di keluarkan secepatnya. Karena jika ditunda akan memberikan dampak buruk pada Alissa dan juga bayinya.


"Tidak! aku tidak mau operasi," ucap Alissa dengan tegas.


"Tapi, Sayang!" ucap Axelle menatap Alissa binggung.


"Aku bisa melahirkan secara normal. Aku pasti bisa, aku tidak mau di oprasi," ucap Alissa tetap kekeh pada pendiriannya.


"Tapi tenaga nyonya sudah melemah! jika di tunda lagi akan berdampak buruk pada nyonya dan bayi nyonya," ucap Dokter mencoba membujuk Alissa.


"Aku bisa, Dok!" ucap Alissa bersikeras.


"Sayang!" ucap Alissa menatap Axelle.


"Ia, Sayang!" ucap Axelle mendekati Alissa.


"Maafkan aku ya! ini demi bayi kita,"


Bughhh....


Satu begeman langsung mendarat di wajah Axelle. Sehingga pria tampan itu langsung jatuh nyungsep di pantai dengan mata yang membiru karena pukulan Alissa.


Arghhhh.....

__ADS_1


Oe... Oe....


Bersambung.......


__ADS_2