
Indah berjalan mondar-mandir di kamarnya. Dia menatap jam dinding yang menempel di dinding kamarnya yang telah menunjuk ke pukul dua belas malam. Sudah lebih dua minggu Nando tidak pernah lagi menginap di apartemennya. Hal itu membuat Indah menjadi geram karena takut Nando akan meninggalkannya.
Jika Nando meninggalkannya maka sudah di pastikan, dia akan kehilangan semua kemewahan yang di berikan Nando selama ini. Indah tidak akan membiarkan itu, dia tidak akan membiarkan tambang emasnya pergi begitu saja. Padahal dia sudah berusaha mati-matian untuk merebut hati Nando.
Bahkan dia dengan tega meninggalkan orang yang mencintainya dengan tulus agar bisa menjadi nyonya besar keluarga Arvinando. Bahkan di cap sebagai pelakor tidak membuatnya malu. Bahkan dia merasa bangga karena akhirnya berhasil menjadi istri Nando, walaupun hanya istri kedua dan di nikahi secara sirih.
"Pasti nenek lampir itu telah meracuni pikiran Mas Nando. Aku tidak akan membiarkan itu. Aku sudah rela berbagi Mas Nando dengannya. Enak saja dia mau merebut Mas Nando dariku. Lagi pula dia tidak ada menarik-menariknya dibandingkan denganku. Tubuhnya saja sudah keribut dan menyusut. Beda dengan diriku yang masih montok dan segar," gumam Indah kesal.
Tidak mau berpikir panjang, dia langsung mengambil kunci mobilnya yang tergeletak di atas mejanya. Dia dengan cepat keluar dari apartemennya dan mengemudikan mobilnya menuju mension keluarga Arvinando. Dia tidak perduli jika hari sudah larut malam. Yang dia pedulikan hanyalah Nando bisa menginap di apartemennya malam ini.
Sesampainya di mension, Indah langsung melangkahkan kakinya memasuki mension dengan angkuhnya. Setiap pelayang maupun pengawal yang melihatnya hanya terdiam dan pura-pura tidak melihatnua. Karena mereka tidak tau harus melakukan apa.
Jika mereka membiarkan Indah masuk ke mension. Sudah di pastikan Marni akan memarahi mereka semua. Sedangkan jika mereka melarangnya untuk masuk, sudah di pastikan Indah akan mengadu kepada Nando dan mereka juga akan di marahi. Sungguh malang nasib para pelayan keluarga itu. Harus di hadapi dengan dua majikan yang angkuh dan sama-sama egois.
__ADS_1
"Mas! Mas Nando! di mana kau?" teriak Indah sehingga suara teriakanya mengema di mension.
Mendengar suara teriakan Indah, Mirna yang sedang sibuk mewarnai kukunya langsung mengepalkan tanganya geram. Dia menatap Nando yang sedang berbaring santai di atas ranjang mereka sambil memainkan ponselnya. Mirna langsung bisa menebak jika Indah datang pasti untuk menjemput suaminya yang hidung belang itu.
"Kurang ajar! beraninya wanita ****** itu mengotori istanaku," ucap Mirna geram lalu melangkahkan kakinya menemui Indah dengan penuh esmosi.
"Sial! kenapa aku memiliki dua istri yang sama-sama keras kepala. Aku kira memiliki dua istri itu sangat menyenangkan. Tapi ternyata malah membuatku hampir gila," gumam Nando kesal sambil mengacak-acak rambutnya frustasi.
Sebelum terjadi keributan yang sangat besar, Nando langsung melangkahkan kakinya mengejar Mirna. Dia tidak mau keributan itu akan terdengar sampai keluar dan membuat mension menjadi heboh. Apalagi sekarang telah ada Alissa di tengah-tengah mereka.
"Eh kau nenek peyot. Mana suamiku? kau pasti menyembunyikannya ya 'kan?" tanya Indah menatap seluruh isi ruangan itu.
"Hai wanita sialan! kau itu hanya istri sirih. Jadi jangan macam-macam kau. Apa kau haus sentuhan sampai kau datang ke sini untuk menjemput suamiku?"
__ADS_1
"Hai... hai... suamimu! bukankah kau lebih suka keluyuran di luar sana bersama teman-temanmu itu. Sekarang kenapa kau malah tiba-tiba menyuruh Maa Nando untuk menginap di sini. Bahkan sekarang sudah waktunya Mas Nando untuk tidur di tempatku. Apa jangan-jangan para brondongmu itu tidak bisa memuaskanmu lagi," ucap Indah menatap sinis tubuh Mirna dari kaki sampai ujung kepala.
"Bagaimana mereka mau melayanimu dengan baik. Orang tubuhmu saja sudah kadaluwarsa. Tidak ada segar-segarnya," ucap Indah membedakan tubuhnya dengan tubuh Mirna yang sudah mulai menua.
"Sudah! kalian bisa tidak sebentar saja tidak bertengkar? Apa susahnya sih jadi istri itu damai," ucap Nando mencoba menderai pertengkaran kedua istrinya itu.
"Damai kau bilang? apa kau lupa ini jadwalnya untuk tidur di tempat siapa? dulu saja kau selalu ingin tidur denganku. Sekarang kenapa kau malah berlama-lama dengan wanita tua ini?" ucap Indah menatap tajam Nando.
"Wanita tua kau bilang. Kau itu wanita yang masih muda dan segar, tapi sayangnya tidak laku. Sampai-sampai kau harus merebut suami orang lain untuk memuaskan nafsumu yang gila itu. Apa kau tau jika kau itu hanya di jadikan tempat pelampiasan nafsu. Mas Nando cuman menginginkan tubuhmu untuk memuaskan nya. Bukan ragamu," ucap Mirna menatap Indah tidak terima.
Mendengar pertengkaran mama dan ibu tirinya itu, Ada kata hanya terdiam sambil menyaksikan pertengkaran mereka. Dari sana Askara dapat menilai jika mamanya masih mencintai papanya. Hanya saja Mirna telalu meninggikan gengsinya, sehingga dia tidak mengakui jika dia masih mencintai suaminya itu.
"Ehem! apa kalian bisa turunkan suara kalian sedikit. Aku dan adikku mau istirahat. Jika kalian mau bertengkar silahkan di lapangan saja. Di sana kalian bebas melakukan apapun," ucap Askara menatap Mirna dan Indah dari tangga utama.
__ADS_1
Bersambung.....