
Alissa menatap binggung Mika yang sedari tadi tersenyum sendiri. Dia merasa ada yang aneh dengan sahabatnya yang satu itu. Setelah dia sampai ke kampus, dia tidak pernah berhenti melihat senyuman yang terungkir di wajah Mika.
"Sedang kemasukan setan apa itu anak?" batin Alissa bertanya pada dirinya sendiri.
"Selamat pagi semuanya," ucap Indah masuk ke kelas dengan wajah datar dan juga dinginnya.
"Selamat pagi," ucap para mahasiswa tanpa ada semangat sedikitpun.
Tanpa banyak bicara, Indah langsung menerangkan pelajarannya di depan kelas. Selama menjelaskan, matanya terus tertuju kepada Alissa yang diam mendengarkan penjelasannya. Melihat tatapan Indah, Alissa hanya memilih untuk diam dan tidak menghiraukannya. Dia tau jika Indah akan melakukan sesuatu karena Nando telah memilih untuk meninggalkan Indah dan memperbaiki kesalahannya.
Setelah melihat cara Indah membuat keributan di mension, beserta Indah yang juga pernah mengancamnya dengan nilai Axelle. Alissa langsung bisa menebak jika Indah adalah wanita yang licik. Alissa yakin jika Indah akan melakukan segala cara untuk merusak kebahagiaan mereka kembali. Namun, Alissa tidak akan membiarkan itu semua terjadi.
Dia akan berusaha melindungi keluarganya agar tidak berantakan kembali. Baru saja dia mendapatkan kebahagiaan yang berlimbah, dan dia tidak akan membiarkan mereka kehilangan kebahagiaan itu hanya karena wanita licik seperti Indah.
"Sudah paham semuanya?" tanya Indah menatap satu persatu mahasiswa/inya itu.
"Sudah, Buk!" ucap semuanya serentak.
"Sekarang kumpulkan tugas kalian," ucap Indah.
"Alissa! kumpulkan tugas tugas mereka semua," perintah Indah sambil mantap tajam Alissa.
Mendengar perintah Indah, Alissa hanya mengangguk kecil. Dia berlahan bangkit dari duduknya lalu mengumpulkan satu persatu tugas teman sekelasnya itu. Indah terus memperhatikan setiap langkah Alissa, dia menatap Alissa dengan tatapan penuh kelicikan.
__ADS_1
"Ini, Buk!" ucap Alissa memberikan seluruh tugas satu kelas yang sudah dia kumpulkan.
"Mana milikmu?" tanya Indah menatap tumpukan kertas di depannya.
"Ini!" ucap Alissa memberikan makalah yang telah dia siapkan.
Indah langsung mengambil makalah milik Alissa, dia memeriksa makalah itu dengan sangat teliti sambil melirik Alissa yang berdiri di depannya. Perlahan Indah tersenyum sinis, dia melemparkan makalah milih Alissa ke lantai sambil menatap tajam Alissa. Sepertinya dia akan melampiaskan semua kekesalannya dengan mempermalukan Alissa di depan teman-temannya.
"Ini apa? ini sangat jauh dari permintaan saya," ucap Indah, sehingga membuat satu kelas itu langsung terdiam menatap mereka.
Mendengar ucapan Indah, Alissa hanya membuang napasnya pelan lalu mengambil makalah milihknya yang tergeletak di lantai. Dia memeriksa ulang makalah yang dia buat, tetapi dia tidak menemukan kejangalan sama sekali.
"Maaf! isi makalah ini sudah sesuai dengan perintah ibu. Saya membuatnya seperti permintaan ibu," ucap Alissa dengan berani.
"Di sini dosennya saya atau kamu? jika saya bilang itu tidak sesuai, ya tidak sesuai. Kau ulang kembali hari ini juga," ucap Indah melipat kedua tangannya di dada.
"Kau sepertinya menentang saya?" tanya Indah menatap geram Alissa.
"Saya tidak menantang ibu! saya hanya bertanya di mana tugas saya yang tidak sesuai dengan permintaan ibu. Jika ibu tidak menjelaskannya bagaimana saya bisa memperbaikinya," ucap Alissa tanpa rasa takut sedikitpun.
Mendengar ucapan Alissa, Indah langsung tersenyum sinis. Dia menyingkirkan rambutnya ke belakang lalu melipat menyandarkan tubuhnya di mejanya. Dia menatap penampilan Alissa dari atas sampai ke bawah dengan tatapan merendahkan.
"Jangan mentang-mentang kau sekarang adalah menantu dari keluarga Arvinando, kau bisa melawan saya seenaknya seperti ini. Ingat, sebelum menikah dengan Axalle kau itu adalah penjual di lampu merah," ucap Indah terkekeh kecil.
__ADS_1
"Aku tidak menyangka jika pedagang di lampu merah bisa menikah dengan putra keluarga Arvinando. Apa jangan-jangan kau," ucap Indah menutup mulutnya sambil membulatkan matanya.
"Oh! saya lupa, kau menikah dengan Axalle karena di gerebek warga 'kan? kau tertangkap basah di pagi hari sedang tidur berpelukan dengan Axalle di gedung tua," ucap Indah mempermalukan Alissa di depan kelas.
Mendengar ucapa Indah, Muka langsung mengepalkan tangannya geram. Dia tidak Terima jika sahabat di permalukan seperti ini. Namun, saat dia ingin bangkit dari duduknya Alissa langsung memberi kode untuk menyuruhnya tetap diam. Melihat itu, Jika langsung mengurungkan niatnya, dia kembali duduk sambil menatap Indah dengan tatapan penuh amarah.
"Maaf! apa ibu tidak punya pekerjaan lain selain mengurusi kehidupan orang?" ucap Alissa santai.
Mendenga pertanyaan Alissa, Indah malah tersenyum sinis.
"Saya tidak mengurusi kehidupanmu, saya hanya mengatakan kenyataannya," ucap Indah tersenyum tanpa dosa.
"Jika ibu tidak mengurusi kehidupan saya, lalu kenapa ibu sibuk-sibuk mencari taunya. Karena sebelum kuliah di sini saya tidak kenal sama sekali dengan ibu. Bahkan ibu juga tidak pernah membeli ataupun minum di warung saya, bahkan pada kejadian saya di gerebek oleh warga ibu juga tidak ada di sana. Lalu ibu tau masa lalu saya dari mana?" tanya Alissa tersenyum sinis.
"Maaf! apakah ibu salah satu pengemar suami saya? sehingga ibu sampai repot-repot untuk mencari tau kehidupan saya dan suami saya," ucap Alissa menatap geram Indah.
Mendengar ucapan Alissa, Indah langsung terdiam. Dia kira akan bisa membuat Alissa malu akan masa lalunya yang hanya gadis penjual minuman di lampu merah. Akan tetapi Alissa malah melemparkan semuanya kepada Indah, sehingga niatnya mempermalukan Alissa malah berbalik mempermalukan dirinya sendiri.
"Maaf, Bu! sebelum anda sibuk mengoreksi kehidupan orang lain, maka koreksilah hidup ibu terlebih dahulu. Bukan niat saja untuk berbicara lancang kepada ibu, tapi saya mengatakan hal yang sebenarnya," ucap Alissa tersenyum sinis.
"Satu lagi! ini adalah kampus, jadi jangan sampai ibu bawa masalah pribadi ke dalam masalah kampus. Memang ibu itu adalah dosen di sini, dan semua nilai saya ada di tangan ibu. Tapi,, ibu itu disini di gaji, sedangkan kami di sini membayar. Jadi sebagai dosen ibu seharusnya tau posisi ibu," ucap Alissa tersenyum sinis lalu melangkahkan kakinya keluar kelas.
"Ha... ha... malu tu, mau melemparkan lumpur ke wajah seseorang. Tapi malah lumburnya balik ke wajahnya sendiri," ucap Mika terkekeh kecil lalu berlari mengejar Alissa.
__ADS_1
Mendengar ucapan Mika, Indah hanya mampu mengepalkan tangannya geram. Dia mengambil tugas para mahasiswanya yang di letakkan Alissa di atas meja lalu keluar dari kelas itu dengan penuh amarah.
Bersambung....