Jodohku Brandal Kampus

Jodohku Brandal Kampus
Part 99


__ADS_3

seorang pria paru baya sedang duduk meringkuk di sudut ruang tahanan. Tubuhnya terlihat semakin kurus tidak terurus. Matanya memerah karena selalu menangis menyesali kesalahan yang dia perbuat. Dia menyesal atas semua kesalahannya, dia berharap dan terus berharap, agar putrinya bisa memaafkannya dan mau melihatnya walau hanya sekejab saja.


"Ada orang yang ingin menemuimu. Ayo keluarlah!" ucap seorang penjaga membuka pintu tahanan Ayah.


Mendengar ucapan penjaga itu, Ayah langsung mengerutkan keningnya binggung. Dia bepikir siapa orang yang telah datang mengunjunginya. Mungkin itu menantunya, karena Axelle memang sering mengunjunginya dan memastikan dia mendapatkan keringanan hukuman. Tanpa berpikir panjang, Ayah langsung keluar dari sel lalu berjalan menuju ruang tunggu di ikuti oleh penjaga di belakangnya.


Melihat siapa yang mengunjunginya, Ayah langsung meneteskan air matanya. Dia menatap putrinya yang dia rindukan selama ini dengan tatapan penuh kerinduan. Dia melangkahkan kakinya dengan begitu cepat lalu duduk memeluk kaki Alissa.


"Maafkan ayah, Nak! maafkan ayah. Ayah telah di butakan oleh nafsu dunia, sehingga ayah tidak pernah memikirkan perasaanmu. Maafkan ayah," ucap Ayah menangis kesegukan sambil memeluk kaki putrinya.


Dengan cepat Alissa membantu Ayah untuk berdiri. Dia mengusap air mata yang membasahi wajah keriput sang ayah. Dia menatap tubuh Ayah yang terlihat sangat kurus tidak terurus, dia tau jika Ayah sangat menderita berada di dalam penjara ini. Namun, kesalahan Ayah cukup patal, jadi dia pantas untuk mendapatkan hukuman atas semua kesalahannya.


"Alissa sudah memaafkan Ayah! lagi pula, bagaimanapun Alissa membenci Ayah, ibu tidak akan pernah bisa kembali. Alissa akan mencoba melupakannya, walaupun itu sangat berar," ucap Alissa memeluk Ayah dan menenggelamkan wajahnya di dada bidang sang Ayah.


Dia tau kesalahan Ayah sangatlah besar. Ayah yang seharusnya menjadi pelindung untuk anak dan istrinya, malah membunuh istrinya sendiri, dan menyiksa putrinya tanpa belas kasihan. Namun, walaupun begitu, Alissa tetap sadar jika pria itu adalah Ayah kandungnya. Dan sebagian besar darah yang mengalir di dalam tubuhnya adalah darah pria itu. Dia berharap setelah mendapatkan hukumannya, Ayah bisa berubah dan tidak mengulangi kesalahannya lagi. Sebagai seorang putri, Alissa hanya bisa memaafkan semua kesalahan Ayah. Walaupun luka itu telah mengabdi di dalam ingatannya.


"Ayah belum makan 'kan? kebetulan Alissa sudah masak makanan kesukaan Ayah. Ayah makan ya," ucap Alissa mendudukkan Ayah dan menyajikan makanan yang dia bawa dari rumah di atas meja.


Ayah hanya diam sambil menatap makanan yang begitu banyak yang tertata rapi di depannya. Selama di penjara, dia memang tidak napsu makan, karena dia terus memikirkan putrinya itu. Namun, tiba-tiba tatapan Ayah teralihkan oleh bayi mungil yang sangat tampan yang sedang tertidur lelap di dalam gendongan Axelle.


Melihat bayi itu, Ayah langsung bisa menebak jika bayi mungil itu adalah cucunya. Karena Axelle pernah mengatakan jika Alissa sedang mengandung. Bahkan Axelle juga selalu menujukkan foto USG perkembangan janin Alissa kepada Ayah.


"Ayah mau mengendongnya?" tanya Axelle melihat tatapan Ayah kepada putranya.


Dengan cepat Ayah menganggukkan kepalanya dan merentangkan tangannya. Dia mengambil Bryan dari gendongan Axelle lalu menciumi wajah gembul cucunya itu sambil menitikkan air matanya. Melihat Bryan, Ayah langsung mengingat wajah Alissa saat bayi dulu.

__ADS_1


"Dia sangat mirip denganmu! bahkan melihatnya Ayah langsung melihat kau saat bayi," ucap Ayah menatap lekat Alissa.


Mendengar ucapan Ayah, Alissa hanya tersenyum kecil. Dia menatap Ayah yang bermain dengan Bryan dengan tatapan penuh kesedihan. Dia langsung mengingat sosok Ayah yang sudah lama tidak dia lihat. Sebelum menikah dengan Tini, Ayah adalah sosok Ayah yang sangat baik. Dia selalu menyempatkan diri untuk bermain dengannya. Bahkan saat Alissa belajar berjalan, Ayahlah yang selalu menuntut tangan munggilnya agar tidak terjatuh.


Setelah puas bermain dengan cucunya, Ayah kembali masuk kedalam tahanan. Alissa menatap Ayah dengan tatapan penuh kesedihan. Ingin sekali dia membawa Ayah pulang dan tinggal bersamanya. Namun, dia sadar jika Ayah juga harus menjalani hukumnya.


"Ayo kita pulang! minggu depan kita akan mengunjungi Ayah lagi," ucap Axelle menurun Alissa untuk keluar.


Mendengar ucapa Axelle, Alissa hanya mengangguk kecil. Dia melangkahkan kakinya sambil terus menatap Ayah. Hingga tanpa sadar air matanya menetes melihat penderitaan Ayah yang harus menekam di dalam penjara dalam jangka waktu yang cukup panjang.


...----------------...


Di malam hari.


Alissa terbangun dari tidurnya ketika mendengar suara tangisan Bryan. Dia langsung tersenyum kecil ketika mencium bau aneh dari popok Bryan. Dengan cepat dia, bangkit dari tidurnya dan mengambil popok baru untuk Bryan. Merasakan ranjang yang bergerak, Axelle juga membuka matanya dan menatap putranya yang sedang terbangun.


"Ia, Sayang!" ucap Alissa tersenyum lalu menganti popok Bryan.


"Sini biar aku saja," ucap Axelle langsung mengambil alih pekerjaan Alissa.


Dengan sangat telaten Axelle menganti popok putranya itu. Walaupun sibuk di bengkel, Axelle selalu menyempatkan waktunya untuk membantu Alissa untuk mengurus Bryan. Bahkan tanpa rasa jijik dia juga sering menganti popok dan juga memandikan putranya itu. Karena Axelle tau, waktu itu tidak akan bisa terulang kembali. Jadi dia tidak mau menyia-nyiakan waktu itu begitu saja.


"Sudah selesai! sekarang putra papa sudah wangi lagi," ucap Axelle mencium wajah gembul putranya.


"Sudah! cuci tangannya dulu. Sini Bryan biar aku kasih minum," ucap Alissa membawa Bryan kedalam gendongannya dan segera menyusuinya.

__ADS_1


Axelle hanya diam sambil menatap lekat putranya yang sedang menyusu dengan rakusnya. Bryan memang sangat kuat menyusu, bahkan Alissa harus di bantu oleh susu pembantu untuk memenuhi nutrisi Bryan. Jadi tidak heran jika tubuh Bryan semakin membulat setiap harinya.


"Sayang! sampai kapan Bryan akan meminum asimu?" tanya Axelle terus menatap putranya itu.


"Kalau menurut anjuran dokter sih sampai dia tahun," ucap Alissa.


"Apa!" ucap Axelle membulatkan matanya terkejut.


"Kenapa?"


"Jadi aku harus merelakan itu untuk Brya selama dua tahun," ucap Axelle menunjukkan wajah memelasnya.


Mendengar ucapan suaminya itu, Alissa langsung mencubit lengan Axelle. Setelah Bryan kembalikan tertidur, Alissa langsung meletakkannya di atas ranjang dengan pelan. Melihat putranya telah tertidur, Axelle menatap bibir mungil Alissa lalu mengecupnya dengan lembut.


"Astaga!" ucap Askara menutup matanya karena tidak segaja melihat pemandangan yang telah merusak mata sucinya.


"Kakak! kenapa tidak ketik pintu dulu?" tanya Axelle menatap kesal kedatangan kakaknya itu yang datang tidak tepat waktu.


"Salah sendiri tidak mencuci pintu! kakak sudah memperingatimu sejak awal," ucap Askara cuek.


"Sudahlah! aku hanya mau mengambil putraku. Kalian teruskan saja," ucap Askara membawa Bryan ke dalam gendongannya.


"Silakan di lanjut! jangan lupa kunci pintu rapat-rapat," ucap Askara setelah keluar dari kamar Axelle.


Mendengar ucapan Askara, Alissa hanya menunduk malu sambil menyembunyikan wajah memerah nya. Sedangkan Axelle langsung menunjukkan tatapan buasnya bersiap untuk menerkam istrinya itu.

__ADS_1


Bersambung......


__ADS_2