Jodohku Brandal Kampus

Jodohku Brandal Kampus
Part 42


__ADS_3

"Mas! mana uang?" ucap Tini ketika melihat Ayah memasuki rumah.


"Suami pulang kerja bukannya di sambut malah langsung minta duit," ucap Ayah geram melihat tingkah istrinya itu.


Padahal dia baru saja mengalami musibah di tengah jalan tadi. Untung saja Axelle datang tepat waktu untuk menolongnya. Jika tidak, dia tidak akan bisa membayangkan bagaimana nasibnya. Namun, sesampainya di rumah dia malah di sambut dengan sembutan yang menjengkelkan dari istrinya itu.


"Kau pergi kerja untuk mencari apa? mencari uang 'kan? jadi apa salahnya jika aku menayangkan uang kepadamu. Jika aku menanyakan soal masakan tadi baru salah," ucap Tini ketus.


Mendengar ucapan Tini, Ayah hanya bisa membuang napasnya kasar. Dia merogoh uang yang ada di tas pinggangnya lalu memberikannya kepada Tini. Bukannya senang, mata Tini malah membulat ketika melihat uang yang dia anggap hanya sedikit itu.


"Ini apa? kerja pagi pulang sampai larut malam seperti ini. Kau malah membawa uang hanya segini. Kau kerja atau ngapain di luar sana, Ha!" ucap Tini sedikit meninggikan suaranya. Tidak lupa dengan matanya yang melotot ingin keluar dari tempatnya.


"Aku hampir saja mati di luar sana hanya untuk menyelamatkan uang ini. Tapi kau malah mengangap uang ini tidak seberapa. Buka matamu Tini, kita ini hanya orang miskin yang hidup serba kekurangan," bentak Ayah sudah tidak tahan lagi dengan sikap istrinya itu.


"Kita hidup seperti ini karena dirimu. Karena kau yang tidak becus untuk bekerja. Dasar kau memang benalu dalam kehidupanku. Aku menyesal menikah denganmu,"


"Apa aku bilang? kau menyesal menikah denganku. Setelah semua yang ku korbankan untukmu, kau bilang kau menyesal menikah denganku,"

__ADS_1


"Ia! aku tidak pernah memintamu untuk menyakiti istrimu itu. Kau saja yang ingin menyingkirkannya agar bisa menikah denganku,"


"Kau! kau memamg wanita yang tidak punya hati," ucap Ayah menatap gram Tini.


"Ma! mama. Tolong aku. Aku harus bersembunyi," ucap Niko tiba-tiba datang dengan keringat yang bercucuran.


Terlihat wajahnya yang sangat pucat dan juga panik. Di ikuti dengan keringat yang menbasahi tubuhnya dan juga napasnya yang ngos-ngosan. Dari sana Ayah dan Tini dapat menebak jika Niko sedang di kejar seseorang. Tidak mau putranya kenapa-napa, Tini langsung menyuruhny untuk bersembunyi.


Tak berselah lama, datang segerombolan preman yang datang mendekati mereka. Melihat para brandal itu, Ayah dan Tini bisa menebak jika mereka sedang mencari Niko. Niko memang selalu membuat ulah, di datangi preman dan rentenir seperti ini sudah hal biasa untuk Niko. Apalagi masalahnya jika bukan uang, ataupun utang piutang Niko yang menumpuk di luar sana.


"Ada apa ini? Kenapa kalian datang ke rumah kami," tanya Tini menatap para preman itu.


"Niko tidak ada! dia belum pulang," ucap Tini berusaha menyembunyikan keberadaan Niko.


"Kau jangan berbohong. Aku tau dia ada di dalam," ucap pria itu lalu menyuruh anggotanya untuk mencari Niko di dalam rumah.


"Jangan! Niko tidak ada di dalam," ucap Tini berusaha mencegah para preman itu.

__ADS_1


"Arghh! mingir kau," ucap para preman itu langsung mendorong kasar tubuh Tini.


Para preman itu langsung mengeledah rumah mereka tanpa ada yang tertinggal sedikitpun. Sehingga akhirnya para preman itu menemukan Niko yang bersembunyi di bawah kasurnya. Melihat itu, para preman itu langsung menyeret tubuh Niko keluar dan melemparkannya tepat di depan bos besar mereka.


"Kau kira kau bisa bersembunyi dariku," ucap pria yang berstatus sebagai bos besar para preman itu.


"Maaf, Bos! aku akan membayar semua uangku secepatnya," ucap Niko bersujud penuh permohonan di kaki pria itu..


"Aku tidak butuh uangku kembali. Yang aku butuhkan gadis itu, bawa di kepadaku secepatnya," ucap pria itu menjambak kasar rambut Niko.


"Ia, Bos! aku akan mencarinya secepatnya. Aku akan membawa dia kepada bos. Jika bos mau, bos bisa menjadikannya sebagai istri ke tujuh bos. Aku yakin mama dan ayah akan setuju," ucap Niko sambil menahan sakit karena jambakan pria itu.


"Ide bagus! aku tunggu sampai besok lusa. Jika kau tidak membawanya ke hadapanku, maka mamamu yang akan menjadi gantinya," ucap pria itu menatap nakal kecantikan Tini.


Walaupun sudah berumur dan mempunyai anak yang sudah remaja. Namun, Tini terlihat masih sangat cantik. Apalagi dengan tubuh putihnya yang di baluti pakaian seksi yang ketat. Membuat bos preman itu ingin mencicipi tubuh indahnya.


"Enak saja! Lebih baik kau jadikan putri kami saja sebagai istri ke tujuhmu. Kami akan membawanya ke hadapanku secepatnya. Tapi kami ingin mahar yang tinggi," ucap Tini tidak mau rugi sedikitpun.

__ADS_1


"Baiklah! lima ratus juta untuk maharnya. Tapi! jika kau gagal membawanya sampai besok lusa. Maka bersiaplah untuk menemui ajalmu," ucap pria itu mencolek dagu Tini lalu pergi membawa para anak buahnya.


Bersambung......


__ADS_2