Jodohku Brandal Kampus

Jodohku Brandal Kampus
Part 70


__ADS_3

Tini dan Niko tertawa puas melihat keadaan Ayah yang sedang terluka parah. Dia menatap keadaan Ayah tanpa ada belas kasihan sedikitpun. Melihat kelakuan istri dan anak sambungnya yang tidak punya hati, Ayah hanya bisa diam menunduk sambil menahan rasa sakit di sekujur tubuhnya. Dia berharap akan ada mukjizat yang akan datang menolongnya.


Namun, untuk saat ini dia tidak menghawatirkan dirinya. Bahkan dia sudah ikhlas jika dia harus mati di tangan para pecundang itu. Dia hanya menghawatirkan keadaan putrinya, karena dia tau bagaimana sifat Niko dan juga Tini. Walaupun dia mati pada saat ini, dia tidak akan bisa pergi dengan tenang sebelum kedua manusia iblis itu mendapatkan hukuman atas perbuatan mereka selama ini.


Dia yakin Alissa tidak akan bisa hidup dengan tenang sebelum Niko dan Tini mendapatkan hukumannya. Dia terus saja berdoa agar Axelle bisa segera memberikan hukuman yang pantas untuk Tini dan para brandal itu, agar Alissa bisa hidup dengan tenang tanpa gangguan dari manusia serakah itu.


"Apa kau yakin kita akan mendapatkan gadis cantik itu?" tanya ketua geng motor Drank kepada Niko.


"Tentu saja! bukan hanya gadis itu, aku yakin musuhmu itu juga akan datang dengan sendirinya untuk menolong pria tua ini. Kau siapkan saja seluruh anak buahmu untuk melawannya nantinya," ucap Niko tersenyum sinis.


"Tentu saja! aku sudah mengumpulkan seluruh anak buahku dan juga anak buah papa untuk menghajar pria bajingan itu. Lagi pula dia hanya berempat dengan sahabatnya itu. Aku yakin orang orang tuanya tidak akan perduli dengannya. Jadi kita akan menyingkirkannya dengan sangat mudah," ucap ketua geng motor itu yang memang mengetahui bagaimana hubungan Axelle dengan keluarganya.


Akan tetapi, dia hanya mengetahui keluarga Axelle yang dulu. Dia tidak tau bagaimana keluarga Axelle yang sekarang. Nando dan Askara tidak akan membiarkan Axelle bergerak sendiri. Mereka akan selalu berada di belakang Axelle dan membantu Axelle untuk menyingkirkan semua orang yang telah berani mengusik kehidupannyanya.


...----------------...


"Alissa kenapa?" tanya Mirna panik ketika melihat Alissa yang sedang berada di dalam gendongan Axelle.


"Alissa tidak apa-apa!" ucap Axelle singkat lalu kembali melangkahkan kakinya.

__ADS_1


Jujur saja dia masih merasa sangat canggung berdekatan ataupun bersikap akrab kepada Mirna. Karena dia sudah terbiasa hidup tanpa sosok ibu kandungnya itu. Apalagi mengingat setiap ucapan yang keluar dari mulut Mirna, sehingga membuat Axelle semakin merasa tidak nyaman ketikan berada di dekatnya.


"Nyonya Alissa kenapa, Den?" tanya Bik Ijah melihat keadaan Alissa yang sangat kacau.


"Tidak apa-apa, Bik. Aku mau pergi, tolong bibi jaga Alissa ya," ucap Axelle menatap Bik Ijah dengan tatapan penuh permohonan.


"Baik, Den! Lebih baik Aden bawa saja Nyonya Alissa kedalam kamar," ucap Bik Ijah.


Axelle langsung mengangguk lalu melangkahkan kakinya menuju kamarnya. Melihat Axelle dan Bik Ijah yang berjalan menuju kamar Axelle, Mirna langsung melangkahkan kakinya mengikuti mereka. Mirna tidak mau membuang kesempatan untuk membuktikan jika dirinya telah berubah, dan ingin memperbaiki keluarga mereka agar bisa harmonis kembali.


Sesampainya di kamar, Axelle langsung membaringkan tubuh Alissa di atas ranjang. Dia membuka sepatu Alissa dan menyelimutinya dengan lembut. Axelle menatap lekat wajah Alissa yang terus basah karena air matanya yang terus mengalir. Sebagai seorang anak, Axelle tau apa yang di rasakan Alissa saat ini.


"Bagaimana keadaan Alissa?" tanya Mika menatap Alissa yang terus menangis di atas ranjangnya.


"Kau temani Alissa ya. Aku akan menyelesaikan masalah ini sampai ke akar-akarnya," ucap Axelle mengepalkan tangannya geram.


Mendengar ucapan Axelle, Mirna langsung bisa menebak jika Alissa sedang mengalami masalah besar. Apalagi mengingat masa lalu Alissa yang sangat menderita dan di kelilingi orang jahat. Sebagai seorang ibu, Mirna dapat merasakan jika putranya akan berada dalam bahaya besar.


"Kau mau ke mana?" tanya Mirna mengengam erat tangan Axelle sambil menatap Axelle dengan penuh kekhawatiran.

__ADS_1


Deg....


Jantung Axelle langsung berdetak kencang ketika tangan Mirna mengengam tangannya. Bahkan melihat tatapan khawatiran yang terpancar di mata Mirna, membuat darah Axelle langsung berdesis dengan kencang. Dia tidak tau kapan terakhir kalinya dia bersentuhan fisik seperti ini dengan Mirna. Bahkan baru kali ini dia melihat tatapan yang penuh khawatiran yang terpancar dari mata Mirna kepadanya.


"Mama tenang saja. Axelle akan baik-baik saja," ucap Axelle tersenyum dengan mata yang berkaca-kaca.


"Kau janji ya," ucap Mirna mengengam kedua tangan Axelle sambil menatapnya dengan erat.


"Axelle janji," ucap Axelle tersenyum lalu mencium kening Mirna.


Merasakan benda kenyal yang begitu hangat menempel di keningnya, Mirna langsung meneteskan air matanya penuh kebahagiaan. Dia langsung memeluk Axelle dengan erat dan menenggelamkan wajahnya di dada bidang Axelle. Dia tidak menyangka jika putra kecilnya dulu kini telah tumbuh menjadi pria yang sangat berani, walaupun dia tumbuh besar tanpa belaian hangat dan kasih sayang darinya. Namun, Mirna berjanji akan memperbaiki semua kesalahannya dan membuka lembaran yang baru bersama keluarga besarnya.


"Axelle! ayo kita pergi. Pran dan Dirga telah mengumpulkan anak buah kita," ucap Birma mendekati Axelle.


"Kalian bawalah seluruh pengawal kita. Mama akan menghubungi Askara untuk mengirim bantuan untuk kalian," ucap Mirna tersenyum.


"Baik," ucap Axelle tersenyum lalu melangkahkan kakinya keluar dari kamarnya bersama Birma.


Bersambung.....

__ADS_1


__ADS_2