
Saat terbangun dari tidurnya, Axelle tidak melihat keberadaan Alissa di sampingnya. Dia mencoba bangkit dari tidurnya lalu mencari keberadaan istrinya itu. Dia melihat pintu kamar mandi yang terbuka sedikit, alangkah terkejutnya dia melihat istrinya muntah. Dengan cepat Axelle mengambil minyak kayu putih dan mengosokkannya di punggung leher Alissa dengan lembut.
"Kau kenapa, Sayang? kenapa kau tidak membangunkanku?" tanya Axelle mentapa iba keadaan istrinya itu.
Saat menjelang pagi seperti ini, Alissa memang selalu merasa mual. Bahkan dia juga selalu terbangun di malam hari karena perutnya yang terus terasa tidak nyaman. Namun, setelah mata hari terbit dia baru bisa tidur dengan nyenyak tanpa ada gangguan rasa mual lagi.
"Kau sudah lelah mengurus bengkel dan juga kuliahmu. Jadi aku tidak mungkin merepotkanmu lagi dengan mengurusku," ucap Alissa memijit keningnya pelan.
"Sayang! aku tidak perduli dengan rasa lelahku. Karena kau adalah obat lelahku, kau dan bayi dalam kandunganmu adalah prioritasku. Jadi jangan pernah sungkan untuk meminta apapun dariku," ucap Axelle mengusap lembut rambut panjang Alissa.
"Sudah! ayo kita istirahat saja," ucap Axelle membawa Alissa ke dalam gendongannya.
Alissa melingkarkan tangannya di leher suaminya itu. Tubuhnya terasa lemas sehingga dia hanya diam menerima perlakuan manis dari suaminya. Axelle membaringkan tubuh istrinya dengan lembut di atas kasur mereka. Dia menatap wajah pucat Alissa dengan tatapan penuh rasa iba. Andai dia tau istrinya akan mengalami ini saat mengandung, dia pasti tidak akan membuat istrinya itu sampai hamil. Baginya melihat istrinya seperti ini, sama saja melihat dirinya hancur.
"Maafkan aku ya, Sayang!" ucap Axelle lembut sambil menciumi wajah Alissa.
"Maaf untuk apa?" tanya Alissa mengerutkan keningnya binggung.
"Maaf! karena aku kau jadi seperti ini,"
Mendengar ucapan Axelle, Alissa langsung tersenyum kecil. Melihat kekhawatiran yang terpancar di wajah suaminya, dia menjadi tau seberapa besar namanya teesimpandi dalam hari suaminya itu. Tidak bosan-bosan dia mengucapkan syukur kepada sang Pencipta kerena telah memberikan sosok pria yang sangat mencintainya seperti Axelle.
"Ini adalah kewajibanku sebagai seorang istri. Jadi kau tidak perlu merasa bersalah seperti itu. Justru dengan begini aku bisa bersyukur, aku bersyukur karena bisa mendapatkan hakku sebagai seorang wanita," ucap Alissa tersenyum.
__ADS_1
Mendengar ucapan istrinya itu, Axelle hanya tersenyum lalu mencium kening Alissa dengan lembut. Dia menyelimuti tubuh Alissa lalu naik ke atas ranjang dan membaringkan tubuhnya di samping Alissa. Dia membawa tubuh istrinya itu ke dalam pelukannya lalu memejamkan matanya kembali. Karena merasa lelah, akhirnya Axelle kembali tertidur sambil memeluk tubuh mungil istrinya.
Alissa menatap wajah tampan suaminya itu dengan lekat. Tidak pernah terbayang di pikirannya untuk mendapat suami seperti Axelle. Suami yang selalu memperhatikan dirinya, yang selalu berusaha membuatnya bahagia, yang pasti suami yang sangat mencintainya dan menjadikannya ratu satu-satunya di dalam kehidupannya.
"Aku tidak tau dosa apa yang pernah aku lakukan, sehingga aku dulu pernah hidup di lembah kehidupan yang sangat menyakitkan. Tapi, dari semua ujian yang aku hadapi, aku menjadi sadar. Aku sadar kau sedang menilaiku apakah aku pantas mendapatkan kebahagiaan yang kau berikan kepadaku saat ini. Terima kasih karena kau telah memberiku hati yang sangat kuat. Sehingga aku bisa menjalani setiap ujian yang kau berikan dengan sangat baik. Terima kasih juga atas hadiah yang kau berikan, hadiah yang tidak pernah aku bayangkan sebelumnya," batin Alissa lalu menenggelamkan wajahnya di dada bidang suaminya.
Keesokan paginya.
Axelle bangun dari tidurnya, dia menatap Alissa yang masih tertidur dengan lelap di sampinya. Dia mencium kening istrinya dengan lembut lalu turun dari ranjangnya dengan hati-hati. Mengingat jika istrinya itu tidak bisa tidur dengan lelap semalam. Dia memilih untuk membiarkannya untuk tidur lebih lama lagi dan berharap agar mual pada istrinya itu bisa cepat menghilang.
Axelle berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Setelah itu, dia mengenakan pakaiannya lalu melangkah kakinya ke dapur untuk membuat sarapan untuk istrinya itu. Kebetulan hari ini hari minggu, jadi dia bisa merawat istrinya satu hari penuh. Karena Alissa tidak napsu makan, Axelle hanya membuat roti bakar dan juga susu ibu hamil untuk Alissa.
"Ehem! yang sebentar lagi jadi papa, ternyata sangat telaten ya," ucap Askara menatap adiknya itu yang sedang sibuk berkutik di dapur.
"Tentu dong! kakak sih lebih betah sendiri. Makanya buruan nikah, nanti keburu anak Axelle udah besar," ucap Axelle tersenyum.
Sebenarnya bukan belum siap, lebih tepatnya dia masih trauma dengan pernikahan kedua orang tuanya. Askara takut salah memilih pasangan, sehingga akan berakibat fatal pada keturunannya nantinya. Axelle yang mengetahui itu, hanya bisa menatap kakaknya itu dengan tatapan sendu.
Memang dulu Askara pernah membuka hatinya untuk Indah. Namun, wanita itu malah menghianatinya sehingga membuat traumanya semakin membesar. Dia semakin tertutup terhadap wanita, dan masih enggan untuk membuka hatinya kembali.
"Axelle doakan semoga kakak bisa menemukan wanita yang tepat. Aku yakin, kakak akan mendapatkan wanita yang sangat istimewa. Karena kakak juga sangat spesial," ucap Axelle tersenyum.
"Tapi sayang, kakak bukan nasi goreng spesial," ucap Askara terkekeh kecil.
__ADS_1
"Ha... ha.. Jika kakak nasi goreng spesial. Pasti kakak udah habis Axelle makan sejak dulu," ucap Axelle terkekeh kecil.
Mendengar ucapan Axelle, Askara hanya tersenyum. Dia menatap adiknya itu yang sedang menata roti bakar dan juga susu di atas nampam untuk di bawa ke kamar. Melihat perhatian adiknya kepada Alissa, Askara hanya bisa menatap kagum kedewasaan adiknya itu.
"Maaf! Axelle ke atas dulu ya. Kalau kakak mau, itu udah kakak sediakan untuk kakak," ucap Axelle menunjukkan roti bakar yang telah dia siapkan di atas meja makan.
"Terima kasih ya. Kau memang adikku yang paling pengertian," ucap Askara tersenyum.
Axelle langsung melangkahkan kakinya menuju kamarnya. Dia menatap Alissa yang masih tertidur, sejujurnya Axelle tidak tega membangunkan istrinya itu. Namun, mengingat jika Alissa juga butuh asupan nutrisi, Axelle mau tidak mau terpaksa membangunkannya juga.
Dia meletakkan mampan yang dia bawa di atas meja, lalu duduk di tepi ranjang sambil mengusap lembut puncak kepala istrinya itu. Dia mencium wajah Alissa yang masih tertidur lelap lalu berusaha untuk membangunkannya.
"Sayang! bangun yuk. Kau harus sarapan dan minum vitamin," ucap Axelle sambil membelai lembut wajah Alissa.
"Em!" ucap Alissa membuka matanya dan menatap wajah tampan suaminya yang menatapnya dengan lekat.
"Ayo bangun! kau harus sarapan. Semalam kau terus muntah. Pasti sekarang perutmu kosong," ucap Axelle membantu Alissa untuk duduk dan menyandarkan tubuh istrinya itu di kepala ranjang.
"Ayo minum air putih dulu," ucap Axelle memberikan segelas air hangat untuk Alissa.
"Terima kasih, Sayang!" ucap Alissa tersenyum sambil memberikan gelas kosong itu kepada Alissa.
"Sekarang kau makan ya. Aku udah buatkan roti bakar untukmu. Roti bakal sepesial. Karena aku membuatnya dengan cinta," ucap Axelle tersenyum sambil menyuapi Alissa dengan lembut.
__ADS_1
Alissa hanya tersenyum sambil menerima setiap suapan yang di berikan Axelle dengan lahap. Setelah selesai menyuapi Alissa, Axelle juga memberi obat dan juga vitamin yang di berikan dokter untuk Alissa. Melihat ketelatenan suaminya itu, Alissa tidak henti-hentinya mengucap syukur karena mendapatkan suami seperti Axelle. Pria yang sangat lembut dan juga sangat mencintainya.
Bersambung.....