
"Pagi, Kak!" ucap Mika langsung menyambut kedatangan Birma.
Mika sengaja berangkat lebih pagi ke kampus dan menunggu Bisma di parkiran. Gadis bawel itu tidak ada lelahnya untuk mendapatkan hati Bisma. Walaupun Birma terus mengabaikannya, tetapi Mika tidak mau menyerah sebelum dia mendapatkan apa yang dia inginkan.
Melihat Mika yang sudah menunggunya pagi-pagi seperti ini, Birma hanya bisa membuang napasnya pelan. Dia memilih untuk turun dari motornya lalu melangkahkan kakinya pura-pura tidak melihat Mika. Tentu saja Mika tidak terima, di sudah lelah menunggu tetapi malah di cuekin bebegitu saja.
"Eh! aku di tingalin. Untuk saja ganteng, kalau tidak," oceh Mika kesal lalu melangkahkan kakinya mengejar Birma.
"Stop!" ucap Mika merentangkan kedua tangannya menghalangi jalan Bisma.
"Ada apa lagi, Sih?" tanya Birma menatap kesal gadis tengil di depannya.
"Aku sudah lelah menunggu kakak. Tapi kakak malah ninggalin aku begitu saja, memang kakak tidak punya hati," ucap Mika memanyunkan bibirnya kesal.
"Mamangnya aku menyuruhmu untuk menungguku?" tanya Birma.
"Tidak!" ucap Mika mengelengkan kepalanya.
"Nah! itu tau," ucap Birma santai lalu kembali melangkahkan kaki.
Mendengar ucapan Birma, Mika langsung memasang wajah sedihnya. Dia menatap Birma dengan mata berkaca-kaca, sambil memainkan jarinya. Melihat Mika yang bersedih, Birma langsung merasa tidak tega. Bisma mengusap wajahnya kasal sambil menatap Mika dengan begitu gemasnya.
"Baiklah! ayo," ucap Birma menggandeng tangan Mika.
"Wah! kakak memegang tanganku?" tanya Mika membulatkan matanya penuh kebahagiaan.
"Kenapa? tidak boleh?" tanya Birma ketus.
"Boleh-beleh! kakak bisa memegangnya sesuka hati kakak," ucap Mika tersenyum bahagia.
"Tapi, Kak!" ucap Mika kembali memasang wajah memelasnya.
"Tapi apa?" tanya Birma mengerutkan keningnya bingung.
__ADS_1
"Aku lapar! tadi belum sempat sarapan. Kita sarapan di kantin dulu ya. Aku juga belum menyelesaikan tugasku," ucap Mika terkekeh kecil.
"Terserahmu saja," ucap Birma ketus lalu melangkahkan kakinya menuju kantin.
Mendengar persetujuan Birma, Mika langsung tersenyum bahagia. Mereka berjalan menuju kantin secara beriringan. Birma hanya diam sambil terus mengengam tangan Mika, Sedangkan Mika terus saja mengoceh menceritakan hal yang tidak penting.
Mendengar ocehan Mika, Birma hanya bisa diam dan menjadi pendengar setia radio rusak itu, walaupun sebenarnya cerita Mika hanya numpang lewat saja sih. Kebetulan keadaan kantin masih sangat sepi, karena mereka memang datang masih sangat pagi. Birma memilih bangku di pojok dan mendudukkan Mika di sana.
"Kau tunggu di sini! biar aku pesan makanan terlebih dulu," ucap Birma mendudukkan Mika di kursi.
"Siap kakak sayang," ucap Mika terkekeh kecil.
"Kau bilang apa?" tanya Birma kembali menatap Mika.
"Tidak ada!" ucap Mika nyengir tanpa dosa.
"Dasar cewek aneh," gumam Birma lalu melangkahkan kakinya menjauhi Mika.
"Aneh karena ketampananmu," gumam Mika terkekeh kecil sambil menatal kepergian Birma.
"Kau sedang apa?" tanya Birma melihat Mika sedang sibuk dengan leptop dan juga buku di depannya.
"Ini, aku ada tugas yang belum selesai. Malah dosennya, si dosen yang paling menyebalkan sekampus ini," oceh Mika sambil mengotak atik laptopnya.
"Ini makananmu! kau makanlah dulu," ucap Birma memberikan semangkuk soto ayam lengkap dengan minumannya kepada Mika.
"Terima kasih, Kak!" ucap Mika tersenyum sambil menerima mangkuk soto ayam itu.
"Tapi aku makan sambil mengerjakan tugas ya," ucap Mika meminta izin.
"Terserahmu saja," ucap Birma santai lalu menyantap makanannya.
Saat menyantap makanannya, dia melirik Mika yang sepertinya sedang kesulitan mengerjakan tugasnya. Melihat itu, Bisma berlahan pindah ke kursi yang ada di samping Mika, dia mantap layar leptop Mika dan mencoba memeriksa tugas gadis di sampingnya.
__ADS_1
Birma perlahan mencoba mengajari Mika dengan penuh kesabaran. Dia menjelaskan tentang tugas Mika dengan sangat baik. Melihat itu, Mika langsung mendengarkan setiap penjelasan Bisma. Lalu mengotak atik leptop nya sesuai dengan perintah Birma. Namun, Mika malah memanfaatkan kesempatan itu dengan sangat baik, dia menatap wajah tampan Birma yang terlihat sangat jelas bila berdekatan seperti ini.
"Kau jangan mencuri kesempatan. Lebih baik kau kerjakan saja tugasmu dengan baik," oceh Birma menyadari tatapan Mika.
"Hehe... habisnya kakak sangat tampan. Jadi aku tidak bisa konsentrasi," puji Mika terkekeh kecil.
"Kau juga cantik," puji Birma asal.
"Benarkah?" tanya Mika menatap Birma dengan tidak percaya.
"Tapi jika aku melihatnya saat tutup mata," ucap Birma mengarahkan wajahnya mendekati wajah Mika sambil tutup mata.
Cup.....
Mika malah mencuri kesempatan, dia mencium bibir Birma lalu kembali pokus dengan leptopnya. Melihat keberanian Mika, Birma langsung membuka matanya lalu menatap Mika dengan tatapan penuh rasa tidak percaya.
"Kau harus membayarnya," ucap Birma sambil meminum minumannya dan berusaha mengatur napasnya.
"Dengan apa?" tanya Mika menatap lekat wajah Birma.
Melihat kelakuan Mika, Birma hanya bisa diam sambil menatap wajah cantik Mika. Dia menatap bibir mungil Mika dengan tatapan yang tidak dapat di artikan. Ingin sekali dia melahap bibir manis itu, tetapi dia berusaha mengontrol dirinya. Karena sebejat-bejatnya dia, dia tidak pernah mau menodai anak perempuan orang.
"Tidak jadi," ucap Birma bangkit dari duduknya lalu melangkahkan kakinya meninggalkan Mika.
Mika hanya bisa mengerutkan keningnya binggung sambil menatap kepergian Birma. Namun, baru beberapa langkah, Birma malah menghentikan langkahnya dan berbalik arah. Dia kembali melangkahkan kakinya mendekati Mika sambil menyembunyikan kegugupannya.
"Nanti setelah pulang kampus, aku tunggu kau di parkiran," bisik Birma tepat di telinga Mika, lalu melangkahkan kakinya meninggalkan Mika sambil tersenyum kecil
Mendengar ucapan Birma, Mika langsung membulatkan matanya terkejut. Dia menatap kepergian Birma sambil mencoba mengingat kembali ucapan Birma tadi. Setelah Birma hilang dari pandangannya Mika langsung bersorak ria, sehingga membuatnya menjadi perhatian orang-orang yang ada di kantin itu.
"Upss! sorry. Kalian lanjutkan lagi makannya ya, jangan hiraukan aku," ucap Mika tersenyum kecil ketika melihat pandangan orang sekantin kepadanya.
Mika kembali mengerjakan tugasnya dengan penuh semangat. Senyuman indah terus melingkar di wajahnya mengingat ucapan Birma tadi, bahkan waktu menjadi seperti berjalan sangat lambat untuknya. Jika dia bisa memiliki keahlian memutar waktu, sudah di pastikan dia akan langsung memutar waktu ke jam pulang kampus, Agar dia bisa bertemu dengan Birma secepatnya.
__ADS_1
Bersambung....