Jodohku Brandal Kampus

Jodohku Brandal Kampus
Part 93


__ADS_3

Alissa menatap setiap tamu yang berdatangan dengan senyuman yang mengembang. Dia tidak menyangka jika dia akan melakukan resepsi semewah dan semeriah ini sebelumnya. Sebagai gadis yang terlahir dari kalangan bawah, dia tidak pernah membanyangkan akan menjadi menantu dari keluarga terpandang seperti keluarga Arvinando.


Namun, kita sebagai manusia hanya bisa menjalankan apa yang telah di tetapkan Allah kepada kita. Karena dia telah merencanakan semua yang terbaik kepada setiap hambanya. Begitu juga dengan kehidupan Alissa, dulu dia memang gadis yang sangat menderita.


Hidup di tengah-tengah orang yang selalu menyakitinya dan juga memanfaatkan kebaikannya. Namun, sekarang dia telah menjadi menantu dari keluarga Arvinando. Di ratukan oleh suaminya, dan di sayangi oleh kedua mertua dan juga saudara iparnya.


Walaupun pertama menikah mereka harus melewati cobaan yang bertubi-tubi. Namun, karena kekuatan cinta dan juga keyakinan mereka, akhirnya mereka dapat melewati semua cobaan itu dengan mudah. Sehingga akhirnya kini mereka mendapatkan hadiah atas semua cobaan yang datang menghampiri mereka.


"Sayang! aku tidak pernah membayangkan semua ini. Mama dan papa telah berdamai, dan membuka lembaran baru dalam rumah tangga mereka. Sedangkan aku memiliki wanita secantik dan juga sesabar dirimu. Bahkan sebentar lagi akan hadir baby junior di tengah-tengah kebahagiaan kita," ucap Axelle tersenyum sambil mengelus perut Alissa.


"Ini semua adalah buah dari kesabaran kita, Sayang. Akhirnya kita mendapatkan hadiah yang tidak pernah kita bayangkan selama ini," ucap Alissa tersenyum sambil menatap lekat wajah tampan suaminya itu.


"Kenapa kau melihatku seperti itu? apakah aku suamimu ini sangat tampan?" tanya Axelle tersenyum mencoba mengoda suaminya itu.


"Peda amat!" ucap Alissa terkekeh kecil.


"Aku tidak pede. Memang aku sangat tampan. Jika aku tidak tampan, mana mungkin aku mendapatkan istri secantik dirimu," ucap Axelle tersenyum sambil mengecup wajah Alissa dengan lembut.


"Ehem! nanti di kamar. Di sini masih banyak jomblo yang merana melihat kelakuan kalian," ucap Askara menatap kesal kelakuan adiknya itu yang main nyosor saja.


"Salah satunya kakak!" ucap Axelle terkekeh kecil sambil mengoda Askara.


"Kakak tidak jomblo. Hanya saja belum bertemu dengan gadis yang tepat," ucap Askara dengan gaya coolnya.


"Itu mah sama saja," ucap Dirga terkekeh kecil.

__ADS_1


"Dasar bocah! kau ngapain di sini? sana gabung dengan tamu yang lain," ucap Askara menatap kesal Dirga.


"Kakak juga ngapain di sini? Lihat, paman dan tante sedang sibuk menyambut tamu. Sedangkan kakak duduk santai di sini. Apa kakak mau jadi obat nyamuk untuk dua sejoli itu?" tanya Dirga sambil melirik Axelle dan Askara yang sedang bermesraan di atas pelaminan.


"Sedang merenungi nasib. Mana tau nanti ada orang tua yang merasa kasihan. Lalu dia memperkenalkan anak gadisnya," ucap Askara memelas sambil memperhatikan satu persatu tamu undangan.


"Ha... ha... paling nanti yang datang mbak kunti penjaga gedung ini. Dia memang suka dengan pemuda tampan, yang sedang merenungi nasib seperti kakak," ucap Dirga terkekeh kecil.


Mendengar ucapan Dirga, Askara langsung merasakan bulu kuduknya yang merinding. Dia menatap gedung itu sambil mengidik ngeri. Masa ia, gedung semewah dan semegah itu ada penunggunya. Jika penunggunya mbak kunti yang cantik jelita itu mah tidak masalah, jika sebaliknya.


"Kau ini! jangan bicara yang macam-macam," ucap Askara menatap kesal Dirga.


"Kakak percaya?" tanya Dirga terkekeh kecil melihat ekspresi Askara yang sedang ketakutan.


"Tidak! aku hanya bercanda," ucap Dirga terkekeh kecil lalu pergi meninggalkan Askara.


"Dasar adik lucknut!" teriak Askara berlari mengejar Dirga.


Brukkk.....


Karena terlalu fokus mengejar Dirga, Askara sampai tidak sengaja menabrak seorang pelayan sampai terjatuh bersamanya. Bahkan mampan yang berisi makanan ditangan pelayan itu jatuh berserakan di lantai. Bukannya langsung bangkit, Askara malah terus menatap pelayan wanita yang berada di bawahnya. Melihat tatapan Askara kepada wanita itu, Dirga langsung memukul keningnya pelan.


"Sudah saling menatapnya. Lebih baik kakak bereskan semua kekacauan ini," ucap Dirga menarik kerah jas Askara dari belakang.


"Aw! lepasin," ucap Askara bangkit sambil menepis tangan Dirga.

__ADS_1


"Maafkan saya, Tuan! saya tidak memperhatikan jalan," ucap Pelayan itu menunduk ketakutan.


"Tidak apa-apa! saya yang salah. Karena saya berlarian tanpa memperhatikan jalan," ucap Askara sambil terus menatap gadis itu.


"Sekali lagi maafkan saya, Tuan. Maaf, saya harus kebelakang dulu," ucap pelayan itu menunduk lalu pergi meninggalkan Askara dengan tergesa-gesa.


"Tunggu!" ucap Askara menatap kepergian wanita itu.


Di saat Askara ingin menyusulnya, gadis itu malah menghilang di tengah-tengah keramaian. Sehingga Askara kehilangan jejak. Padahal Askara belum berkenalan dengan gadis yang telah mampu menghipnotisnya itu.


"Sial! padahal aku ingin bertanya siapa namanya," gumam Askara mengacak-acak rambutnya frustasi.


Mendengar gumaman Askara, Dirga langsung menatap pria itu dengan tatapan penuh kebingungan. Dia tidak menyangka pria setampan dan sesukses Askara bisa frustasi itu hanya karena belum sempat berkenalan dengan pelayan itu.


"Padangan pertama, awal kita berjumpa," Dirga langsung bernyanyi mengejek Askara.


"Sialan! ini semua karena kau," ucap Askara menatap kesal Dirga.


"Kenapa aku? kakak saja yang tidak beruntung," ucap Dirga tidak Terima.


"Sini kau!"


"Lari... "


Bersambung.......

__ADS_1


__ADS_2