
Setelah selesai meluapkan semua kesedihannya. Alissa berlahan menghapus air matanya, lalu menatap suaminya itu dengan lekat. Axelle hanya bisa diam sambil menghapus air mata istrinya itu. Dia menatap lekat wajah istrinya dengan tatapan penuh kasihan. Dia tidak menyangka jika istrinya itu telah melewati begitu banyak cobaan yang sangat menyakitkan.
"Apa kau tau ibu meninggal karena apa?" tanya Axelle menatap lekat wajah Alissa.
"Waktu itu, aku sedang demam. Ibu merawatku dengan begitu baik. Dia sangat meyayangiku lebih dari dia menyayangi dirinya sendiri. Karena aku sakit, aku tidak nafsu makan. Ibu berniat memasak sop untukku agar aku bisa makan dengan enak. Tapi saat itu bahan masakan telah habis. Dia berpamitan kepada Ayah dan menyuruh Ayah untuk menjagaku," ucap Alissa menunduk sambil kembali menitikkan air matanya.
Mengingat kejadian itu memang sangat menyakitkan untuknya. Andai saja dia bisa memutar waktu kembali, pasti dia akan melarang ibunya untuk pergi ke pasar. Dia tidak masalah makan apa adanya, asalkan ibunya bisa terus berada di sampingnya.
"Jika Ayah menjagamu, lalu ibu pergi dengan siapa?" tanya Axelle menatap Alissa binggung.
"Dengan Mama Tini," ucap Alissa terus menunduk.
"Mama Tini?" tanya Axelle binggung.
"Ia! Mama Tini adalah sahabat ibu. Waktu itu dia sedang menjengukku bersama Kak Niko," ucap Alissa.
"Kenapa kakak bertanya seperti itu?" tanya Alissa menatap aneh Axelle.
"Tida ada," ucap Axelle tersenyum.
"Jika Ayah menjaga Alissa, lalu siapa yang menabrak ibu? tapi kata Ayah," gumam Axelle bertanya pada dirinya sendiri.
"Apa Ayah menjagamu sampai ibu pulang?" tanya Axelle kembali bertanya.
"Tidak! setelah ibu dan Mama Tini pergi, Ayah minta izin keluar untuk membeli obat," ucap Alissa.
"Namun, aku merasa binggung. Aku seperti melihat sesuatu yang aneh antara Ayah dan Mama Tini sebelum pergi. Tapi aku tidak bisa mengingatnya. Aku terus berusaha mengingat itu semua, tapi," ucap Alissa memang tidak bisa mengingat kejadian itu, karena usianya juga masih lima tahun. Jadi dia tidak bisa mengingat semuanya dengan jelas.
"Tidak apa-apa. Kau tidak perlu memaksakan diri," ucap Axelle tersenyum sambil mengusap lembut rambut istrinya itu.
"Kotak apa itu?" tanya Alissa melihat kotak perhiasan yang ada di tangan Axelle.
"Ini!" ucap Axelle menarik napasnya pelan.
"Ia!"
"Ini adalah cincin ibu," ucap Axelle menunduk.
__ADS_1
"Cincin ibu? dari mana kakak mendapatkannya?" tanya Alissa menatap tajam suaminya itu.
"Ayah yang memberikannya," ucap Axelle singkat.
Mendengar ucapan Suaminya itu, Alissa langsung menatapnya dengan tatapan penuh tandan tanya. Alissa dapat melihat ada sesuatu hal yang besar yang sedang di sembunyikan suaminya itu. Walaupun dia tidak tau itu apa, tetapi dia dapat merasakan jika hal itu bersangkutan dengan kematian ibunya.
"Apa kakak sedang menyembunyikan sesuatu dariku?" tanya Alissa menatap tajam Axelle.
Mendengar pertanyaan Alissa, Axelle langsung merasa gugup. Dia mengusap wajahnya kasar lalu menantap istrinya itu dengan penuh kebingungan. Dia tidak tau harus berkata apa. Namun, dia juga harus mengatakan semuanya dengan jelas kepada istrinya itu.
"Semalam Ayah mengajakku untuk bertemu. Dia menyuruhku untuk memberikan foto itu dan melingkarkan cincin ini di jari manismu," ucap Axelle membuka kotak perhiasan itu dan memakaikan cincin almarhumah ibu mertuanya itu.
Alissa menatap cincin yang melingkar di jari manisnya dengan tatapan penuh keteduhan. Melihat cincin itu, Alissa langsung merasa jika sosok ibunya ada di sampingnya saat ini. Dia menyentuh cincin itu dengan mata yang Berkaca-kaca.
"Kau senang?" tanya Axelle menatap istrinya itu.
"Ia! aku sangat senang. Aku merasa jika ibu hadir di tengah-tengah kita. Dia bisa melihat kebahagiaan kita saat ini," ucap Alissa tersenyum.
"Aku yakin ibu sudah tenang di sana," ucap Axelle tersenyum.
"Kakak benar! ibu pasti sedang menatap kita dari sana. Dia pasti bahagia melihat kebahagiaan yang telah aku dapatkan saat ini," ucap Alissa menatap langit biru yang sangat cerah.
"Ayah ingin aku menyampaikan maafnya kepadamu. Dia menyesal karena telah meyakiti putrinya hanya demi wanita yang sama sekali tidak mencintainya," ucap Axelle menatap istrinya itu dengan tatapan kosong.
"Aku sudah katakan! aku sudah memaafkan Ayah. Jadi Ayah tidak perlu terus meminta maaf kepadaku. Lagi pula, sebagai seorang putri, aku belum bisa menjadi putri yang baik untuk Ayah. Aku belum bisa membahagiakannya," ucap Alissa menunduk sedih.
"Apa kau sudah membujuk Ayah untuk tinggal bersama kita?" tanya Alissa menatap suaminya itu.
"Sudah! tapi Ayah bilang dia harus menebus semua kesalahannya terlebih dulu. Dia belum bisa hidup dengan tenang sebelum dia mendapatkan hukuman atas kesalahannya," ucap Axelle.
Alissa langsung mengerutkan keningnya binggung menatap suaminya itu.
"Memangnya kesalahan apa yang Ayah lakukan?" tanya Alissa.
Axelle berlahan membuang napasnya kasar. Dia menatap istrinya itu dengan lekat sambil terus berusaha meyakinkan dirinya. Mungkin dia akan mengatakannya secara berlahan kepada Alissa, agar istrinya itu bisa menerima setiap ucapannya dengan baik.
"Banyak! Ayah melakukan kesalahan yang cukup banyak," ucap Axelle.
__ADS_1
"Kesalahan kepadaku?" tanya Alissa.
"Ia! kesalahannya kepadamu dan juga ibu," ucap Axelle mengangguk kecil.
"Aku sudah katakan! aku sudah memaafkan Ayah. Jadi dia tidak perlu merasa bersalah seperti itu. Lagian dia mau mau menerima hukuman seperti apa?" tanya Alissa membuang napasnya kesal.
"Kau yakin akan memaafkan semua kesalah ayah?" tanya Axelle menatap lekat wajah istrinya itu.
"Sudah aku katakan. Aku sudah memaafkan semua kesalahan Ayah. Dari yang kecil sampai yang besar. Aku sudah memaafkan semuanya," ucap Alissa menatap kesal suaminya itu.
"Kau yakin akan memaafkannya? kau berjanji akan memaafkan semua kesalahan Ayah setelah kau mengetahuinya?"
Mendengar pertanyaan Axelle, Alissa langsung menatap suaminya itu dengan tatapan penuh kebingungan. Dia menatap lekat mata Axelle dan mencari sesuatu di dalam sana. Sesuatu yang dia juga tidak tau itu apa.
"Apa kau tau di mana ayah? apa kau tau hukuman apa yang akan dia Terima? " tanya Alissa menatap lekat Axelle.
"Akun tau! tapi aku tidak akan memberitahumu," ucap Axelle dengan tegas.
"Kenapa?" tanya Alissa menatap Axelle dengan tatapan penuh tanda tanya.
"Karena aku tidak mau kau bersedih," ucap Axelle.
"Aku akan lebih bersedih jika kau menyembunyikan ayah dariku. Aku akan sangat membencimu," ucap Alissa dengan kesal.
"Aku akan mengatakannya," ucal Axy membuang napasnya kasar.
"Di mana? tolong bawa aku bertemu dengannya. Aku ingin bicara banyak kepadanya. Aku ingin mengatakan jika aku sudah memaafkannya. Aku sudah melupakan semuanya dan ingin membangun kehidupan baru lagi bersamanya tanpa di baluti bayangan masa lalu" tanya Alissa menatap Axelle dengan tatapan penuh antusias.
"Kau yakin?"
"Aku sangat yakin. Katakan di mana ayah sekarang,"
"Di Kantor polisi!" ucap Axelle menunduk tidak berani menatap wajah istrinya itu.
"Apa! kenapa ayah di kantor polisi? memangnya apa yang telah dia lakukan?" tanya Alissa menghawatirkan keadaan ayah.
"Dia yang telah menabrak ibu sampai tewas,"
__ADS_1
"Apa!"
Bersambung.......