Jodohku Brandal Kampus

Jodohku Brandal Kampus
Part 75


__ADS_3

Sekali tembakan Nando langsung berhasil menjatuhkan senjata yang ada di tangan ketua preman itu. Melihat kedatangan Nando bersama pembunuh bayaran terkuat di kota mereka, semua orang yang ada di ruangan itu langsung terkejut seketika. Tidak lain, ketua preman itu, tangannya masih bergetar setelah mendapatkan serangan dari Nando.


Memang Nando bisa langsung membunuh ketua preman itu dengan sekali tembakan, akan tetapi dia tidak akan membiarkan orang yang berani mengusik keluarganya mati dengan mudah. Akan dia pastikan jika seluruh musuh di hadapannya aka mati dengan cara yang mengenaskan, sehingga semua orang akan berpikir seratus kali lipat untuk mengusik kehidupan keluarganya.


"Kenapa! kau takut?" ucap Nando tersenyum sinis melihat wajah ketua preman itu yang pucat ketakutan.


"Hubungi papa! di mana dia," ucap kepala preman itu melihat bala bantuan yang belum datang juga, padahal satu jam yang lalu papanya sudah mengatakan jika mereka telah mengirim bantuan.


"Kau sedang menunggu orang ini?" tanya Nando tersenyum sinis sambil mengerahkan tangannya sebagai kode.


Melihat kode dari Nando, Askara langsung melangkahkan kakinya mendekati Nando. Dia menyeret seorang pria tua yang berstatus sebagian ayah dari ketua geng motor itu sekaligus bos dari para preman itu.


"Papa!" ucap ketua geng motor itu menatap keadaan papanya yang telah babak belur.


Bahkan luka di tubuhnya jauh lebih parah dari luka yang Ayah dapatkan. Kedua tangannya juga di ikat. Sebenarnya, saat Axelle pulang dalam keadaan babak belur karena ulah para brandal itu, Askara sudah mencari tau tentang kehidupan ketua geng motor itu. Sehingga, dia menemukan sebuah informasi jika ketua geng motor yang selalu mengusik kehidupan Axelle adalah putra dari ketua preman yang selalu menghalangi pembangunan perusahaannya di pinggir kota.


Pada saat mendengar jika Ayah ditahan oleh geng motor itu, Askara langsung menebak jika itu pasti salah satu rencana kepala preman itu. Mereka pasti ingin menghancurkan keluarganya dan merebut tanah yang sudah dia beli dari warga di sekitar lokasi kekuasaan preman itu.


Di sini Askara tidak salah sama sekali, dia membeli tanah secara resmi. Hanya saja kepala preman itu merasa kesal karena Askara tidak mau memberikan bagian kepala preman itu. Dia meminta uang yang cukup besar kepada Askara dengan alasan lokasi itu masih daerah kekuasaannya, tapi bukan berarti miliknya.


Tanah yang di beli Askara adalah bekas pasar yang menjadi sarana pengutipan liar yang di lakukan kepala preman itu kepada para pedagang yang ada di sana. Bukan hanya pengutipan bisa, tetapi sudah di katagorikan sebagai pemerasan. Karena mereka meminta uang yang cukup tinggi kepada para pedagang. Jika mereka tidak memberikannya, maka dagangan mereka akan di hancurkan tanpa sisa. Hal itulah yang membuat pasar itu sepi, sehingga pemilik pasar itu memilih untuk menjualnya kepada Askara.


"Kau mau pria tua ini? maka aku akan memberi satu penawaran untukmu," ucap Askara tersenyum sini.

__ADS_1


"Apa maumu?" tanya kepala preman itu menatap tajam Askara.


"Serahkan Ayah maka kau dan papamu akan selamat," ucap Askara to the point.


Mendengar ucapan Askara, ketua geng motor itu langsung menatap kelompok Askara yang begitu banyak. Bahkan mereka kalah jumlah sangat jauh. Jadi, jika mereka bertarung sudah di pastikan mereka akan kalah dengan mudah. Tentu saja dia tidak mau mari sia-sia di tangan keluarga Arvinando. Dia tidak menyangka sama sekali jika Nando dan Askara akan turun tangan untuk membantu Axelle. Karena yang dia tau jika hubungan Axelle dengan keluarganya itu tidaklah baik.


"Baiklah! serahkan pria tua ini," ucap kepala preman itu mengalah.


"Baik, Tuan!" ucap salah satu anggotanya langsung melepaskan ikatan Ayah.


Melihat Ayah telah berjalan Axelle langsung menarik Ayah dan membawanya untuk berlindung.


Dor....


"Papa!"


Dor...


Dor.....


Para pembunuh bayaran itu langsung menyerang para musuh dengan membabi buta. Mereka tidak akan membiarkan satu orangpun bisa lolos dari maut yang mereka jemput sendiri. Melihat itu, Tini dan Niko langsung panik. Mereka berusaha untuk kabur dan mencari persembunyian. Tentu saja mereka tidak mau mati sia-sia begitu saja.


"Mau kemana kau? ternyata bukan hanya banci, tapi kau juga seorang pengecut," ucap Askara menghentikan jalan Niko.

__ADS_1


"Mingir kau!" teriak Niko langsung menyerang Aksara.


Namun, dengan keahliannya dalam ilmu bela diri Askara bisa menghindari setiap serangan yang di berikan Niko dengan mudah. Memang Niko bukanlah tandingan untuknya, akan tetapi dia harus menyingkirkan semua masalah ini sampai ke akar-alarnya. Agar Axelle dan Alissa bisa hidup dengan tenang bersama keluarga kecilnya.


"Ternyata kau sangat lemah! Rasanya aku akan sangat mudah mengirimmu untuk menemui ajalmu," ucap Askara tersenyum sinis.


"Diam kau! jika kau bisa coba saja," ucap Niko terus menyerang Aksara.


"Tapi aku tidak akan membiarkanmu mati dengan mudah! kau harus mendapatkan hukuman yang pantas untukmu," ucap Askara tersenyum sinis.


Bugh....


dengan satu pukulan, Niko langsung jatuh tersungkur di lantai. Tidak puas dengan pukulan itu, Askara kembali melanyangkan tinjunya. Dia memukul Niko dengan membabi buta, sehingga wajahnya menjadi babak belur, dengan hidung dan sudut bibirnya yang mengeluarkan darah.


"Bawa di ke kantor polisi. Pastikan dia satu sel dengan tahanan yang kejam. Suruh mereka mengajarnya setiap hari, agar dia tau bagaimana yang di rasakan adik iparku selama ini," ucap Askara kepada anak buahnya.


"Baik, Tuan!" ucap mereka langsung mengangguk patuh dan menyeret Niko keluar.


"Jangan biarkan dia mati dengan cepat!" ucap Askara tersenyum sinis.


Dia akan memastikan jika Niko akan merasakan sakit yang jauh berkali-kali lipat dari yang Alissa alami selama ini. Dia akan membalaskan semua rasa sakit yang Alissa rasakan. Dia akan pastikan Niko akan sangat menderita sehingga dia akan memilih untuk mengakhiri hidupnya sendiri.


Bersambung.....

__ADS_1


__ADS_2