Jodohku Brandal Kampus

Jodohku Brandal Kampus
Part 74


__ADS_3

"Apakah Axelle sudah masuk?" tanya Dirga keiada Pran yang ada di sampingnya.


"Aku rasa sudah! lebih baik kita selesaikan mereka secepatnya. Karena kita harus membantu Axelle. Aku yakin para pecundang itu telah menyiapkan rencana licik untuk mengalahkan kita," ucap Pran yang tidak melihat keberadaan ketua geng motor dan juga Niko di sana.


"Kau benar! tapi mereka masih sangat banyak. kita harus melakukan apa?" tanya Dirga binggung.


"Lebih baik kita bersenang-senang saja. Aku rasa ini yang terakhir untuk kita bisa seperti ini, jadi kita jangan buang-buang kesempatan ini," ucap Pran tersenyum kecil dan malah menikmati peperangan itu.


"Kau memang gila!" ucap Dirga menggeleng pelan mendengar ucapan sahabatnya yang satu itu.


"Ha... ha... sudahlah! lebih baik kita singkirkan para bedebah ini secepatnya," ucap Pran terus membantai setiap lawan yang dia lewati.


Pran dengan senangnya mengunakan senjata dan juga pedangnya sekaligus. Bahkan dia juga berteriak penuh semangat karena akhirnya bisa menggila dan membabat habis setiap musuhnya. Kalau masalah yang lainya, mereka akan pikirkan nanti. Karena sudah di pastikan, jika orang tua mereka tau, pasti mereka akan mendapatkan hukuman yang sangat berat. Bahkan bisa-bisa mereka akan di tendang dari kartu keluarga.


"Apa kalian melihat Axelle? aku tidak melihatnya lagi," tanya Dirga sambil berusaha menggerakkan drownnya untuk mencari keberadaan Axelle.


"Aku tidak tau! apa kau tidak lihat kami sedang sibuk membantai para bedebah ini," ucap Pran kesal.


"Aku tau! apa aku tidak boleh bertanya," ucap Dirga ketus sambil mematikan alat pengubungnya kepada Pran.


"Dasar banci! gitu saja merajuk," ucap Pran masih sempat-sempatnya mengejek Dirga di saat keadaan sedang genting seperti ini.


"Di mana kau Axelle," gumam Dirga menghawatirkan keadaan Axelle.


Memang Axelle pergi membawa beberapa anak buahnya, aka terapi Dirga tetap merasa tidak tenang. Dia sangat menghawatirkan keadaan Axelle, apalagi mengingat jika Alissa yang sedang mengandung. Pasti Alissa akan merasa sangat sedih jika sampai terjadi sesuatu kepada Axelle.


"Apa aku masuk saja?" gumam Dirga mengambil senjata api yang ada di sampingnya.


"Tapi tidak! aku harus memantau keadaan markas ini. Aku percaya kepadamu, Xel! kau pasti naik-baik saja," gumam Dirga memilih untuk tetap stay di tepatnya.

__ADS_1


Namun, dia menggerakkan beberapa anggota mereka masuk ke dalam untuk membantu Axelle. Dia tetap fokus menatap layar laptopnya sambil memberi aba-aba kepada setiap anggotanya jika ada serangan tiba-tiba dari para lawan.Memang Axelle segaja menyuruh Dirga untuk tetap stay di mobil untuk mengurangi angka kematian pada anak buah mereka. Jika Dirga bisa melihat serangan tiba-tiba yang di berikan musuh, akan di pastikan para anggotanya akan bisa langsung menghindar setelah mendapat pemberitahuan dari Dirga.


Sedangkan di dalam sana, Axelle terus berusaha untuk mencari keberadaan Ayah. Dia berjalan seorang diri untuk mencari keberadaan Ayah, sedangkan anak buahnya sedang sibuk menghadapi para lawan agar Axelle bisa mencari keberadaan Ayah.


"Ayah! kau di mana?" batin Axelle sambil berusaha menahan sakit pada lengannya yang terkena tembakan.


Darah segar terus mengalir dari lengan Axelle, sehingga membuat tenaga Axelle semakin melemah. Axelle berusaha menyandarkan tubuhnya di dinding dan mengikat luka tembakan itu mengunakan sapu tangannya. Dia terus berusaha menyemangati dirinya, dia tidak boleh lemah. Dia harus pulang dengan selamat dan membawa Ayah bersamanya.


"Sayang! tunggulah. Aku pasti pulang membawa Ayah," batin Axelle terus menyemangati dirinya sendiri.


Bughh.....


Niko secara diam-diam memukul Axelle dari belakang. Untung saja Axelle begitu sigap, sehingga pukulan Niko meleset. Melihat Niko yang ada di depannya, amarah Axelle semakin memuncak. Bayangan Niko yang ingin menculik istrinya di kampus kembali terbayang dengan jelas di ingatannya.


"Dasar pecundang!" ucap Axelle meludah ke sembarangan arah sambil menatap remeh Niko.


Dia yakin dia akan lebih mudah mengalahkan Axelle, karena lengan Axelle yang sedang terluka.


"Kau tidak akan bisa mengalahkanku dengan mudah!" ucal Axelle terenyum sinis sambil menggerakkan pisau belati yang ada di tangannya.


"Kita lihat saja," ucap Niko memanggil anak buahnya lalu memerintahkan mereka untuk menyerang Axelle.


"Ternyata apa yang aku katakan benar apa adanya. Kau itu hanyalah seorang banci yang beraninya kepada wanita," ucal Axelle tersenyum sinis.


"Banyak bacot! habisi dia," ucap Niko menatap geram Axelle.


Mendengar perintah Niko, para anak buahnya langsung menyerang Axelle dengan membabi buta. Walaupun tangannya sedang terluka, Axelle masih sangat aktif menggerakkan kedua tangannya untuk menghabisi setiap lawan yang mendekatinya. Bahkan tatapannya terus menatap ke Niko, dia menatap Niko dengan tatapan penuh amarah. Dia bersumpah akan membalas semua perbuatan Niko kepada istrinya berkali-kali lipat.


"Aku yakin, jika tato biru di paha Alissa dulu adalah karena ulahmu. Kau lihat saja, aku akan kembalikan setiap luka yang kau berikan kepada istriku berkali-kali lipat," batin Axelle menatap geram Niko.

__ADS_1


Melihat amarah yang terpancar dari mata Axelle, Niko langsung menjadi ketakutan sendiri. Apalagi melihat Axelle yang dengan mudah melumpuhkan seluruh anggotanya. Niko langsung membayangkan jika dirinya yang berada di posisi para anak buahnya itu.


"Kau tenang saja! kau tidak akan mati dengan mudah seperti mereka. Kau akan menikmati kesengsaraanmu terlebih dulu, baru aku akan mengirimmu kepada malaikat mautmu," ucap Axelle tersenyum sinis sambil tetap fokus melawan seluruh anggota Niko.


"Mampus! sebaiknya aku kabur," batin Niko langsung mengambil langkah seribu untuk menyelamatkan dirinya.


"Dasar banci! kau kira kau akan bisa mudah lepas dariku? aku tidak akan membiarkan itu," ucap Axelle geram dan mengakhiri psrtarungannya dengan cepat.


Dia menyanyat dan menusuk seluruh anggota Niko tanpa sisa. Hingga akhirnya seluruh lawanya langsung tergeletak tidak berdaya di lantai dan di lumuri darah. Axelle berlahan mengusap darah musuh yang mengenai wajahnya mengunakan lengan bajunya. Dia berhenti sejenak untuk memulihkan tenaganya lalu berlari mengejar Niko.


Dor... dor...


Axelle menembakkan senjatanya untuk menyerang Niko, tetapi tembakannya meleset karena Niko yang berlari secara tida beraturan. Axelle terus berlari mengejar Niko, hingga akhirnya Axelle berhenti di sebuah ruangan yang di kelilingi begitu banyak orang.


Di sana Axelle melihat ketua geng motor itu yang sedang berdiri di belakang Ayah yang sedang bersimpuh di lantai dengan keadaan yang mengenaskan. Axelle melihat tubuh Ayah yang babak belur dengan tangannya yang terikat. Bahkan di beberapa bagian tubunnya terlihat mengeluarkan darah segar, sehingga membuat hati Axelle semakin hancur melihat keadaan Ayah mertuanya itu.


"Bajingan kau!" teriak Axelle mengangkat senjatanya.


Melihat itu para geng motor yang ada di sana langsung mengangkat senjata mereka kepada Axelle. Bukan hanya itu, ketua geng motor itu juga meletakkan senjatanya tepat di kepala Ayah.


"Letakkan senjatamu, atau kau akan melihat kepala mertuamu akan meledak di depanmu," ucap Ketua geng motor itu menatap tajam Axelle.


Mendengar ancaman musuhnya itu, Axelle langsung menatap ke seluruh sudut ruangan itu. Dia baru sadar jika dia hanya seorang diri, sedangkan lawannya begitu banyak dan memiliki senjata yang lengkap.


"Kau tidak akan bisa menang melawan ku jika berurusan dengan pertempuran. Kau memang memang dalam perkelahian dan juga balapan, tapi tidak jika di hubungkan denga pertempuran besar seperti ini," ucap ketua geng motor itu tersenyum sambil menodongkan senjatanya bersiap untuk menembak Axelle.


Dor.....


Bersambung......

__ADS_1


__ADS_2